
"Anda tidak perlu khawatir, Tuan. Aku akan mencari pengacara yang cukup hebat, terutama untuk melawan kasus ini."
Begitu Dion bicara Raka menganggap masalah telah selesai. Sekretarisnya itu sangat bisa diandalkan dalam hal apa pun. Lagi pula kasus ini adalah kasus yang tidak bisa kuat untuk menahannya sebagai seorang tersangka. Setelah Dion mengumpulkan bukti-bukti tentu saja akan mempermudah Raka untuk menuntut Neona dan Johan kembali.
Dion langsung menghubungi pengacara bernama Dudit Prasetyo, seorang pengacara yang cukup kompetitif dalam memenangkan kasus. Sabab, untuk melawan Johan yang begitu licik Dion harus berhati-hati dan memastikan lalai pengacara yang dia pilih adalah orang jujur.
"Saya sudah mengerti kasus ini, Tuan. Posisi Anda tidaklah bersalah dalam hal ini," ucap Dedit--sang pengacara.
"Terima kasih, Tuan Dedit. Iya memang benar, karena memang aku tidak bersalah. Neona datang ingin mencelakai istriku, bahkan dia mengancam akan membunuhnya," balas Raka.
"Lalu ... bagaimana bisa dia terluka? Ingat, dia mempunyai luka sayatan di bagian lengan. Dan pelapor mengatakan kalau Anda yang melakukannya," ujar polisi yang sedang mengintrogasi Raka.
"Apa Anda menemukan bukti untuk mendakwa Tuan Raka?" tanya pengacara.
Polisi itu mengambil surat dari dalam lacinya kemudian memberikan pada pengacara. Detik berikutnya melonggarkan punggung di sandaran kursinya.
Pengacara membaca surat visum dari salah satu rumah sakit. Setengahnya saja dia langsung memberi kesimpulan.
"Surat ini benar adanya, tapi di sini tidak menunjukkan siapa pelakunya." Ia berujar sembari melempar lipatan kertas itu ke meja.
"Kau benar, Neona menyayat lengannya sendiri. Pak dia gila," sahut Raka tatapannya mengarah pada polisi yang sedang menaikkan sebelah alisnya tampak memikirkan perkataan Raka.
"Kalau kau tidak percaya kau bisa menunggu, sebentar lagi sekretarisku akan segera sampai, dia akan menunjukkan beberapa bukti." Raka semakin membuat polisi tersebut percaya terlihat dari raut wajahnya kini berubah tidak setegang tadi.
Belum juga Raka menutup mulutnya setelah bicara, ternyata Dion datang. Ia segera menyerahkan bukti-bukti kuat tentang, pisau yang dipakai Sesil, rekaman CCTV di rumah Raka. Dan satu lagi yaitu surat pernyataan dari rumah sakit jiwa yang sebelumnya merawat Sesil dan memberi pernyataan kalau Sesil mengidap penyakit Psikopat yang merupakan gangguan kepribadian yang ditandai dengan beberapa ciri, di antaranya yaitu perilaku antisosial, tidak memiliki empati, dan memiliki temperamen yang sulit diprediksi.
Setelah menerima bukti-bukti itu pihak berwajib menyatakan Raka bebas dari tuntutan Pasal. Dan kini pihak kepolisian berbanding balik untuk menangkap keluarga Johan selain mendapat tuntutan dari Raka karena pencemaran nama baik, Johan juga tersandung kasus penggelapan uang terbukti curang atas proyek yang dimenangkan beberapa waktu lalu dengan Perusahaan Raka.
__ADS_1
"Terima kasih, Tuan Pengacara." Raka menjabat tangan pengacara sebagai tanda terima kasih.
"Sama-sama, Tuan Raka. Semoga hidup Anda dan keluarga Anda bahagia," balas Pengacara diiringi sebuah senyuman lebar. Pun disambut dengan senyuman oleh Raka.
"Papi ...." Suara Zika membuyarkan obrolan antara ketiga orang yang baru saja akan keluar ke area halaman. Zika berlari sekencang mungkin untuk memeluk Raka.
"Sayang, kenapa di sini?" tanya Raka kemudian menoleh ke belakang ada Zia dan juga mama Clarys berdiri menatapnya penuh khawatir. Kemudian Raka berdiri membawa Zika dalam gendongan.
"Kenapa kalian ke sini? Dan Siapa yang memberi tahu kalau aku ada di sini?" tanya Raka. Karena sebelumnya ia berpesan pada Dion supaya tidak memberi tahu keluarganya.
"Itu bukan masalah penting. Dan kamu tega dalam masalah sulit tidak memberi tahu mama," balas Clarys.
"Iya, kenapa kamu diam dan tidak mengatakan apa pun beberapa hari ini? Bahkan surat ancaman itu sudah ada semenjak seminggu lalu," sergah Zia.
Raka memang memutuskan untuk tidak memberi tahu Zia atau pun Mama Clarys. Sebab ia tidak ingin melibatkan mereka sehingga menambah beban pikiran dan akan semakin menambah runyam. Namun, sepertinya Raka melakukan kesalahan yaitu melupakan surat ancaman dari Johan ke sembarang tempat sehingga membuat Zia dengan mudah menemukannya.
Ia, harus berterima kasih kepada Dion sepertinya, karena selama ini pria itu sangat bisa diandalkan. Dion menggunakan kecerdasan dalam ilmu hukum yang seharusnya ia pakai sebagai seorang pengacara untuk mengumpulkan bukti-bukti. Bahkan Dion rela memilih menjadi sekretaris Raka dari pada seorang Pengacara.
Mereka semua beranjak pergi dari sana. Dion dan pengacara pergi lebih dulu ke mobil sementara Zia, Raka menggendong Zika dan juga mama Clarys masih berada di halaman kantor polisi.
"RAKA!"
Tiba-tiba mereka menoleh saat mendengar suara teriakan Neona
Sambil berlari ke arah Raka. Dalam sekejap bagai kilatan menyambar perbuatan Neona berhasil membuat Zia berteriak.
Neona mengeluarkan pisau dari tangan yang disembunyikan di bagian belakang. Kemudian dengan cepat menikam Raka hingga lelaki itu terjatuh
__ADS_1
Pun juga dengan Zika beruntung sebelah tangan Raka menahannya sehingga tidak membuat terluka.
"Pak! Tolong suami saya!" teriak Zia histeris sambil bergetar melihat suaminya bergetar.
Sedangkan Neona masih memegangi pisau yang berlumuran darah bergetar ekspresi wajahnya sangat sulit diartikan. Tangannya bergetar ingin menyentuh Raka seperti halnya seorang yang sedang khawatir, sebelum kemudian Zia mendorongnya dengan kasar.
"Pergi kamu wanita gila!" teriaknya sambil memegang Raka. Sementara Zika saat ini dalam dekapan mama Clarys yang tidak kalah shock nya melihat kejadian ini.
Beberapa polisi datang langsung mencekal Neona. Neona memberontak semakin memperlihatkan sifat aslinya.
"Anda tenangkan diri, Nona. Aku akan membawa Tuan ke rumah sakit sekarang juga," ucap Dion tak kalah paniknya. Dibantu pengacara mereka berdua mengangkat Raka ke mobil.
"Ma, bawa Zika pulang dulu. Dan tenangkan diri mama dulu, aku akan ikut Dion ke rumah sakit," ucap Zia tanpa menunggu jawaban dari mama Clarys ia masuk ke dalam mobil memangku Raka.
Mobil dikendarai oleh Dion sangat cepat sementara dikawal oleh beberapa motor polisi untuk cepat sampai ke rumah sakit.
Zia semakin panik saat suara begitu melemah sementara bagian dadanya terus saja mengeluarkan darah.
"Dion, lebih cepat lagi!" Zia berteriak bercampur rasa takut membungkus benaknya.
Dion memutar persneling kemudian menambah kecepatan. Semua orang pengendara menyingkir saat mendengar sirine dari motor dan mobil para aparat dan mobil mewah berwarna hitam berada ditengah-tengah.
"Kamu tidak akan apa-apa, Sayang ... Kamu akan baik-baik saja!" Zia terus saja menangis saat melihat Raka mulai ingin memejamkan mata.
"Sebentar lagi kita sampai, Nona!" ucap Dion sesekali menoleh dari kaca spion melihat keadaan Raka.
Ig : Samar_Jenny1
__ADS_1
Fb : Samar Jenny