Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
BONCHAP 7


__ADS_3

Hingga mobil mereka berhenti saat di perempatan lampu lalu lintas sedang menyala warna merah. Dengan malas Sesil melirik namanya. Kemudian bola matanya memutar ke sebuah mobil yang sama sekali tidak asing baginya.


Ya, itu adalah mobil Dion!


Seketika Sesil menegakkan kepala ia menekan pembuka kaca dan untung saja tidak dikunci.


Tepat di seberang sana, Dion tampak fokus menatap depan. Sedangkan bagian kaca terbuka terlihat Zika sedang bicara entah apa yang dia bicarakan.


Dengan cepat Sesil membuka kaca yang menjadi penghalang antara wajahnya dan Dion. Setelah terbuka ia berteriak senyaring mungkin.


"Dion!"


Margaretha sedari tadi sibuk dengan ponsel pintar miliknya seketika menoleh.


"Hai kau! Kunci jendelanya!" pekiknya Pada bodyguard yang menyetir.


Namun sebelum kaca itu berangsur naik Sesil kembali berteriak.


"Dion!"


Jika sebelumnya Dion tidak mendengar kini ia langsung menoleh ketika mendengar suara yang tidak asing lagi memanggilnya.


"Dion!"


Dan kali ini menoleh ke arah mobil berwarna putih hanya dua meter dari mobil yang ia kendarai.


"Sesil?" Ia melihat sekilas namun sayangnya kaca sudah tertutup sempurna.


Namun Dion tau yang di dalam mobil itu Sesil.


"Ada apa Dion?" tanya Raka. Saat melihat gelagat yang aneh pada Dion.


"Aku melihat Sesil di dalam mobil itu Tuan," tunjuknya ke arah mobil berwarna putih itu.


"Kenapa kamu tidak turun untuk memasukkan?"


Dion merasa perkataan Raka benar. Ia membuka pintu sampingnya namun sayangnya sebelum melangkah rambu lalu lintas berubah menjadi hijau.


Mobil klakson terdengar saling bersautan. Tidak sabar agar ia yang berada di barisan depan menjalankan mobilnya. Sementara mobil yang membawa Sesil sudah melaju lebih dulu.


"Dion, labih baik kita kejar saja mobil itu!" titah Raka.


Dion langsung masuk segera menancap gas. "Tapi bagaimana dengan penerbangan Anda, Tuan?" tanyanya.


"Itu tidak penting. Yang terpenting adalah kamu harus mengejar Sesil."

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi Dion melajukan mobil dengan kecepatan kencang. Raka memindahkan posisi Zika berada di tengah dan memeluk mereka karena takut jika terkena goncangan.


Mobil berwajah hitam itu menyelip beberapa mobil pengendara lainnya hingga jarak mobil berwarna putih itu begitu dekat.


Mengetahui mobil Dion sudah mendekati mobil mereka, bodyguard Margaretha melajukan mobil lebih cepat lagi. Untung saja mobil Dion mampu mengimbangi.


Hingga menyelip dan memberhentikan tepat berada di depannya. Tanpa sadar mereka berhenti tepat di hadapan bandara internasional.


Dengan emosi membara, Dion keluar dari mobil. Dia ingin lihat siapa yang coba-coba mau membawa Sesil pergi darinya itu.


Sebelum ia sampai, Margaretha keluar dari dalam mobil. Disusul Sesil langsung menghambur memeluk Dion. Seolah membutuhkan perlindungan.


"Oh ... jadi kamu laki-laki yang sudah memaksa anak saya untuk menikah denganmu?" Margaretha memandang Dion sinis.


Dari perkataannya Dion sudah bisa menyimpulkan kalau wanita di hadapannya kini adalah Mama Sesil.


"Iya, saya adalah suami Sesil, Tante."


"Heh, jangan pikir aku tidak tau apa yang sudah kamu perbuat sama anak saya ya. Aku tau semua, kamu sudah berlaku kasar pada Sesil, kamu juga mengurungnya di dalam rumah reotmu itu!"


Pandangan Dion terarah pada Sesil. Apa semua itu Sesil yang mengatakan?


Dion melepaskan lingkaran tangannya di bahu Sesil sontak mendapat sebuah gelengan. Sebelum tangan Sesil disentak oleh sang Mama.


"Cukup Ma!"


Sesil berteriak membuat dadanya naik dan turun. Sudah cukup mamanya terus menghina Dion. Kali ini ia tidak akan terima.


"Kamu berani bentak mama, Sesil?"


"Aku tidak membentak kalau mama tidak keterlaluan." Sesil masih mengatur napasnya yang memburu.


"Tapi kan kamu juga tidak mencintai Dion, Sesil! Buat apa kamu memilih tinggal bersama dia?" cerca Margaretha.


"Tapi aku mencintainya, Tante." Dion mulai membuka suaranya.


"Cinta kamu apa cukup membahagiakan anak saya?" lagi-lagi wanita paruh baya itu berdecih.


"Lagi pula Sesil tidak mencintai kamu, jadi lebih baik kalian sudahi saja hubungan ini." Margaretha menarik tangan Sesil.


"Ayo Sesil, kita pulang. Bisa ketinggalan pesawat kalau kamu terus banyak bicara." Tanpa peduli ia menarik Sesil diikuti dua bodyguardnya.


"Berhenti Tante." Dion memegang pergelangan tangan Margaretha kemudian tangan Sesil terlepas.


"Tante tidak bisa bawa Sesil, dia istri saya."

__ADS_1


Margaretha mencibir apa yang dikatakan Dion.


"Dion benar, Ma," sela Sesil, "Dan kata siapa aku tidak mencintai Dion?"


Bola mata Dion dan juga Margaretha memutar menatap Sesil secara bersamaan.


Pun dengan Sesil, ia menatap Dion lekat kemudian ke arah sang Mama.


"Aku mencintai Dion, Ma."


Wajah Margaretha yang semula sinis tiba-tiba pipinya mengkerut. Seulas senyum terukir dari wajahnya.


"Selamat ... selamat ...." ucapnya antusias.


Dion dan Sesil saling melempar pandangan terheran-heran melihat sikap sang mama.


Kemudian Raka menggendong Zika dan tangan satunya menggandeng Zia menghampiri mereka semua.


Dion dan Sesil semakin bingung dibuatnya.


"Kalian pikir kejadian ini kebetulan begitu saja?" tanya Margaretha sambil terkekeh.


"Maksud Mama?" timpal Sesil. Mendapat sebuah senyuman tersungging dari Mama.


"Selama beberapa hari mama sudah berada di Indonesia. Dan mama sengaja tidak memberi tahu kamu."


Sesil melongo merasa betapa bodohnya telah dibohongi. "Jadi semua ini rencana--?" Sesil menoleh ke arah Raka dan juga Zia yang hanya tersenyum.


"Iya, semua ini rencana Mama dan juga mereka berdua."


Dion seketika menghela napas lega. Akhirnya ini semua hanya drama yang diciptakan oleh ibu mertuanya.


"Dion, aku beberapa hari menyelidiki asal-usulmu. Dan aku juga diam-diam mengikuti kalian saat malam-malam ke rumah sakit bersalin. Mama sangat senang saat mengetahui Sesil telah hamil, artinya sebentar lagi mama akan punya cucu." Margaretha berbicara dengan mata berbinar bahkan berkaca-kaca karena terharu.


"Nyonya Margaretha tadi pagi datang ke rumah. Dan beliau kecewa ketika kami mengatakan kalau Sesil tidak memiliki perasaan padamu, Dion. Hingga pada akhirnya kami bertiga menyusun rencana drama ini. Dan akhirnya kami berhasil membuat Sesil mengatakan cintanya. Selamat Dion." Raka tersenyum sambil memeluk Zia.


Wajah Sesil bersemu merah karena malu. Ia tidak menyangka akan mengungkapkan perasaannya dengan cara seperti ini, bahkan menjadi tontonan orang banyak. Sesil yang menunduk itu pun seketika terperanjat ketika tiba-tiba Dion mendekap memeluk dengan erat.


Sontak membuat orang-orang yang menyaksikan ikut terharu. Margaretha memasrahkan Sesil sebelum tebang ke Sidney pada Dion. Dia tidak mempermasalahkan tentang harta, melihat anaknya bahagia itu sudah merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.


Mereka semua kembali melanjutkan urusan masing-masing. Margaretha pulang ke Sidney, sementara Dion membawa Sesil pulang ke rumah karena kondisinya masih mual-mual.


Raka membawa Zia dan juga Zika ke Bali untuk menghabiskan waktu berlibur yang sebelumnya sudah berkonsultasi dengan dokter.


Tamat ....

__ADS_1


__ADS_2