
Sore hari langit menggelap angin mulai bertiup kencang. Sopir Raka segera melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah. Kebiasaan di rumah akhir-akhir ini membuat Raka tidak tahan lama-lama berada di kantor ingin segera pulang.
Setelah menempuh tiga puluh menit dari kantor mobil Mercedez berwarna hitam milik Raka tiba di pelataran rumah. Saat masuk ke dalam Ia disambut oleh Zia dan Mama Clarys. Senyuman keluarga menghangatkan jiwanya. Tapi tidak terlihat Zika bersama mereka, di mana gadis kecil itu?
“Dari tadi Zika menunggumu, sayang. Karena kelelahan dia akhirnya tertidur.” Sebelum Raka bertanya Zia menjawab terlebih dahulu.
“Sini biar aku bawakan Jasmu.” Mengambil jas di tangan Raka lalu melingkarkan tangan menggandeng menuju kamar. Ia bergelendotan manja.
Mama Clarys sangat senang menyaksikan pemandangan di hadapannya. “Oh iya, Raka.”
Langkah Raka dan Zia terhenti mereka secara bersamaan menoleh ke arahnya.
“Ada yang ingin mama bicarakan pada kalian. Pergilah mandi dulu, kita bicara saat makan malam.”
“Baik, Ma.” Mereka berdua menaiki tangga menuju kamar. Saat pintu terbuka terlihat Zika sedang tidur dalam posisi miring dan botol dot kosong bekas susu formula tergeletak di sebelahnya.
“Dia tidur sini?” Raka menghampiri duduk di sampingnya menghadiahkan sebuah kecupan ke dahi Zika yang tidur tampak damai.
“Jangan cium dia, harusnya kamu mandi dulu.” Zia meletakan jas yang ia bawa ke sisi sofa setelahnya melangkah menuju lemari mencarikan pakaian untuk Raka.
Raka menegakkan tubuhnya duduk di tepi ranjang mengarah ke Zia. “Bagaimana dengan dia hari ini, sayang? Apa dia masih takut?”
“He em.” Zia menggeleng. “Mungkin dia butuh waktu.” Meletakan pakaian ke sebelah Raka detik berikutnya ia bergabung duduk.
“Apa kamu tahu, dia mulai mau tersenyum padaku. Aku sengaja untuk menyuruh suster pengasuh supaya menidurkannya di sini. Karena dengan begitu dia akan semakin dekat denganku.” Zia menoleh mengusap kepala Zika dengan lembut.
Melihat anak dan istrinya sangat membuat Raka bahagia hatinya merekah. Dua orang perempuan yang harus ia lindungi sampai kapan pun.
“Ya sudah, pergi madilah.” Ucapan Zia membuatnya tersentak dari lamunan.
“Sebentar lagi,” balasnya. Ia masih ingin menatap anak dan istrinya lebih lama.
“Tidak, kamu ini tidak mau menghilangkan kebiasaan buruk ya, dari dulu selalu susah kalau di suruh untuk mandi,” dengus Zia kesal. “Apa kamu mau aku dan Zika pingsan mencium aroma tubuhmu yang bau itu?” ia menjepit hidung.
“Iya, iya ... aku mandi.” Raka melirik tersenyum licik. Mencondongkan tubuhnya ke arah Zia hingga istrinya mundur ke belakang.
__ADS_1
“Kau mau apa?” tanya Zia menjauhkan wajahnya dari wajah suaminya yang terus saja maju ke arahnya. Hingga tanpa sedar detik berikutnya tubuhnya diangkat oleh Raka.
Eh, “Kau mau apa? Ayo turunkan aku!”
“Aku mau mengajakmu mandi, mau apa lagi memangnya,” kekeh Raka terus saja berjalan menuju kamar mandi.
“Tapi aku sudah mandi. Lepaskan aku.”
“Tidak akan.”
“Mommy, Daddy.”
Ah, sial! Raka segera menurunkan tubuh Zia saat mendengar putrinya memanggil. “Lain kali kau suruh Zika tidur sendiri saja di kamarnya. Kalau seperti ini aku yang tidak bisa tenang.”
Zia terkekeh lalu melangkah menghampiri Zika, duduk di sebelah gadis kecil itu mengusap rambut dengan kasih sayang. “Kamu mau apa, sayang? Kenapa bangun?”
Walau Zika masih terlihat takut-takut namun sudah mulai mau mengajaknya bicara bahkan setiap Zia bertanya dengan suara yang masih cadel itu ia terus menjawab.
“Custel, mana?” tanyanya dengan mata masih menyipit karena kesadarannya belum sepenuhnya terkumpul.
“Cika mau susu,” kata gadis kecil itu.
“Baiklah, biar Mom saja yang buat, oke?”
Zika mengangguk karena ia masih mengantuk merasakan haus ia terbangun.
***
Raka, Zia, Vita dan Mama Clarys berkumpul di ruang makan. Sambil menikmati menu makan malam ini di meja sambil diiringi bincang-bincang kecil di sana.
Vita yang cemas memikirkan keadaan Rio karena beberapa hari ini ada perbedaan sifat kepadanya membuatnya hanya menjadikan penyimak yang baik pembicaraan Mama Clarys dan Raka.
“Oh iya, Raka. Mama dan Vita ingin mengatakan sesuatu padamu.” Clarys memandang Vita dibalas dengan senyuman. Lalu kembali menatap Raka dengan tangan masih memegang sendok.
“Kami berpikir ingin mencari tempat tinggal sendiri, Raka,” ucapnya.
__ADS_1
Raka seketika menghentikan sendoknya. Memilih untuk meletekkan kembali ke piring ada aroma tidak suka di sana.
“Kenapa? Apa kalian merasa terusik karena tinggal di sini? Apa kalian tidak suka?” ia menatap Mama Clarys dan Vita secara bergantian.
Zia yang mendengar pun ikut tertegun. Untuk sejenak ia menatap Vita dan mama Clarys seperti halnya suaminya.
“Bukan seperti itu maksudnya. Ada alasan di balik ini semua, aku dan Vita pindah untuk kebaikan kalian,” ucap Clarys mencoba menjelaskan kepada Zia dan Raka yang menatapnya salah paham.
“Ini demi Zia, Raka. Karena ada kami Zika selalu mencari kami dan mengabaikan Zia ibu kandungnya sendiri. Mama tidak mau dia ketergantungan pada kami. Ini demi kebaikan kalian supaya menjalin hubungan rumah tangga yang harmonis lagi.”
Pandangan Raka melemah, mengerjapkan mata. Hal serupa juga dilakukan Zia. Mereka memang benar-benar pasangan sehati hal sekecil itu saja bisa bersamaan.
“Aku sudah mencari-cari rumah strategis, kak. Mungkin yang mempunyai jarak dari sini tidak terlalu jauh. Tahu sendiri, kan. Aku tidak bisa jauh dari Zika,” sahut Vita.
“Kalian tidak perlu pindah dari sini. Aku akan membeli rumah baru untuk kami. Rumah baru untuk membina rumah tangga dan hidup baru itu sangat bagus bukan?”
Mereka semua setuju dengan keputusan yang diambil oleh Raka. Mungkin keluarganya kecilnya membutuhkan suasana rumah baru supaya membuat hati Zika semakin dekat dengan Zia.
“Bagaimana, kamu setuju kan, sayang?” tanyanya pada istrinya.
“Aku akan setuju dengan setiap keputusanmu, sayang.” Zia tersenyum lalu melanjutkan memotong makanan di piringnya.
“Oh iya, Vita,” sela Raka di saat mereka sudah mulai hening menikmati makanannya masing-masing.
“Bagaimana dengan persiapan pernikahannya kalian, apa sudah sepenuhnya siap? Rio akan segera menyelesaikan pekerjaan di sana. Setelah semua selesai dia akan pulang dan kalian akan menikah. Aku sudah tidak sabar menantikan hari itu.” Ia tersenyum membayangkan adik satu-satunya itu tersenyum bahagia memakai gaun pernikahan.
“Semua persiapan sudah selesai, Kak. Tinggal tunggu hari H saja,” ucap Vita terdengar tidak antusias karena ia masih memikirkan Rio yang selama 2 hari ini belum juga mengabarinya.
“Kak Zia.”
“Iya Vita?” Zia menoleh ke arahnya.
“Rio adalah matan kekasih kakak, kan. Apa boleh aku menanyakan sesuatu?”
Raka menatap tajam ke arah Zia. Mendengar itu kembali membuat memori masa lalunya terulang lagi. Tapi semua itu hanya masa lalu bukan?
__ADS_1