Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 27


__ADS_3

Arini membawa pulang anaknya ke rumah yang terletak di perumahan tidak tergolong mewah hanya memiliki tipe 45 yang memiliki luas 45 meter persegi. Rumah itulah


yang selama ini menjadi tempat tinggal Arini membesarkan anaknya seorang diri. ia diusir oleh keluarganya saat mereka mengetahuinya sedang mengandung di luar nikah. Cukup lama ia bersembunyi dari masa karena malu di ibu kota.


Sampai akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan kota yang telah membuatnya salah


jalan itu ke tempat tinggalnya sekarang. Di saat wanita hamil bermanja-manjaan mengidam ini dan itu yang harus dituruti


suaminya, tapi itu tidak berlaku dengan Arini. Di saat hamil besar ia harus merintis usaha mulai dari nol karena kota yang kini ditinggali sangat baru untuknya. Ia bahkan harus rela bergadang untuk menyelesaikan proyek yang baru ia garap sewaktu itu.


Kadang kala ingin rasanya meminta pertanggung jawaban pada Rio. Tapi itu semua akan sia-sia karena Rio sudah pernah mengatakan saat berhubungan dengannya dia tidak pernah


menganggap Arini yang ada di sana melainkan Zia kekasihnya. Karena Zia selalu menolak Rio dulu saat lelaki itu mengajaknya berhubungan badan. Lalu dengan


bodohnya Arini menerima Rio saat datang padanya karena ia sangat mencintainya. ia telah dibutakan oleh cinta, cinta yang tidak akan pernah dimiliki untuk selamanya.


Butiran bening mengalir dari manik yang sedang menatap seorang anak laki-laki duduk di sofa. Sedangkan dia berlutut di


bawahnya. Hingga tangan mungil itu menyapu pipi yang telah dibanjiri mata. Ia pun tersenyum dalam tangisnya.


“Mom, jangan nangis.” Anak kecil laki-laki yang bernama Ersya Adelard Abraham yang memiliki arti gagah berani itu mencoba menghentikan air mata mamanya yang terus menetes.


“Mam, jangan nangis lagi ya, nanti Ade pukul siapa yang buat mom nangis.”


Guratan senyum terukir dari wajah Arini setidaknya ia bangga mempunyai seorang putra yang akan selalu bersamanya. Putra yang ia pertahankan walau keluarganya menyuruh untuk menggugurkannya. Ia rela meninggalkan semua hanya untuk Ersya anak laki-laki di hadapannya kini.


Wajahnya memang sangat mirip dengan Rio. Berkulit putih, alis tebal, rambut lurus tidak ada perbedaan antara mereka berdua.


Arini tersenyum mengusap pipi bulat mengemaskan itu lalu berkata, “Mom tidak menangis, sayang. Mom, hanya takut kehilangan kamu. Bukankah sudah mommy bilang jangan keluar dari kantor. Tapi kenapa Ade tiba-tiba keluar? Bagaimana kalau tiba-tiba mobil menabrakmu tadi, bagaimana kalau—“ ia tidak sanggup membayangkan jika sesuatu yang buruk menimpa anaknya. Karena di dunia ini hanya dia orang yang bersamanya sampai saat ini.


“Mommy tidak mau kehilangan kamu, sayang. Jangan lakukan itu lagi.” Ia mendekap kepala Ersya menenggelamkan di dadanya. Disertai isak tangis ia menciumi kepala anaknya itu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian ia menjauhkan wajah Ersya menangkup untuk menatap langsung manik polos tanpa dosa itu. “Lain kali jangan lakukan itu lagi ya, sayang.” Ia menggeleng samar yang dilakukan putranya baru saja memang membuat jantungnya hampir terlepas.


“Ade janji, Mom. Ade tidak akan nakal lagi, asal mom jangan nangis lagi.” Ucapan polos anaknya itu membuat hati Arini sejuk. Ia mengusap air matanya sendiri lalu


kembali memeluk tubuh anak kecil yang lumayan berisi itu.


Di tempat lain rasa penasaran merongrong hati Rio untuk mencari informasi perihal Arini. Karena sudah cukup lama perempuan itu menghilang tidak bertemu dengannya semenjak terakhir kali pertengkaran hebat karena yang melibatkan perasaannya.


Ia mengikuti ke mana mobil Arini melaju dengan kecepatan menyesuaikan supaya tetap bisa memantau dari jauh tanpa sepengetahuan wanita itu. Setelah melewati beberapa tikungan dan persimpangan akhirnya mobil Arini berhenti di sebuah rumah berukuran mini malis.


Tanpa keluar dari mobil Rio memantau Arini dan anak kecil itu masuk ke dalam rumah. Sudah pasti ini pasti tempat tinggalnya saat ini. Dorongan rasa ingin tahu Rio semakin besar, ia turun dari mobil dengan ragu-ragu ingin mengetuk rumah tanpa pagar itu. Secara bersamaan seorang laki-laki paruh baya menghampirinya.


“Maaf Anda siapa ya, Tuan? Saya tidak pernah melihat sebelumnya.” Lelaki itu menelisik penampilan Rio.


“Saya adalah teman perempuan yang bernama Arini. Kalau boleh tahu, apa benar dia tinggal di sini?” tanya Rio berpura-pura tidak tahu.


“Iya benar, ini adalah rumah Mbak Arini. Saya adalah penjaga kompleks ini, apa perlu saya panggilkan mbak Arini, Tuan?”


“Ah tidak perlu, pak. Nanti saya akan mengetuknya sendiri. Oh ia pak, kalau boleh tahu apa dia di sini tinggal bersama seseorang. Maksud saya keluarganya mungkin?”


“Saya pikir anda adalah suaminya. Karena wajah Anda dan anak mbak Arini sangat mirip.”


Benarkah? Benarkah anak kecil yang hampir ia tabrak tadi mirip dengannya? Atau jangan-jangan—dia adalah Rio segera beralih menatap rumah Arini. Tanpa memedulikan penjaga tadi ia segera mengetuk-ngetuk pintu.


Berkali-kali menekan tombol yang terletak di samping pintu. Kalau memang itu anaknya kenapa Arini selama ini menyembunyikan darinya?


Hingga suara anak kunci terdengar beberapa saat kemudian pintu terbuka. “Rio?” Arini menaikkan sebelah alisnya saat tanpa ia duga Rio berada di depan rumahnya.


“Arini, kamu tidak boleh bohong padaku, katakan sejujurnya anak siapa yang bersamamu itu? Apa mungkin dia anakku?”


Tatapan Arini seketika kosong saat mendengar kalimat Rio. Jangan sampai lelaki itu kalau Ersya adalah anaknya, kalau sampai itu terjadi bagaimana kalau Rio mengambil putranya itu sedangkan Rio menikah dengan Vita. Arini tidak bisa membiarkan itu terjadi.

__ADS_1


Ia menyeringai untuk menghilangkan kegugupannya. “Siapa bilang dia anakmu. Dia adalah putraku,” ucapnya.


“Iya, itu dia anakku juga kan, Rin?!” Rio meremas rambutnya.


“Bukan.”


“Aku yakin dia adalah anakku. Karena kamu melakukan itu denganku untuk pertama kalinya.”


“Kalau aku bilang bukan, ya bukan! Lagi pula kenapa sih, kamu bertanya seperti itu? Tidak penting dia anak siapa, yang terpenting dia adalah putraku.” Arini memalingkan wajah malas melihat Rio dari ekor matanya.


“Aku perlu tahu, Rin.”


“Sepenting itukah? Jalani saja, hidupmu jangan mengusik kehidupan pribadiku.”


Ada yang menyerecus di dasar hati Rio saat Arini berkata seperti itu. “Rin, aku minta maaf—”


“Tidak perlu.”


“Perlu, Rin. Aku sebentar lagi akan menikah, jangan sampai hubungan masa lalu kita mengganggu masa depan kita.”


Sakit hati Arini mendengar semua itu dari Rio. Meskipun selama ini ia mendengar kalau Rio akan menikah dengan adik Raka tapi baru kali ini ia mendengar dari bibir lelaki itu sendiri.


“Aku tidak peduli. Dan aku tidak akan mengusik hidup siapa pun. Tolong pergi dari sini, aku mau istirahat.” Sebelum Rio berucap Arini menyatukan kedua tangannya.


“Pergilah, jangan pernah muncul di hadapanku lagi.”


Tiga sekawan ini hidupnya menderita semua ya. kasihan aku lihatnya🤭


request dong gisss cerita siapa yang mau didulukan?


Arini, Rio dan Vita.

__ADS_1


Dion dan Sesil atau Zia dan Raka🤔


Jangan minta Sita sama Erick karena masih di sebelah ( Love Scenario)


__ADS_2