
Raka memulai hari pertama di perusahaannya lagi. Berkas-berkas mulai berdatangan dibawa oleh staf khusus yang memasuki ruangannya. Tak lupa, sebelum ia memulai aktivitas memajang foto Zia, dia dan Zika di meja hadapannya. Memandang sejenak lalu beraktivitas membuka berkas-berkas yang menumpuk yang harus diperiksa.
Dion memasuki ruangan bosnya itu tampak kaget karena ia menyangka Raka belum ingin pergi ke kantor. Tetapi ia senang saat bosnya itu mulai beraktivitas normal kembali. “Selamat pagi, Tuan.” Ia tersenyum masuk membawa sebuah dokumen di tangannya.
“pagi Dion.” Raka menunjuk kursi dengan dagunya mempersilahkan Dion duduk.
“Saya sangat senang melihat Anda kembali ke kantor lagi, Tuan,” ucapnya seraya tersenyum.
“Perusahaan membutuhkanku, Dion. Oh, ia. Bagaimana dengan Sesil semalam?” tanya Raka.
Dion menyeringai mengingat kejadian semalam. Nyatanya ia benar-benar ingin membuat Sesil menjadi istrinya setelah Raka dan Zia kembali ke rumahnya, ia segera membawa Sesil ke apartemen miliknya.
“Kamu mau bawa aku ke mana, lepaskan aku!” Ia terus saja menarik Sesil untuk masuk ke dalam apartemennya. Sekuat tenaga gadis itu meronta akan tetapi hasilnya sia-sia tenaga Dion lebih besar darinya.
Sesampainya di dalam apartemen Dion segera mengunci pintu dengan kode keamanan yang dirahasiakan. Ia tidak ingin wanita yang sudah ia kagumi dari semenjak lama itu keluar dan pergi dari sisinya. Ia tidak menyangka kalau Raka menyetujui ide konyol darinya karena menikah dengan dokter Sesil bagai keajaiban yang sukar didapat.
“Lepaskan aku pria sialan, aku mau keluar dari sini!” bentak Sesil, menggedor-gedor pintu mencoba membukanya. Tetapi hasilnya nihil karena hanya Dion yang bisa membukanya.
“Kamu milikku, Sesil. Tidak akan bisa pergi dari sini,” ucapnya Dion dengan santai berlalu duduk di kursi bersandar dan melipat kedua kaki dengan santai.
“Buka pintunya! Kamu belum tahu siapa aku? Aku bisa menuntutmu dengan tuduhan penculikan!”
“Laporkan saja, kalau kamu bisa. Nyatanya kamu sedang di sini tidak bisa keluar sekarang,” balas Dion menyeringai detik berikutnya ia beranjak dari kursi berjalan dengan elegan ke arah Sesil.
Perempuan itu ketakutan bergetar hebat. Berjalan mundur untuk menghindari Dion, akan tetapi pergerakan ke belakang terkunci saat ia ter impit dinding sedangkan Dion tepat berada di hadapannya.
“Mau apa kamu, menyingkir dari hadapanku, aku tidak mau melihatmu!” Ia bergetar hebat bercampur melawan dengan kemampuan yang tersisa.
__ADS_1
Tanpa menjawab Dion segera membekap mulut dan hidung Sesil dengan sapu tangan yang sudah ia siapkan. Sekuat tenaga perempuan itu memberontak mencoba melepaskan tangannya tapi sia-sia. Dion terus saja membekap hingga pernapasan Dokter Sesil mulai melemah tenaga yang ia gunakan untuk melawan pun mulai memudar.
Hingga napasnya mulai sesak akibat akses oksigen ditutup oleh tangan Dion. Pandangan Sesil mulai meremang tubuhnya terkulai lemas. Bruk! Ia jatuh pingsan dalam pelukan Dion.
Lelaki itu menyeringai akhirnya ia bisa memiliki Dokter Sesil pujaan hati seutuhnya. Ia tahu ini jahat akan tetapi untuk cinta tidak ada salahnya bukan?
Ia segera mengangkat tubuh Dokter Sesil yang tidak sadarkan diri itu ke atas ranjang hati-hati selayaknya barang berharga. Setelah meletakannya ia menyeringai ada hal licik yang dia rencanakan.
Hingga pagi hari tiba. Sinar matahari menyilaukan mata Sesil karena gorden terbuka sempurna cahaya yang masuk langsung mengarah ke ranjang posisi ia tidur. Ia menyilang kedua tangannya untuk menutup mata.
Seorang di kursi sedang menatap penuh pesona sembari memegangi gelas berisikan wine yang sesekali ia sesap. Hingga mata Sesil tertuju padanya yang membuat dia baru menyadari kalau saat ini sedang ada di tempat asing.
Ia mengintip tubuhnya yang berbalut selimut berwarna coklat tua. Ternyata ia dalam keadaan tanpa busana. Ah, tidak apa-apa yang dilakukan oleh pria sialan itu!
Sesil meremas rambutnya frustrasi lelaki yang berada di sofa itu benar-benar sudah membuat hidupnya hancur. Ia tahu, bersalah karena sudah mengusik kehidupan rumah tangga Raka. Tapi, haruskah ia mendapatkan hukuman seperti ini?
Setelah meneguk sisa wine di gelas Dion meletakkan di meja. Detik berikutnya ia berjalan ke arah ranjang. Bukannya takut dengan tatapan Sesil justru ia tampak meremehkan mata perempuan yang tampak mengancam itu.
Ia duduk di hadapan Sesil yang bersandar di punggung ranjang. Tersenyum miring menatap tubuh Sesil dari atas sampai bawah. Membuat perempuan itu menggenggam erat selimuti menutup tubuhnya.
“Aku tidak menyangka, kalau kamu seperti ini br*ngsek! Kamu sudah membuat kehidupanku hancur! Sekarang pergi dari hadapanku, pergi!” Sesil menjauh dari posisi Dion. Ia bergetar hebat.
Ada rasa iba terlintas di benak Dion. Tapi ia segera membuang pikiran itu lalu berkata, “Aku akan pergi dari sini, Sesil. Tapi ada hal yang harus kujelaskan padamu.”
Ia beranjak dari ranjang menuju nakas mengambil ponsel layar sentuh miliknya. Ia kembali duduk di sebelah Sesil membuat perempuan itu ter jingkat dengan kewaspadaan menggeser tubuhnya. Dion tersenyum miring.
“Lihat ini baik-baik.” Ditunjukkannya sebuah foto Sesil dan dirinya tanpa busana ada Beberapa foto hingga ia menggeser jari beberapa kali untuk memperlihatkan setiap gambarnya pada Sesil.
__ADS_1
Sesil benar-benar syok melihat itu semua ia hanya membekap mulutnya sendiri tidak bisa berkata-kata lagi. Dalam sekejap lelaki di hadapannya ini benar-benar membuat hidupnya hancur. Ia menggeleng frustrasi seperti tidak mampu melihat foto-foto itu.
Kalau dia harus bersujud pada Raka dan Zia untuk meminta maaf ia akan lakukan. Tapi ia minta, supaya mengembalikan seperti semula dan berharap ini hannyalah mimpi’.
“Kamu sudah lihat sendiri foto-foto kita semalam, kan?” Dion mematikan layar ponsel lalu meletakkannya ke atas nakas.
“Kamu benar-benar bre*gsek! Aku tidak akan memaafkanmu sampai kapan pun, pria sialan!” Mata Sesil menetap tajam hingga urat-urat di dahinya terpampang jelas.
“Mungkin kamu bisa bilang begitu, tapi suatu saat. Kamulah yang akan mengejar meminta disentuh olehku,” cibir Dion.
“Dasar lelaki sial-” tangan Sesil yang terangkat ingin menampar segera di tangkap oleh Dion.
“Kamu dalam keadaan tidak berdaya saat ini, jadi jangan macam-macam ingin menamparku.” Ia melepaskan tangan Sesil dengan kasar.
“Kamu tahu, apa yang akan kulakukan dengan foto itu, Sesil?”
Sesil membuang wajah tidak akan peduli apa pun yang dikatakan oleh lelaki itu.
“Aku akan menyebarkan foto-foto ini ke segala sosial media. Mereka pasti kenal siapa perempuan yang sedang tidak menggunakan pakaian itu. Dan selanjutnya aku tidak bisa memperkirakan apa yang akan terjadi, bisa saja—”
Sesil segera membalik tubuh menyatukan kedua tangannya. “Aku mohon jangan lakukan itu, Dion. Akan kulakukan apa pun, asal jangan sebarkan foto-foto itu. Keluargaku di luar negeri bisa kecewa kalau melihat itu,” ucapnya memohon.
Dion menyeringai entah sudah beberapa kali menarik bibirnya itu untuk menyeringai pagi ini. Jawaban seperti inilah yang diinginkan Dion, Sesil memohon dan dia akan memanfaatkannya.
Jenny : Hayo siapa yang jadi kasihan sama Dokter Sesil ngaku? hahahaa
Like, komen Vote jangan dilupakan ya kalau masih mau cerita berlanjut 🙏
__ADS_1