Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 58


__ADS_3

Dion tersungkur di pelataran rumah sakit tepat berada di samping mobil. Untung tidak banyak orang di sana sehingga tidak seberapa membuatnya malu. Namun rasa yang muncul dari dalam dada Dion saat ini lebih dari perasaan malu. Terlebih lagi dia terkena bogem mentah-mentah saat ingin membawa istrinya sendiri pulang ke rumah.


Dan sialnya! Hidung Dion berhasil mengeluarkan cairan berwana merah, sontak setelah mengusap darah itu ia mendongak untuk menatap siapa yang telah berani memukulnya tanpa menunggu kesiapannya.


Mata Dion menyipit sementara rahangnya mengetat diikuti alis yang saling bertautan saat melihat siapa orangnya. Dika, Dokter yang selalu bicara lembut dengan Sesil.


Dion semakin geram saat melihat lelaki itu berdiri di samping Sesil. Seolah merasa seorang pahlawan setelah menolong tuan putri.


Sementara Sesil tampak memandang Dion pias. Ada tersirat rasa kasihan dari bola matanya. Saat ia membungkuk akan menolong Dion untuk bangun tiba-tiba tangan Dion maju. Menandakan Kalau ia tidak butuh seseorang untuk bangun.


Tanpa diduga dalam posisi terhuyung tiba-tiba Dion bisa membuat Dokter Dika tersungkur ke belakang dengan sekali tendangan dibagian perut. Kini ia dalam posisi mengintimidasi.


"Dion, ayo kita pulang!" Tidak ingin menambah kacau suasana lebih baik Sesil mengalah untuk tetap tinggal di rumah.


"Dion, tolong jaga reputasiku di rumah sakit ini. Dokter Dika adalah pimpinan di rumah sakit ini."


"TAPI DIA YANG MULAI MEMUKULKU! APA KAU TAHU?!"


Seketika Sesil terhenyak suara Dion mampu terngiang-ngiang di gendang telinganya. Hingga membuat berdenging.


Dokter Dika bangkit sambil mengibas lengan jas putihnya yang kotor terkena lantai. Sambil menatap Dion tajam. Tersenyum mencemooh.


"Sayangnya Sesil memilih pria sepertimu dari pada menerima cintaku," ucapnya. Kemudian menatap Sesil yang bertambah gugup tidak karuan.


Tanpa disadari Dokter Dika sudah memancing emosi lelaki di hadapannya. Hingga buku-buku tangan nampak putih dan siap memberi satu pukulan lagi hingga Dokter Dika kembali tersungkur. Namun kali ini langkah Dion dihalangi oleh dua orang scurity yang mencekal kedua bahunya untuk melerai.


Tenaga Dion begitu besar sehingga membuat dua orang itu tengah kewalahan menahan tubuhnya. Hingga suara Sesil berhasil meredam suasana seketika diam.


"Kalau kau tidak bisa diam, lebih baik kita bisa pergi dari sini! Dan untukmu Dokter Dika," ucapnya saat Dokter Dika mulai merangkak berdiri sambil mengusap noda darah di sudut bibirnya.


"Aku berterima kasih karena kau telah berusaha membantuku. Tapi jangan sangkut pautkan dengan penolakan cintamu padaku. Aku menolakmu karena selama ini aku belum siap. Aku minta maaf." Sesil menyatukan kedua telapak tangannya di hadapan Dokter Dika.


Belum juga mendapatkan balasan kata-kata kini tangan Sesil bergerak dengan susah payah untuk menarik lengan Dion yang masih mengepal.

__ADS_1


Setelah tiba di dalam mobil Sesil mendorong Dion ke kursi penumpang bagian depan. Sementara ia memilih untuk mengamankan alih untuk menyetir karena tidak ingin mengambil risiko harus mempertaruhkan nyawanya jika Dion yang mengemudi.


"Apa karena dia mencintaimu jadi kau membelanya?" desis Dion berapi-api. Sedangkan Sesil memilih untuk tersenyum masam sambil fokus menyetir.


"Dia membelaku karena tidak suka wanita diperlukan kasar oleh laki-laki. Harusnya kamu tau itu," gumam Sesil tidak nyaring.


"Mungkin aku terlalu kasar padamu. Untuk itu aku minta maaf."


Sesil menoleh, dia kira Dion tidak mendengar ternyata dugaannya salah. Tapi apa Dion bilang? Minta maaf dia anggap sebagai makanan sehari-hari untuk Sesil. Dengan wajah malas Sesil menanggapi.


Suasana dalam mobil kembali hening. Hanya sesekali terdengar hembusan napas Dion yang berat seberat cintanya pada Sesil.


Sedangkan Sesil berkonsentrasi untuk mengendarai mobil karena kawasan jalanan cukup macet.


Tiba-tiba kesunyian di antara mereka berdua harus terburai saat suara ponsel Dion dalam celana berdenting.


"Siapa?"


"Tuan Raka."


"Oke, tunggu."


Wajah Dion seketika menegang saat menjawab telepon dari Raka. Tuanya itu sepertinya bicara hal yang sangat penting hingga Sesil bisa menyadari itu.


"Aku akan segera ke sana, Tuan." Suara Dion terdengar diiringi jari yang bergerak mematikan sambungan telepon. Kemudian lelaki itu menoleh ke arah Sesil.


"Sesil, sepertinya kamu boleh ke mana pun kalau kamu mau. Aku ada urusan dengan Tuan Raka begitu penting." Dion berujar sambil menghembus napas berat.


"Tapi ada apa?" tanya Sesil menoleh kemudian kembali menatap depan lagi.


"Ada masalah dengan keluarga Johan. Mereka menuntut Tuan Raka dengan tuduhan penganiayaan putrinya."


"Tunggu, tunggu. Johan? Apa mungkin Johan pamanku?" tanya Sesil sedikit menebak-nebak.

__ADS_1


"Ada banyak nama Johan di dunia ini, Sesil."


Sesil mengangguk mungkin benar apa yang dikatakan Dion. Tidak mungkin Johan pamannya berurusan dengan Raka.


"Baiklah, mungkin bukan pamanku. kalau boleh tahu ... kenapa Raka bisa dituduh dalam kasus penganiayaan?"


"Ceritanya panjang. Sayangnya aku harus buru-buru sampai ke kantor karena Tuan Raka sudah sampai di sana. Cepatlah tambahkan kecepatan!" perintah Dion.


"Baiklah." Sesil mencengkeram stir erat pandangannya fokus ke depan. Sementara sebelah tangannya lagi menggenggam perseneling. Hingga mobil melaju melesat.


Sesil melajukan dengan kecepatan 100 Km per jam. Ia gunakan bakatnya yang terpendam menjadi pembalap hingga tidak lama berselang mobil mereka telah sampai di halaman rumah.


"Ternyata kamu ahli dalam menyetir juga, ya? Setelah ini mungkin aku akan lebih suka di kursi kemudi dari pada menyetir," ucap Dion sambil melepas sabuk pengaman.


Sementara Sesil dengan muka masam enggan untuk menanggapi. Memilih keluar dari mobil tanpa basa-basi. Tanpa sekonyong-konyong Dion menarik tangannya memberi hadiah di bibirnya.


"Sebagai hadiah karena kamu sudah menyetir," ujarnya. Sesil masih terpaku memegangi bibirnya yang masih basah.


Entah kenapa ketika merasakan perlakuan lembut Dion hatinya terasa menghangat. Ia buru-buru menutup pintu mobil kemudian meninggalkan lelaki yang sering berubah-ubah pikiran itu pergi. Pipinya terasa memanas seolah hatinya bergejolak. Buru-buru ia menggeleng untuk menepis rasa tidak mungkin.


***


Di kantor Dion berjalan tergesa-gesa menuju ruangan Raka yang terletak di lantai paling atas. Setelah sampai ia melihat Raka menyandarkan kepala di kursi panasnya sambil memejamkan mata.


Ia tahu Raka pasti stres memikirkan tuntutan Johan. Atau mungkin ada hal lain? Tidak ingin menunggu lama Dion segera berdehem pelan.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanyanya dengan posisi berdiri tegap di hadapan Raka.


Saat itu juga Raka membuka matanya mendengar suara sekretaris kepercayaannya.


"Johan kembali berulah. Dia melaporkan aku sudah menganiaya Neona. Dan dia mengancamku dengan Pasal 351 KUHP. Dasar licik!" Raka mengepal diliputi gigi graham yang saling menyatu.


Tiga puluh menit lalu Johan datang membawa pengacara. Dan mereka juga mengatakan pada Raka, sampai Raka tidak menerima Neona untuk menikahinya. Johan mengancam akan membuat Raka mendekam di penjara karena ia akan dituntut dengan pasal berlapis.

__ADS_1


Jangan lupa like di bab ini ya ... aku up dua bab. Dan ini juga bab menuju bab ending.


__ADS_2