
Dion memanggil beberapa petugas kebersihan untuk membersihkan rumah Raka yang teramat berantakan. Banyak kaca-kaca berserakan dan ada darah Neona akibat menyayat tangannya sendiri menetes di sana. Beberapa orang mulai sibuk membereskan sedangkan Dion menemani Zika bermain di ruang tengah.
Kalau Raka entahlah, dari semenjak dua jam lalu membawa keluar Zika menitipkan pada Dion ia belum keluar sampai saat ini.
"Apa yang kau lakukan? Sudah kukatakan kalau aku baik-baik saja, Papi sayang ...." Zia berulang kali mendesah menarik napas panjang saat Raka mulai posesif memeriksa setiap titik anggota tubuhnya.
Kini Raka memeriksa bagian punggung menatap dalam-dalam seolah tidak ingin terlewat sedikit pun. "Kau sudah melarangku untuk memanggil dokter, maka dari itu aku harus memeriksamu sendiri. Menurutlah!"
Zia melirik malas menghembuskan napas panjang. Suaminya itu sepertinya sedang mencari kesempatan. Kini tangan kekar itu berangsur membelai rambut menyelipkan ke sisi leher lainnya.
"Neona tidak menyakitiku di sana, tapi dia hanya menarik rambutaku saja."
"Benarkah? Sebelah mana? Sebelah sini? Sini? Sini?" Raka meraba kepala Zia. Bukan mengurangi rasa sakit, justru suaminya itu membuat rambut berantakan dan tambah sakit.
"Tidak perlu berlebihan, Raka. Aku hanya kesakitan sedikit tadi, sekarang sudah tidak lagi." Zia merapikan rambut yang berantakan ulah Raka.
"Diamlah, aku akan memeriksa semua anggota tubuhmu karena sebelum memastikan sendiri aku tidak akan yakin." Tangan Raka mulai bergerak aktif melepas kancing piyama berbahan satin itu satu per satu.
"Aku bersungguh-sungguh, tidak ada yang terluka bahkan aku baik-baik saja kini."
"Seharusnya kau menghawatirkan Zika, bukan aku."
Raka menutup mulut dengan bibir sehingga ia bungkam tidak bicara lagi. "Cukup tangganku yang bekerja, kau cukup diam saja," ucapnya setelah menyudahi tautan mesra itu.
Dan Raka melanjutkan memeriksa anggota tubuh Zia, memastikan kalau tidak ada satu pun kulit istrinya itu yang tergores.
Di ruang tengah Dion dan Zika sedang asik melukis dengan posisi mereka berdua duduk di lantai, sedangkan kedua tangan berada di atas meja. Zika sedang sibuk mewarnai di atas kertas bergambar sebuah kartun. Mama Clarys datang mengenakan celana kulot berwarna putih, dan pakaian bercorak bunga sembari menenteng tas branded berwarna coklat.
Ketukan sepatutnya menggema membuat Dion seketika menoleh dan beranjak dari tempat duduk, berdiri untuk menyambut. "Selamat sore, Nyonya," sambutnya sedikit membungkuk.
__ADS_1
"Dion, bagaimana keadaan, Zika? Dan kenapa semua ini bisa terjadi?" tanya wanita yang sebentar lagi mendekati usia 50 tahun itu.
"Oma ...." Zika berlari dari balik Dion menghambur memeluk Claris berjongkok untuk mempermudah memeluk cucunya.
"Zika, kamu tidak apa-apa, sayang?" tanyanya membelai rambut cucu satu-satunya itu.
Zika menggeleng hingga rambut lurus dan panjangnya ikut mengombak. "Tadi ada tante jaat, Oma, Zika takut," ucapnya berusaha menceritakan semua pada Oma Claris.
"Kasihan sekali cucu Oma ... sini, sayang." tubuh gadis mungil itu didekap oleh Oma.
Setelah beberapa saat pelukannya dilepas, mama Claris menaikkan pandangan ke arah Dion yang berdiri menunduk di belakangnya Zika.
"Dion, bagaimana ini bisa terjadi?" tanyanya. Cukup kata singkat tetapi mencangkup semua pertanyaan dan membuat Dion harus menjelaskan se detail mungkin.
Dion menceritakan semua, walau tidak secara persis pada awalan. Karena hanya Zia yang tahu. Claris ikut geram mendengar cerita dari sekertaris anaknya itu. Ia memang mengenal keluarga Neona sudah semenjak lama, mereka memang dikenal sebagai keluarga terpandang dan sukses. Walau sangat sombong mereka berhasil menembus pasar internasional.
"Semoga setelah ini tidak dipersulit." Karena Claris tahu betapa susahnya saat berurusan dengan mereka. Tapi ia yakin, putranya yang tampan menjadi kebanggaannya itu pasti bisa menghadapi Johan.
"Tuan dan Nona sedang ada di kamar, Nyonya. Sepertinya Nona butuh ketenangan dan Tuan sedang menenangkan."
Claris menaikan sebelah alisnya. "Ketenangan apa yang kamu maksud?"
Dion menggeleng tidak mau menjawab. "Saya juga kurang paham, Nyonya."
Kemudian Claris menaiki tangga melihat situasi. Ada empat orang laki-laki berada di sana sedang sibuk membersihkan pecahan kaca. Claris menghembuskan napas dari mulut detik berikutnya menggeleng. Neona memang benar-benar wanita gila.
Mama Claris berjalan dengan hati-hati melewati pecahan sebuah guci besar menuju ke arah kamar Zia. Sebelum ia melihat keadaan menantunya itu tidak akan tenang. Bagaimana bisa ada kekacauan sebesar ini menimpa anak menantu dan cucunya.
Claris menggeleng setelah kemudian menoleh untuk mengetuk pintu kamar. Cukup lama wanita itu berdiri di depan furniture kayu berwarna coklat menunggu sang empu membukanya.
__ADS_1
"Ke mana Raka dan Zia? Apa mungkin mereka tertidur?" tebaknya. Kemudian menoleh ke belakang memerhatikan orang-orang yang sedang bebersih.
"Hei, itu, di sebelah sana. Jangan sampai ada pecahan kaca sedikit pun tertinggal! karena kalau mengenai cucuku bisa bahaya." Ia sambil menunjuk-nunjuk pecahan yang tercecer.
"Baik Nyonya." Seorang lelaki muda itu membersihkan lebih detail lagi.
Tidak lama berselang pintu kamar terbuka. Claris menoleh dan Raka berdiri di ambang pintu dengan penampilan kemeja berwarna navi dan celana panjang terlihat begitu lusuh.
"Raka, di mana Zia? Aku tadi melihat di berita tv nasional kalau ada seorang wanita mengacaukan rumah kalian, kenapa bisa seperti ini?" walau tadi Dion sudah menjelaskan akan tetapi Claris masih ingin mendengar dari bibir putranya sendiri.
"Dia adalah wanita gila, Ma. Dia bahkan yang mengirim bunga ke rumah mama tempo hari."
Claris membekap mulutnya sendiri. "Jadi bunga yang kusangka dari Zia ternyata dari dia?" Raka mengangguk.
"Setelah ini kamu jangan biarkan Zia dan Zika di rumah sendirian. Atau lebih baik biar tinggal di rumah mama saja?"
"Tidak ma." Zia berbicara dari arah belakang Raka mengenakan handuk kimono berwarna putih sedangkan rambut basah habis keramas. Raka sedikit memiringkan tubuhnya membuka akses Zia dan Mama Claris untuk bersitatap.
"Aku tidak apa-apa, Ma. Jadi mama tidak perlu khawatir."
"Tidak perlu khawatir bagaimana? Kalian baru saja mempertaruhkan keselamatan dan Zika pasti juga akan merasa tidak aman." Claris benar-benar heran bahkan Zia terlihat santai seperti tidak terjadi apa-apa tadi.
"Begini saja. Bagaimana kalau mulai sekarang menyewa beberapa pelayan laki-laki dan perempuan dan mama juga akan mencari pengasuh untuk menjaga Zika. Dengan begitu kalian tidak akan kesepian lagi saat Raka tidak ada di rumah," usul mama Claris.
"Tapi Ma--"
"No ... No ... No." Claris kekeh mengayunkan jari telunjuk mencegah Zia bicara, menentang atau menolak. Mau tidak mau dia sendiri yang akan mencari pelayanan dan pengasuh. Untuk ini ia tidak boleh main-main.
...***...
__ADS_1
Kalau aku sih gak mau daftar jadi pelayan/pengasuh. author maunya daftar jadi pelakornya Rakaš¤£
Ayo siapa yang belum vote versi baru cus. Makasih yang sampai saat ini masih setia dukung author berkarya di nopeltonš