Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 30


__ADS_3

Zia, Zika, Vita dan Mama Clarys memasuki pusat perbelanjaan terbesar di kota ini. Mereka langsung menuju ke wahana bermain anak yang terletak di lantai atas. Keadaan pengujung tidak begitu ramai kali ini, mungkin karena bukan akhir pekan.


Vita dan Mama Clarys membiarkan Zia dan Zika menghabiskan waktu berdua.


“Ayo, Zika, apa kamu siap?” Zika mengangguk.


“Satu, dua, tiga!” Zika di pangkuan Zia dibawa seluncur bebas dari permainan peluncuran dan mendarat ke kolam bola warna-warni.


Zia dan Zika saling melepas tawa masing-masing, ikatan ibu dan anak terlihat begitu jelas di wajah mereka berdua.


“Ayo Zika, kita lempar bolanya ke sana!” Zia dan Zika melempar bola ke arah ring basket yang berukuran kecil itu.


Sedangkan dari arah luar, Dion mengambil ponselnya dan memilih untuk mendokumentasikan keakraban antara ibu dan anak itu untuk dikirimkan pada Raka. Dion tidak ingin tuanya itu melewatkan moment kebahagiaan anak dan istrinya.


BAB 2


Di kantor, Raka memimpin jalannya rapat siang ini. Ia menjelaskan tentang keuntungan-keuntungan anak cabang perusahaan yang telah ia bangun di berbagai kota. Dalam posisi berdiri ia tampak menunjuk layar berbentuk persegi lebar yang menampilkan letak-letak rincian-rincian desain yang akan digunakan untuk produk perusahaannya.


“Nama produk sudah, fiks. Sekarang kita harus mencari model untuk produk kecantikan kita ini. Manda, apa kamu mempunyai seseorang yang bisa direkomendasikan untuk membintangi produk ini?” tanya Raka pada salah satu karyawannya.


“Kalau untuk saat ini belum ada, Pak,” balas Manda orang kepercayaan Raka. Ia memutar bola matanya tampak mengingat-ingat seseorang. “Tapi ada salah satu model yang saya kenal baru datang dari luar negeri, saya rasa dia adalah orang yang tepat untuk produk ini.” Manda berucap saat baru mengingat perempuan itu.


“Siapa namanya?” tanya Raka penasaran. Manda tampak mengingat nama lengkapnya karena ia hanya tahu nama sapaan saja.


“Hemm, Sa—“ Manda mengingat-ingat lagi. Semua orang menatapnya termasuk Raka.


“Aha! Aku tahu,” ucapnya lagi membuat semua orang antusias menatapnya. “Namanya adalah—San—“


Denting suara ponsel menghentikan Manda untuk menyebut nama model itu. Raka mengayunkan kaki untuk mengambil ponselnya berdering di atas meja, ia melihat Dion menelepon Raka menggeser tombol berwarna hijau lalu mendekatkan ke telinga.

__ADS_1


“Ada apa yang membawamu meneleponku, Dion? Apa terjadi sesuatu pada keluargaku?”


“Tidak ada, Tuan. Aku hanya ingin mengirim video rekaman Nona Zika dan istri Anda, apa kau mau melihatnya?”


“Tentu, Saja. Cepat kirim kan padaku, sekarang!” titah Raka antusias.


“Baik, Tuan, kalau begitu saya akan menutup sambungan telepon ini, dalam waktu lima menit saya akan mengirimkan videonya.” Dion menutup sambungan telepon lalu tidak selang berapa lama menerima sebuah pesan sebuah video dari Dion.


Raka sudah tidak sabar ingin melihat kebahagiaan antara istri dan anaknya. Saat baru sadar ia menjadi pusat perhatian ia berdehem lalu berkata, “Kalian boleh keluar, tinggalkan aku di sini. Jangan lupa untuk mempersiapkan presentasi selanjutnya.”


Sesuai perintah para karyawan yang di dalam ruangan itu keluar satu per satu membawa berkas di tangannya masing-masing. Setelah mereka tidak tersisa lagi, Raka duduk di kursi empuk yang selama ini menemaninya memimpin kekuasaan perusahaan ini. Ia membuka video dari Dion seketika bibirnya tertarik ke atas terukir kebahagiaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.


Akhirnya Zika mulai mau bermain dengan Zia, ternyata usahanya selama ini tidak sia-sia untuk mendekatkan mereka berdua. Mata Raka berbinar terpancar kebahagiaan dari sana.


“Terima kasih, Tuhan, kau sudah memberi kebahagiaan untuk istri dan anakku.” Ia berucap sambil memandang terus layar ponsel pintarnya seolah tidak mau beralih.


Akan tetapi didetik berikutnya perempuan itu tampak berjalan maju hingga tidak terekam oleh Dion. Berkali-kali Raka mengucek matanya untuk memastikan kalau perempuan itu adalah orang yang ia kenal, tetapi wajah nya tidak begitu jelas membuat lelaki itu ragu.


“Mungkin saja bukan,” ucap Raka lalu meletakkan ponselnya di atas meja. Untuk sesaat ia bersandar di kursi kebesarannya.


Di pusat perbelanjaan.


.


Zia dan Zika sudah selesai keluar dari wahana permainan anak. Mereka memang saat ini mengantre es krim di sebuah restoran cepat saji yang terletak di dalam mall itu. Zia memegang tangan Zika saat mengantre sesekali tersenyum pada orang yang menyapa Zika karena gemas melihat wajahnya yang lucu.


“Zika, mau es krim rasa apa, sayang?” tanya Zia saat tiba kini mereka yang dilayani.


“Cika mau lasa solbeli, Mom,” balas Zika dengan bibir kecil yang menggemaskan itu.

__ADS_1


“Okey, sayangnya Mommy ....” Zia mencubit gemas kedua pipi Zika lalu berbicara pada kasir menyebut nama pesanannya. Saat itu tangan Zika terlepas, tanpa sadar putrinya itu melihat’ badut sedang menari-nari Zika menghampirinya.


“Zika, ini es krim buat kamu.” Zia terbalik dengan kedua tangannya memegang es krim. Dia tercengang saat melihat ke belakang Zika tidak ada di sana.


“Zika, di mana kamu?” Ia mencari ke arah belakang antrean barang kali tubuh putrinya terhalangi oleh orang-orang itu. Jantung Zia berdetak kencang saat tidak melihat Zika di sana. Rasa panik seketika menyeruak dalam pikirannya.


“Zika.” Kali ini panggilannya diliputi kecemasan luar biasa’ saat bola matanya tidak melihat Zika dalam ruangan itu. “Nyonya, apa kamu melihat anak kecil perempuan lewat?” tanyanya pada salah satu pengunjung.


Orang itu tampak memutar bola mata mengingat-ingat. “Ohh anak kecil tadi, dia pergi ke sana.” Menunjuk arah pintu keluar restoran.


Dengan panik Zia menghambur keluar, secara bertepatan bertemu dengan mama Claris dan Vita. “Zia, kamu mau ke mana? Dan ... di mana Zika?” tanya Mama Clarys dan Vita mengangguk karena ia memiliki pertanyaan yang sama.


“Zika hilang, Ma.” Suara Zia terdengar tercekat akibat rasa panik dan hampir-hampir saja menangis. Mama Clarys menangkup mulutnya sendiri yang hampir melongo karena syok.


“Kamu tenang ya, Zia, kita cari Zika. Pasti dia masih di area sekitar sini.”


“Ada apa ini?” tanya Dion saat baru saja selesai menelepon seseorang.


“Zika hilang, Dion.” Vita memilih untuk menjawabnya karena Zia tidak lagi bisa berkata-kata.


“Kalian jangan panik dulu, aku akan menghubungi bagian pengaman dan informasi untuk mencari Nona Zika.” Setelah berucap Dion pergi meninggalkan mereka bertiga. Sedangkan Zia Vita dan Clarys berpencar mencari Zika.


Setelah Dion menghubungi pihak keamanan mereka mengerahkan seluruh anggotanya untuk mencari Zika. Sedangkan bagian informasi menemukan jika ada seseorang yang menemukan anak kecil untuk membawanya cek pos pengamanan.


Pusat pembelanjaan yang sebelumnya tenang ini berubah menjadi riuh. Mereka berpencar untuk mencari keberadaan Zka, selain itu mereka juga mengecek kamera CCTV pusat perbelanjaan itu. Keadaan semakin genting saat Dion menghubungi Raka. Emosi seketika menyeruak dari dada Raka saat mengetahui putrinya menghilang. Seorang pertama kali yang ia salah kan adalah Dion.


Raka menganggap Dion benar-benar ceroboh sehingga lalai membuat Zika hilang, setelah menutup sambungan telepon ia beranjak dari ruangannya. Rasa khawatir menyeruak jalan pikirannya seketika ia panik dan langsung berlari menuju mobil jalan ke pusat perbelanjaan di mana Zia berada.


Vote bisa berupa koin atau poin ya, kak🙏

__ADS_1


__ADS_2