Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
Episode 20 Meminta Haknya


__ADS_3

Raka dan mama Clarys berkumpul di meja makan. Suara dentingan sendok saling beradu dengan piring, pertanda betapa nikmatnya mereka makan. Malam hari pada dasarnya adalah waktunya berkumpul dengan keluarga, seperti yang dilakukan oleh seluruh anggota keluarga Raka.


Hanya satu anggota keluarga yang tidak terlihat malam ini. Yaitu Vita, entah kenapa perempuan yang berstatus sebagai janda itu terlalu sibuk dengan pekerjaannya, hingga jarang sekali makan malam dengan keluarganya.


Mungkin karena sibuk ingin mempersiapkan hari pernikahannya yang diadakan seminggu lagi. Apa lagi ditambah ia mengurus perusahaan Raka. Karena kakaknya itu belum mau meninggalkan Zia sebelum sembuh seperti sedia kala.


Raka meletekkan sendok di tangannya ke atas piring kosong, pertanda telah berakhirnya ritual makan. Ia meraih gelas yang berisikan air putih menyesapnya lalu meletakkan kembali ke asalnya.


“Apa Vita belum pulang, Ma?” tanyanya menatap sang mama yang masih mengunyah makanan.


Clarys menelan makanan di mulutnya lalu meminum air di gelas di hadapan, meletakkan di meja. Setelah mengusap bibirnya dengan sapu tangan ia menjawab, “Belum, dia beberapa hari ini memang sangat sibuk sekali. Kasihan anak itu.”


^^^Ia menatap Raka. “Dia sangat sibuk akhir-akhir ini. Mengurus perusahaannya sendiri, mengurus semua keperluan pernikahan. Raka.” Wanita itu menatap Raka lebih serius lagi. Anaknya itu membalas menautkan sebelah alisnya.


^^^


“Apa kamu tidak ingin kembali mengurus perusahaanmu lagi?” ucap mama Clarys ragu-ragu takut kalau anaknya itu akan tersinggung.


^^^“Maksud Mama ... apa tidak sebaiknya sekarang saatnya kamu kembali mengurus sendiri perusahaan itu. Bukan apa-apa, Raka. Tapi ... Mama hanya kasihan dengan Vita.”


^^^


Perkataan Clarys berhasil membuat Raka sadar, kalau ia selama ini telah memberatkan adiknya itu. Ia lupa karena Vita tidak pernah mengeluh selama ini.


“Baiklah, Ma. Mulai besok aku akan mulai pergi ke kantor. Karena Zia sudah mulai bisa berjalan jadi, aku sedikit lega meninggalkannya.”


Belum selesai mereka berucap suara ketukan kaki sepatu heels memasuki ruang makan. Vita mengenakan blezer dipadu dengan rok berwarna hitam tampak lusuh saat memasuki ruang.


“Selamat malam, Ma—Kakak,” sapanya. Di tangannya membawa beberapa berkas berwarna kuning.


“Kamu baru pulang, Vita?” tanya Mama Claris, berdiri menarik kursi membawa duduk di kursi makan.


“Makanlah.” Setelah memastikan Vita duduk dengan benar, ia kembali duduk di kursi semula.


“Tapi ... aku belum mandi, Ma.” Vita meletakan berkas di kursi sampingnya.


“Tak apa, cuci saja tanganmu dulu.” Clarys meraih piring meletakan di hadapan Vita.

__ADS_1


“Baiklah.” Ia beranjak dari kursi menuju wastafel memutar keran menekan sabun pencuci tangan. Mencuci tangan hingga bersih mengelapnya dengan handuk kecil lalu kembali ke tempat duduknya semula.


Mencium aroma makanan di atas meja membuat perutnya meronta minta diisi. Dari aromanya ia tahu siapa yang memasak semua ini. Pasti mama Clarys.


Diambilnya beberapa sayur-sayuran lalu meletakan di piringnya. Ia makan tanpa nasi dengan lahap.


Raka menatap adiknya yang sedang makan dengan lahap seperti tidak makan selama beberapa hari.


“Ma, ini enak banget ....” ucap Vita mulutnya penuh dengan makanan.


“Pelan-pelan, Vita, makannya.” Clarys heran, tidak biasanya putrinya makan seperti itu.


“Oiya, Vita. Bagaimana dengan perusahaan beberapa hari ini?” tanya Raka, membuat Vita menghentikan sendok yang akan menyuap ke dalam mulutnya.


Dikunyah makanan yang masih dalam mulutnya ditelan dengan susah payah setelahnya meraih segelas air putih di atas meja. Ia ingin segera memberi informasi pada kakaknya. Seharusnya semenjak tadi, tapi berhubung ia sedang menyantap makanan yang lezat menjadi lupa.


Setelah meminum menyisakan setengah gelas ia meletakkan di atas meja.


“Semuanya baik, kak. Tidak perlu dikhawatirkan,” jawabnya, kembali menyuap makanan ke dalam mulutnya.


Saat mengunyah dia mengingat sesuatu tentang berkas yang dibawa. “O iya, kak. Tadi ada beberapa dokumen yang perlu ditandatangani.” Dia mengambil berkas lalu berdiri memberikan kepada Raka.


“O iya, Vita. Di mana Rio? Kenapa akhir-akhir ini kalian jarang bersama,” tanya Mama Clarys, membuat Vita tersedak.


“Pelan-pelan dong, Vita.” Wanita itu mengambil air putih memberikan pada anaknya yang terbatuk-batuk.


^^^“Terima kasih, Ma,” ucap Vita setelah meminumnya.


^^^


“Hubungan kalian baik-baik saja kan, Vita?” tanya mama Clarys lagi. Raka ikut memandang Vita.


“Hemm baik kok, Ma. Karena dia terlalu sibuk, jadi ... dia tidak sempat datang ke mari,” sanggah Vita.


Mama Clarys mengangguk percaya, sedangkan Raka meletakkan map di tangannya ke atas meja lalu berkata, “Baiklah, Vita. Mulai besok biar aku pergi ke kantor, sudah saatnya kalian fokus ke hari pernikahan.”


Setelah selesai makan dan membicarakan tentang hari pernikahan Vita, Raka pergi ke kamar. Saat membuka pintu mendapati Zia mengusap-usap rambut Zika yang sedang tidur pulas di ranjang mereka.

__ADS_1


Ia mendekat duduk di samping Zia, menyelusupkan tangan di pinggang sang istri. Sedangkan wajah berada di ceruk leher sehingga membuat Zia merinding geli.


^^^“Sedang apa?” tanya Raka lirih ikut memandangi wajah Zika.


^^^


“Aku sedang mengusap rambutnya. Kamu tahu sendiri kan ... kalau dia bangun tidak mau denganku?”


Ada gelenyar kekecewaan pada diri Raka saat mendengar itu. Nyatanya dia tidak bisa sampai detik ini mendekatkan Zika dengan Zia. Putrinya itu justru semakin takut saat melihat ibunya.


Raka menarik napas lalu menghembuskannya hingga terasa di ceruk leher Zia.


“Maafkan aku ya, Zia.”


“Kenapa?”


“Karena aku tidak bisa membuat kalian dekat. Mungkin belum saatnya, aku yakin setelah Zika tahu Mamanya seperti malaikat dia pasti akan dekat dan tidak mau terpisahkan dengan kamu.”


Zia memutar bola matanya, melirik ke arah suaminya. “Memang aku sekarang seperti hantu?” tanyanya.


“Siapa yang bilang seperti itu? Kamu tetap berhati malaikat bagiku. Walau cerewet,” gumam Raka.


“Apa?” Zia menjauhkan wajah Raka dari leher untuk menatapnya.


“Tidak, aku hanya bilang kamu sangat menggoda,” ucap Raka membuat pipi perempuan di hadapannya memerah.


“Zia.” Ia kembali memeluk istrinya dengan posisi seperti semula.


“Hemm,” jawab Zia.


“Aku sangat merindukanmu, sayang.” Raka menghirup aroma vanila dari pundak Zia.


Kesehatan Zia sudah dinyatakan oleh dokter sehat seperti semula. Dan Raka bertanya apa tidak masalah kalau dia meminta hak dan melakukan hubungan suami istri.


Dokter mengatakan justru itu bagus untuk melatih jantung Zia untuk bekerja. Karena berhubungan di atas ranjang sama saja dengan olah raga. Tapi tetap dengan cara yang lembut.


Kini saatnya, pusat bagian tubuh Raka sudah menegang. Ia tidak sabar karena sudah dua tahun lebih dia menahannya.

__ADS_1


Diraih dagu Zia untuk menatapnya. Ini saatnya dia meminta keadilan untuk sesuatu di bawah sana yang seperti ingin meledak.


__ADS_2