
"Hufff ... Akhirnya rumah kosong juga," ucap Raka saat setelah menutup pintu kamar.
Sontak membuat Zia yang sedang duduk di depan meja rias menggeleng terkekeh. Kemudian melanjutkan memoles wajahnya dengan bedak. Kemudian Raka mendekat duduk bersandar di meja rias sambil menyantap Zia.
Merasa ada yang aneh dengan tatapan Raka Zia menghentikan aktivitasnya. Kemudian menaikkan kedua bola matanya untuk menatap sang suami.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Jangan bilang kalau kau--" Zia memikirkan sesuatu pasti ada maksud lain dari tatapan Raka saat sang empu memainkan kedua alisnya untuk menggodanya.
"Tidak, tidak. Ini masih pagi. Lagi pula kenapa sepagi ini kau membawa Zika ke rumah Mama Clarys? Kan kasihan Mama dan Vita jika harus terganggu dengan Zika." Kembali Zia menutup perlengkapan-perlengkapan make up yang baru saja ia gunakan. Lalu beranjak merapikan tempat tidur.
Zia terkejut saat tangan Raka tiba-tiba melingkar di perutnya. Sedangkan desir napas menyeruak di ceruk lehernya membuat kulit Zia meremang.
"Kau wangi sekali kali ini ... apa kau baru membeli sampo lain."
"Masa sih?"
Zia menggapai beberapa helai rambut kemudian menciumnya. "Aromanya masih tetap sama seperti sampo yang biasa ku pakai." Kemudian Zia mengibaskan tangan.
"Kamu ini begitu mengada-ada. Aromanya sama dengan sampo biasanya," protes pada Raka yang di belakangnya menempel seperti cicak. Sedangkan bagian hidung sibuk menghirup aroma rambut dan leher dalam-dalam.
"Wangi ... aku suka," puji Raka. Terus saja seperti itu. Bahkan Raka semakin hari semakin banyak bertingkah konyol.
"Kalau kau seperti ini terus bagaimana aku bisa membereskan ini dengan cepat?" dengus Zia melirik ke belakang malas sedangkan tangan sang suami semakin bergerak aktif.
"Apa kau tidak bekerja hari ini, Sayang?" Zia melepaskan rangkulan Raka kemudian memutar badan untuk merapikan seprai sisi lainnya. Seolah ditarik sebuah magnet Raka justru membaringkan diri di atas ranjang berukuran king size itu.
__ADS_1
"Aku sengaja tidak pergi ke kantor hari ini. Dan Dion sudah akan pasti bisa dipercaya untuk mengatasi semua," jawab Raka. Terlentang berbantalkan satu tangan sedangkan tangan lainnya ia rentangkan.
Zia menaikkan sebelah alisnya. "Tapi kenapa?"
"Kenapa lagi kalau bukan ingin menghabiskan waktu berdua denganmu," jawab Raka tersenyum miring ke arah Zia di atasnya.
"Tapi ... apa kau tidak kasihan pada Zika? Bahkan kau tidak bilang padaku dulu saat membawa ke rumah Mama. Dan bahkan kau meliburkan semua pelayanan di rumah ini, kau benar-benar ya."
Zia yang sudah terbiasa bangun disambut dengan celoteh Zika dan meminta susu, tadi pagi saat bangun ia tiba-tiba merasa khawatir karena tidak melihat Zika di kamarnya. Selain Zika ternyata Raka suaminya tidak pada saat dia menelepon ternyata Zika sudah berada di rumah mama Clarys.
Raka benar-benar keterlaluan.
Karena Raka meliburkan pelayanan di rumah, hari ini Zia harus mengerjakan semua hal sendirian. Mulai membersihkan, menyapu dan mengepel kamar.
Setelah membereskan kamar Zia mengenakan celana pendek dan tank top berwarna hitam kaki jenjangnya menuruni tangga. Sepertinya seusai kamar tersusun kini ia harus memasak untuk sarapannya dan juga Raka. Ia mengeluarkan bahan sayuran dan juga beberapa daging sapi dan ayam. Setelah kemudian mencuci satu persatu hingga bersih lalu memotongnya.
"Aku akan membantumu." Ia merebut pisau dengan dari tangan Zia dan membantu memotong. Sepasang suami istri itu melakukan memasak romantis di dapur.
Dion menggenggam erat tangan Sesil bentuk sebagai rasa dukungan. Ia merasa senang karena sepertinya kali ini Sesil meminta maaf dengan tulus, tapi tidak bisa dipungkiri tersirat rasa khawatir.
Dion takut, jika Sesil setelah mendapat maaf dari Zia akan membuka jalan untuk mempermudah untuk pergi darinya. Sekali lagi lelaki tampan memiliki bibir yang tipis itu menoleh pada Sesil tersenyum penuh makna seolah mengatakan "setelah ini jangan pergi karena aku sangat mencintaimu".
Tangan Sesil menjulur untuk menekan bel rumah Raka. Kini rona gugup terpancar dari wajahnya terlihat Sesil tampak menghela napas kemudian menghembuskan perlahan bukti sebagai rasa untuk menghilangkan rasa gugupnya. Kemudian bola mata hitam itu menatap Dion yang langsung mendapat anggukan.
"Kenapa mereka lama sekali membuka pintu? Bukankah di rumah ini ada banyak pelayan?" Sesil menjadi semakin gugup saat pintu tak kunjung terbuka. Apakah Zia dan Raka melarang semua pelayan untuk membuka pintu saat melihat dirinya dari monitor? Berbagai persepsi terlontar dari benak Sesil. Ia tidak yakin jika mendapat maaf.
__ADS_1
"Harusnya seperti itu, tapi kenapa tidak ada suara tanda-tanda kehidupan ya?" Dion menyingkap kemeja yang menutupi arloji kemudian melirik jarum jam yang melingkar di tangan kirinya itu.
Pukul 09 : 30 seharusnya saatnya kini Raka pergi ke kantor. Tapi kenapa tidak ada tanda-tanda apa pun dari dalam sana. Apa janganlah terjadi sesuatu?
Dion menoleh ke kanan dan kiri akhirnya matanya menangkap sebuah jendela besar. Rasa khawatirnya mendorong rasa ingin tahu dan memastikan kalau Tuan dan Nyonya baik-baik saja.
Dion memutar langkah untuk menuju jendela itu setelah melewati taman kecil kemudian setelah sampai ia menempelkan kedua telapak tangan posisi miring ke kaca. Kemudian mendekatkan wajah untuk melihat keadaan dalam rumah.
"Ya ampun." Dion menggeleng kemudian meninggalkan jendela besar laknat yang membawa matanya dalam kesesatan di pagi hari itu. Kemudian lelaki itu memilih kembali menghampiri Sesil yang masih berdiri di depan pintu.
"Sepertinya kita harus menunggu selama beberapa jam di sini, jika kau tidak keberatan lebih baik tunda saja minta maafnya sampai esok hari."
"Tapi kenapa?" tanya Sesil dengan polos.
Dion tidak menjawab justru melangkah kaki meninggalkan Sesil menuju mobil.
"Kau mau ke mana, Dion? Heh, aku ingin minta maaf pada mereka. Dion!" Sesil tidak mau mengikuti Dion, ia justru membalik badan dan menekan bel secara beruntun.
"Hei, Sesil. Apa yang kau lakukan?"
Dion yang mengetahui langsung kembali menghampiri Sesil. Raka pasti akan marah saat tahu dia dan Sesil mengganggunya.
Benar saja, baru Dion akan mencegah tangan Sesil tidak lama berselang pintu terbuka. Raka berdiri tegap memakai celana pendek dan kaos dengan rambut sedikit berantakan.
Ada yang membuat menggelitik perut Dion, namun ia hanya bisa mengulum senyum saat melihat kaos yang dikenakan Raka terbaik.
__ADS_1
Sedangkan Sesil dengan bibir melongo menelisik penampilan Raka pagi ini. Ia melongo bukan karena melihat ketampanan yang seperti biasa dia lihat dengan balutan jas mahal dipadu dengan kemeja warna-warna soft. Tapi kini penampilan Raka sangat menggelitik sehingga Sesil tak bisa menahan tawanya.
Yuk, Yuk! tantangan like sampai 1000 aku up 2 bab 😎