Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 35


__ADS_3

Matahari mulai menyingsing. Hari ini adalah hari yang cerah. Zia dan Raka disibukkan dengan mengemasi barang-barang yang akan dibawa ke rumah barunya. Rumah mereka sudah siap kini, Zia dan Raka sudah tidak sabar ingin membawa Zika bersama menjalin keluarga kecil dengan bahagia.


Mama Clarys dan Vita membantu mengemasi pakaian Zika, mereka ikut merasa sedih karena tidak akan tinggal serumah lagi dengan keluarga Raka yang cenderung membuat rumah besar itu menjadi ramai. Pasti setelah kepergian anak, menantu sekaligus cucunya itu suasana menjadi hampa.


Mama Clarys sebenarnya menentang keinginan Raka, kerena jujur ia sudah terbiasa hidup bersama-sama.


Setelah semua siap, Raka menggeret koper besar diikuti Zia menggendong putrinya di belakang menuruni tangga. Mama Clarys sesekali mengusap air matanya. Ini untuk pertama kalinya ia akan berpisah dengan cucunya jika boleh memilih ia akan menahannya untuk tetap tinggal.


“Raka, apa kamu yakin akan pindah sekarang?” tanyanya. Sambil berjalan menuruni tangga di hadapan Raka.


“Iya. Aku yakin, Ma. Lagi pula Zia sudah sehat sekarang,” balas Raka terus saja mengayunkan langkah untuk menuruni tangga setelah detik berikutnya tiba di lantai bawah.


“Zia, aku tahu kamu ingin lebih dekat dan menghabiskan banyak waktu dengan Zika. Tapi … jangan lupa jaga kesehatanmu, karena itu sangat penting, nak," ucap mama Clarys mengusap-usap rambut Zika yang ada di gendongan menantunya.


“Tentu, Ma. Karena aku harus menjaga kesehatan untuk terus bisa merawat Zika dan mengajaknya bermain,” balas Zia tersenyum setelah kemudian mencium pipi Zika.


"Aunty akan selalu merindukanmu, sayang." Vita juga mencium pipi Zika.


Satu persatu barang, sudah dimasukan oleh pelayan ke dalam bagasi mobil. Setelah selesai dua orang pelayan itu berdiri dengan segan dan berkata, “Tuan, semua barang sudah siap.” Menunduk dengan sopan.


Raka yang sedang menghadap ke arah Zia dan mama Clarys menoleh setelah detik berikutnya berbalik. “Oh ya, kalian boleh pergi, terima kasih atas bantuannya,” ucapnya. Lalu dua orang pelayan itu menyingkir dari posisinya dengan segan.


“Zia, ayo kita pergi.” Raka berjalan keluar lebih dulu, sedangkan Zia mencium punggung mama Clarys untuk berpamitan. Mama Clarys mencium kepala Zika berulang lalu pada menantunya.


“Kita masih bisa setiap hari bertemu, ma. Lagi pula rumah yang akan kami tinggali hanya memiliki jarak lima belas menit saja dari sini. Kalau kami tidak datang, mama bisa menyuruh sopir untuk mengantar. Yakan, Zika?” tanyanya dan Zika mengangguk.

__ADS_1


Mereka berdua menaiki mobil berwarna hitam menuju rumah barunya. Selama lima belas menit perjalanan mobil hitam itu tiba di halaman pagar warna hitam terbentang terbuka secara otomatis saat Raka menekan remot control.


“Wah … pagar rumah kita bisa terbuka tampa ada orang yang membukanya?” tanya Zia heran melongo menoleh kea rah Raka.


“Tentu saja, bahkan rumah ini dilengkapi sensor. Jika ada orang asing masuk atau mailing alarm akan otomatis berbunyi mengirimkan sinyal bahaya.”


“Waow … keren sekali,” ucap Zia. Tak henti-hentinya perempuan itu melihat kesekelilingnya yang dipenuhi taman ditanami beraneka ragam warna.


“Ayo kita turun,” titah Raka melepas sabuk pengaman yang melekat di tubuhnya. Kemudian membuka pintu sampingnya keluar, berputar membukakan pintu untuk anak dan istrinya.


“Silakan … permaisuri dan princesku.” Membunkukkan badan seperti seorang pelayan pada majikannya.


Zia tersenyum melirik pada Raka. “Zika sedang tidur, bisakah kamu membantuku untuk menggendongnya?” Zia melipat bibirnya menunjukkan betapa sesak dadanya kini.


“Tentu saja, sayang.” Raka mengangkat tubuh Zika pelan-pelan supaya tidak membangunkan putri kecilnya itu. Ia meletakkan wajah Zika di pundaknya hinggga pipinya terlihat membulat. Detik berikutnya mereka berdua melangkah maju menuju pintu utama.


Zia mendekat memasukkan tangannya ke dalam kantong sang suami mencari keberadaan kunci.


Raka untuk beberapa saat memejamkan mata mendengus. “Itu bukan kunci, Zia … kamu mulai nakal rupanya.”


“Eh, maaf.” Zia tersenyum meringis.


“Dasar, istri mesum,” ejek Raka. Memindah posisi Zika ke sebelah kakanan. Ia memasukkan anak kunci ke dalaminduknya memutar dengan perlahan hingga pintu terbuka lebar.


Kesan pertama saat Zia memasuki rumah adalah takjub karena Raka benar-benar mendisain rumah sangat seperti apa yang sudah ia pinta. Banyak kaca-kaca yang langsung menembus arah taman belakang rumahnya. Zia benar-benar menyukainya.

__ADS_1


Rumah itu memang tidak terlalu besar, semua karena Zia yang miminta, dengan alasan saat Raka pergi ke kantor ia dan putrinya tidak merasa sunyi karena tinggal di dalam rumah yang besar. Terlebih lagi karena tidak memakai jasa aisten rumah tanga dan itu semua pasti melelahkan.


“Bagaimana, apa kamu menyukainya, Zia?” tanya Raka sambil melihat ke arah istrinya. Zia menyunggingkan bibir, netra kecoklatan itu mengitari sekitar seperti memberi penilaian pada muridnya.


“Ini bagus, sekali. Aku sangat menyukainya, sayang. Bahkan rumah ini sangat indah dari pada apa yang aku duga,” balas Zia mengangguk-ngangguk puas melihat setiap sudut ditata dengan rapi.


"Kamu bisa lihat-lihat di sekitar rumah dulu, aku akan membawa Zika ke kamarnya."


Zia mengangguk. Lalu kemudian melangkah kaki untuk membuka pintu yang mengarah ke taman.


Raka membawa Zika ke kamar seharian bermain pasti putrinya itu begitu kelelahan. Setelah tiba di kamar yang terletak di hadapan kamar utama itu, Raka meletakkan tubih mungil yang sedang tidur lelap damai dalam mimpinya itu, sedetik kemudian mencium kening putrinya ucapan selamat tidur.


Setelah merasa lelah Zia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Ia terus saja memijat pundaknya yang merasa pegal. Menjaga seoran anak memang melelahkan, tapi itu sebanding dengan kebahagiaan yang ia dapat. Zia terus saja bersyukur karena ia masih diberi keajaiban untuk tetap hidup hingg bisa menjaga anak-anaknya tumbuh.


“Kamu kenapa?” tanya Raka setelah kemudian duduk di samping Zia. Mebarkan tangan meletakkan kepala istrinya di bahunya. Kini posisi mereka berdua Zia bersandar didadanya sedangkan tangan Raka mengusap rambut dengan lembut.


Raka mengecup pucuk rambut Zia untuk beberapa saat diam, setelah kemudia berkata, “Zia.”


“Hem?” Zia mendongakakkan wajahnya untuk menatap suaminya.


“Aku ingin bertanya padamu. Itu pun kalau kamu tidak keberatan untuk menjawab.” Belum juga Zia menjawab Raka sudah menyimpulkan.


“Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan?” tanya Zia mengusap-usap rahang kokoh Raka. “Katakan, aku pasti menjawab selama pertanyaan itu tidak menyudutkan.”


“Aku hanya ingin bertanya padamu. Tentang perasaanmu, apa kamu benar-benar mempercayaiku?”

__ADS_1


"Kenapa kamu tanya begitu?" Zia menaikkan kepalanya untuk menatap Raka.


"Tidak, hanya saja aku ingin bertanya saja."


__ADS_2