
Dion mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju rumah sakit di mana Sesil bekerja. Suasana tampak hening tidak ada yang bersuara baik Sesil mau pun Dion.
Jalanan begitu macet banyak mobil menekan klakson saling bersahutan. Hingga Dion mendesah karena Raka dari tadi sudah meneleponnya untuk datang ke rumah mengambil berkas-berkas penting yang akan dipakai meeting.
"Sepertinya kita akan lebih banyak menghabiskan waktu di sini pagi ini," keluh Dion. Setelah menatap depan kini menatap Sesil yang sedang melihat ke arah luar jendela.
Istrinya itu tampak bahagia seolah tidak pernah melihat keadaan luar sudah bertahun-tahun padahal Dion mengurungnya hanya dalam 1 bulan.
"Apa kamu senang?" tanya Dion. Tanpa menoleh Sesil mengangguk kan kepalanya bukti kalau dia menyukai ini semua.
"Aku sangat senang sekali, Dion," jawabannya kemudian menghela napas seiring rasa mengganjal di hati yang menghilang. Kemudian Sesil menoleh menatap bola mata hitam yang sedang mematri wajahnya itu.
"Kenapa kau tiba-tiba mengizinkan aku untuk kembali ke rumah sakit untuk bekerja, Dion?" Apa lelaki ini sudah berubah untuk mengasihani dirinya?
Ataukah mungkin Dion mempunyai rencana lain di balik ini semua?
Kemudian Dion mengedipkan mata dan kembali menatap depan dengan tangan memegang stir mobil.
"Kenapa tidak menjawab ku, Dion?"
"Apa kamu tidak suka? Kalau begitu aku bisa memutar arah untuk kembali pulang bagaimana?"
"Jangan-jangan!" Sesil menggelengkan kepala cepat. Kemudian memegang lengan Dion untuk tidak memutar arah. "Kumohon lanjutkan perjalananya," pintanya dengan wajah memelas.
Satu sudut bibir Dion tersenyum tipis membentuk sebuah seringai. Kemudian menancap gas menambah kecepatan.
"Kalau kamu tidak mau aku berubah pikiran setidaknya jangan banyak bertanya," dengusnya.
"Maaf, setelah ini aku akan diam," ucap Sesil, "Aku tidak menyangka ternyata kamu lebih galak dari pada Raka." Setelah berucap Sesil membuang wajah seiring wajah Dion yang memunculkan sebuah seringai.
"Yang jelas kami berbeda. Tuan Raka punya rasa kasihan terhadap wanita sedang kan aku tidak."
Akhirnya Dion mengakui sifatnya selama ini. Dia memang tidak memiliki rasa kasihan bahkan pada Sesil walau sudah belasan kali memohon.
"Aku hanya ingin tahu, kenapa kau begitu terobsesi pada Tuan Raka? Tidaklah kau merasa bersalah akan hal itu?"
Dion kembali mengingat kan kesalahan Sesil yang sudah telah lalu. Dan Sesil seketika menunduk meremas jari-jarinya sendiri. Ia memang bersalah dan ia tidak keberatan jika harus meminta maaf pada Zia dan Raka saat ini juga.
"Tapi kenapa kamu selalu mencegahku saat aku akan menemui mereka untuk minta maaf, Dion?"
Dion diam. Seolah tuduhan dilimpahkan padanya. Ia kembali fokus menyetir.
"Baru saja aku mendengar kalau kamu akan ke rumah mereka, bukan, saat setelah mengantarku?"
__ADS_1
Dion mengangguk ragu.
"Lalu tunggu apalagi?" Sesil menggeser posisinya untuk condong ke arah Dion. "Bagaimana kalau kau juga membawaku ke sana?" Wajah Sesil berbinar-binar saat mengatakan itu.
"Un-untuk apa?"
"Untuk apa lagi kalau bukan menemui, Zia?"
Cittttttttt...
Dion menginjak rem secara tiba-tiba hingga membuat kepala Sesil jika tidak segera dihalangi tangan sudah terbentur dasbor.
"Apa-apaan kamu ini, Dion? Bisakah kamu memberi tahuku dulu sebentar menginjak rem mendadak seperti ini?" sungut Sesil.
"Maaf."
Setelah menghela napas Dion kembali menancap gas melewati jalan yang sudah berkurang kemacetannya.
"Sesil, apa kamu mau langsung antar sampai depan gerbang atau sampai masuk area parkir?" tanyanya. Namun Sesil tahu itu adalah sebuah pertanyaan yang mengalihkan pembicaraan sebelumnya.
"Dion, aku mau ikut denganmu ke rumah Raka dan Zia," kekeh Sesil. "Aku mohon beri aku kesempatan untuk meminta maaf pada mereka, aku menyesal sudah menghasut Zika untuk membenci ibunya. Dion, please, bantu aku. Aku istrimu, bukan?"
Ck. Kalau ada maunya saja bilang kalau dia istri Dion. Tapi pada saat Dion mengakui Sesil menolaknya. Dion terus saja menyetir lurus tanpa memedulikan permintaan Sesil.
Dion menaikkan sebelah alisnya. Apa benar Sesil ingin meminta maaf pada Raka secara bersungguh-sungguh?
Apa sebaiknya ia membawa Sesil menemui mereka?
Ah, lebih baik Dion memanfaatkan kesempatan ini. Lagi-lagi seringai muncul dari bibirnya kemudian ia melirik ke wanita di sampingnya.
"Apakah benar kamu ingin menemui mereka?"
Merasa mendapat sinyal Sesil yang memalingkan wajah kini menggerjap detik berikutnya mengubah posisi kembali mengarah pada Dion. Ia mengangguk antusias.
"Iya, aku mau," jawabnya, seperti anak kecil yang sedang senang mendapat es krim.
"Kamu mau kan, membawaku ke sana?" rengekannya sudah melebihi anak TK. Bahkan ia menggoyang-goyangkan lengan Dion yang sedang fokus menyetir.
"Apa kamu sudah bosan hidup, Sesil? Lihatlah, aku sedang fokus menyetir," ucap Dion kemudian tangan Sesil yang melingkar di lengannya terlepas.
"Maaf ... aku hanya merasa senang karena kamu bertanya seperti itu. Tapi kamu mau kan membawaku ke rumah Raka, Dion?"
"Tentu."
__ADS_1
Wah ... ekspresi wajah Sesil seketika berbinar saat mendengar jawaban Dion. "Ter--"
"Tapi ada syaratnya."
Kata terima kasih yang akan diucapkan Sesil seketika berhenti saat mendengar kata-kata "syarat" dari Dion. Ia mengerjap cepat seiring kepala yang menoleh.
"Syarat?" Ia memiringkan kepalanya untuk bertanya. Dion menyunggingkan bibir sambil menghardikkan pundak.
"Di dunia ini kau tahu sendiri tidak ada yang gratis, bukan?"
"Apa syaratnya?" tanya Sesil ketus. Wajah yang sebelumnya berbinar kini menjadi wajah murung.
Dion memang keterlaluan! Bisa-bisanya melakukan hal sekecil ini saja meminta sebuah syarat.
"Apa kamu benar-benar ingin tahu syaratnya, hem?" Dion menoleh sejenak kemudian kembali menatap depan jalan lenggang banyak mobil menyelip dengan kecepatan tinggi.
"Apa?"
"Heum ...."
"Apa cepat katakan!"
"Syaratnya adalah ...." Dion mendekatkan bibirnya ke telinga Sesil kemudian berbisik pelan, "Malam ini kau harus melayani ku."
"He uh ... Sepertinya hidupmu tidak begitu jauh-jauh dari sana," dengkus Sesil. Memandang malas.
"Hei, selagi itu dengan istri sendiri tidak masalah, bukan?" Dion terkekeh sambil menyetir.
"Istri yang dipaksa jelasnya." Sesil begitu kesal dengan Dion.
"Kayak novel online dong, Sayang ...."
"Dih. Ayo cepat jalan ke rumah Zia dan Raka!" perintah Sesil bersedekap menatap depan.
"Jadi kau mau menerima persyaratanku?"
"Mau aku menerima atau tidak, tidak ada bedanya bagimu. Kau akan memaksa kehendak sesuka hatimu," jawab Sesil ketus. Sedangkan Dion terkekeh memang benar yang dikatakan Sesil.
"Karena kamu memukau, mana bisa aku melewatkan begitu saja." Kemudian mobil berbelok ke tikungan menuju rumah Raka dan Zia.
Tidak butuh waktu lama mobil berwarna hitam itu tiba di depan gerbang rumah Raka. Dada Sesil berdebar kencang saat menatap pagar berwarna hitam yang tinggi menjulang itu terbuka.
"Dion, apa mereka mau menerima permintaan maafkan aku?" tanyanya.
__ADS_1