
Hari ini usia Zika tepat dua tahun, Raka berencana akan membawa gadis kecil itu ke Singapura untuk menjenguk ibunya yaitu Zia yang masih terbaring koma.
Entah sampai kapan Zia akan masih bertahan dengan komanya, karena sampai saat ini ia tidak menunjukkan perubahan sedikit pun. Tapi itu tidak menyurutkan niat Raka, lelaki itu terus bolak balik untuk menjaga Zia dan Zika.
Hidupnya kacau selama 2 tahun ini. Seolah tidak memiliki lagi semangat untuk menjalankan perusahaan. Selama ini ia hanya fokus mengurus kedua perempuan terkasihnya.
Setelah seminggu berada di Singapura Raka memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Ia sudah merindukan Zika, tawa gadis kecil itu selalu memenuhi pikirannya.
Raka sedang mandi di kamar mandi, ia ingin bersiap sebelum acara doa bersama anak-anak yatim karena usia Zika sudah menginjak 2 tahun. Ia juga ingin mendoakan Zia semoga cepat sadar dari komanya. Walau ini sudah sering dilakukan tapi ia yakin keajaiban akan datang pada saatnya.
Para rombongan anak yatim sudah berdatangan, satu per satu sudah memasuki kediaman Raka. Ruang tengah sudah di sulap layaknya sebuah aula hingga cukup luas untuk menampung ratusan anak yatim itu.
Mama Clarys sibuk mengecek bingkisan dan makanan di ruang belakang. Sedangkan Vita menyambut kedatangan para anak yatim itu dan duduk hingga acara berdoa bersama akan dimulai.
Raka keluar dari kamar dan memasuki kamar Zika untuk melihat anaknya itu apakah sudah siap atau belum.
Dan ternyata baby sister masih sibuk mengikat rambut Zika di sofa.
“Sus, apa masih lama?” tanyanya pada baby sister yang masih sibuk mengikat rambut Zika.
“Sebentar lagi, Tuan. Anda turunlah dulu saya akan membawa non Zika turun nanti setelah selesai.”
Karena suara doa sudah terdengar Raka memutuskan untuk turun lebih dahulu. Membiarkan Zika menyusulnya nanti.
“Cus.” Zika menarik pakaian baby sister dan membuat menoleh.
“Apa sayang?”
“Cus, ulang tahun itu apa cih?” tanya Zika dengan mulut kecilnya.
Pertanyaan polos Zika membuat baby sister tersenyum. “Kamu ini lucu sekali ....” ia mencubit kedua pipi Zika gemas.
“Zika, tunggu di sini sebentar ya. Sus mau ke kamar mandi dulu,” ucap perempuan yang biasa dipanggil Zika cus ( suster).
Gadis kecil itu mengangguk dan suster segera ke kamar mandi.
__ADS_1
Seorang pelayan membawa minuman di atas nampan akan menuruni tangga. Tapi tidak sengaja kakinya tersandung, sehingga membuat minuman itu tumpah. Aduh! Ia segera pergi untuk mengambil kain pel untuk membersihkan yang berada di ruang belakang.
Zika menuruni ranjang karena ia merasa sendirian berada di kamar saat melihat pintu kamar terbuka ia bergerak menuju keluar. “Papa,” panggilnya mencari keberadaan seseorang ia celingukan.
“Mama, onty ....” ia terus saja berjalan menuruni anak tangga mendekati kubangan air yang ditinggal pelayan tadi.
Mendengar suara ramai ia ingin menuruni tangga dan kakinya menginjak minuman yang tertumpah di lantai tadi, saat akan berjalan lantai itu sangat licin.
Dan....
Alat monitor detak jantung di rumah sakit tiba-tiba berubah menjadi cepat, gambar di layar itu berubah menjadi berbelok-belok.
Mata yang selama 2 tahun terpejam dengan sekuat tenaga terbuka kembali. “Anakku....” lirihnya kata itu yang pertama kali di ucapkan.
Suster yang baru memasuki ruangan melihat terkejut karena baru saja 15 menit yang lalu perempuan itu masih memejamkan mata. Perawat itu segera berlari ke luar memanggil dokter.
“Dok, pasien Zia membuka mata!” ucapnya terengah-engah saat membuka pintu ruangan dokter.
Dokter yang mendengar seketika beranjak dan berjalan sedikit berlari menuju ruangan Zia. Sesampainya benar saja yang dikatakan perawat ternyata pasien yang sudah ia tangani selama 2 tahun kini membuka mata lebar.
“Hubungi keluarganya!” perintahnya, perawat itu segera menghambur untuk menghubungi keluarga Raka.
Zia mengangguk lemah.
Dokter itu memeriksa keseluruhan memastikan kalau semua sudah baik-baik saja. Karena kejadian ini sungguh mengejutkan. Pasien yang dia anggap tidak akan bertahan hidup lagi dalam sebulan ini ternyata sadar tanpa diduga. Ini sungguh-sungguh keajaiban.
Dokter itu melakukan pemeriksaan secara berulang-ulang. Hingga menekan-nekan tombol monitor jantung sangat luar biasa kembali seperti layaknya orang normal.
Ini sungguh luar biasa, tubuh pasien kembali normal sebagaimana orang normal semestinya.
“Anakku, di mana dia dok?” tanya Zia dengan lirih karena dan lemah.
“Kami segera menghubungi keluargamu. Mereka akan segera datang ke mari setelah mendapat kabar kamu sadar.”
Dokter itu melanjutkan pemeriksaan kembali. Kejadian ini sungguh luar biasa.
__ADS_1
Di rumah Raka semua orang menghambur setelah mendapati Zika terjatuh dari atas tangga. Mama Clarys berteriak dan Vita terkejut sehingga gelas dari tangannya terlepas.
Raka segera berlari menghampiri Zika yang masih sadar dan menangis di bawah tangga. Ia segera mendekap penuh kekhawatiran. Ia sudah cukup kehilangan Zia karena koma, jangan sampai terjadi apa-apa pada anaknya itu. Kalau tidak, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri, ia tidak akan memaafkan orang yang telah lalai menjaganya.
Raka segera mengangkat tubuh Zika dan membawanya ke rumah sakit. Dalam lima belas menit perjalanan mobil yang ia kendarai tiba di pelataran rumah sakit.
Mama Clarys terlihat sangat cemas mengikuti langkah Raka yang sangat cepat.
Melihat Raka memasuki rumah sakit para dokter segera menangani Zika di ruangan UGD.
Raka harap-harap cemas menunggu di depan ruangan itu hingga terbuka. Kedua kalinya ia di posisi ini, yang pertama membuat Zia tidak sadarkan diri sampai saat ini. Apa ia akan kehilangan Zika juga?
Tidak, tidak, Raka segera membuang pikiran buruknya lalu kembali fokus menatap pintu seolah-olah bisa menembus keberadaan Zika di dalam.
“Bagaimana mana dengan Zika, Raka? Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya.” Clarys menangis terisak-isak. Menyesal, kenapa Zika tidak bersamanya tadi, kenapa ia justru sibuk menyiapkan bingkisan-bingkisan tadi.
Clarys terus saja menangis. Sedangkan Raka meraup wajahnya sendiri sebagai betapa tidak berdayanya dia.
Seharusnya ia tidak meninggalkan Zika tadi. Seharusnya ia tidak turun sebelum Zika selesai bersiap. Tapi apa yang ia lakukan? Dia lalai, sehingga anaknya itu terjatuh dari tangga.
“Maafkan aku, Zia. Aku lalai menjaga anak kita,” lirihnya. Merasa tidak menepati janjinya pada sang istri.
“Kita semua yang salah Raka.” Clarys menoleh ke arah putranya. “Kita lalai sehingga membuat Zika jatuh.” Ia kembali menangis.
Selama tiga puluh menit mereka menunggu di sana. Hingga dokter Sesil datang dengan napas yang memburu.
“Bagaimana keadaan Zika, Tante-Raka? Apa yang terjadi hingga bisa seperti ini?” tanyanya.
“Kami juga tidak tau, Sesil. Saat kami sibuk tiba-tiba dia jatuh dari tangga.” Clarys masih saja terus menangis.
Tak selang beberapa lama pintu ruang UGD terbuka. Raka, Clarys Sesil dan juga Vita yang baru sampai segera menoleh ke arah dokter yang keluar dari ruangan.
**Untuk yang suka beranggapan sok nebak, meragukan cinta Raka. Kalian gak usah ngancam-ngancam nggk mau baca atau apa lagi ya. Kenyataan aku gak mau maksa kalian buat suka kalau gak mau baca silakan ke kiri. Aku buat novel untuk orang-orang yang mau mendukungku saja.
Dan ada juga yang samakan sama novel sebelah? why?
__ADS_1
Novel ini karya dari pemikiran ku ya. Jangan pikir aku ngikutin hasil pemikiran orang sebelah yang dibilang, gak tau yang mana.
Sorry ngegas esmosi gw bukanya ngikuti alur yang masih berjalan malah pada ngacam-ngacam🤧**