Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 34


__ADS_3

Di meja makan panjang Zia menghadapi semangkuk mie instan di kursi paling ujung. Ia sengaja menyeruput mie di dengan bibir dengan dengan maksud ingin membuat Raka tergiur.


Namun dengan angkuhnya Raka tampak memalingkan wajahnya, meskipun begitu Zia tahu kalau suaminya itu sangat lapar kini, itu semua karena ia melihat Raka diam mengintipnya saat melahap mie sedangkan saat Zia menoleh berpura-pura tidak melihat.


"Sepertinya mie ini dibuat khusus dari pabriknya hingga bisa rasanya seenak ini." Zia kembali meminum kuah dari sendok di tangannya.


"Hemm' ini enak sekali." Melirik ke belakang sambil terkekeh geli saat melihat Raka memegangi perutnya. Ia ingin melihat sampai mana keras kepala suaminya itu.


Zia memang sengaja membuat dua mangkuk, dan satu lainnya dia letakan di sampingnya. Sendok demi sendok ia lahap hingga satu mangkuk itu tandas tak tersisa.


"Uhhh enak sekali ...." ucapnya puas.


Raka duduk di hadapannya sibuk membaca surat kabar mengenai berita yang menjadi trending topik hari ini.


Zia beranjak dari kursinya berdiri menatap Raka sejenak lalu kemudian melangkah maju. Ia berpura-pura menguap menutup mulutnya dengan telapak tangan sedangkan matanya mengintip wajah Raka yang tampak tegang.


"Sayang, sepertinya aku mengantuk, kamu masih mau tetap di sini, atau ke ke kamar, melanjutkan ronde?" Zia menggigit bibirnya ragu.


Akan tetapi Raka tetap diam. Zia menggeleng tipis setelah kemudian menyunggingkan bibir mengejek suaminya.


"Baiklah, kalau kamu mau di sini. Aku ke kamar dulu ya, sayang." Dengan cepat Zia mengecup pipi Raka. Membuat sang pemilik tersenyum setelah kemudian melanjutkan membaca lagi.


Namun, perutnya sungguh-sungguh menyiksanya. Rasanya seperti perang di bawah sana hingga menimbulkan suara gemuruh seperti ingin turun hujan.


Sungguh, ia akan memarahi siapa pun pelayan di rumah ini karena tidak mengelola dapur dengan benar. Dan kini perutnya begitu lapar, Raka memegangi perut matanya melirik mangkuk putih berbahan marmer berisikan mie yang masih mengepulkan sedikit asap itu.


Raka menoleh ke belakang untuk melihat istrinya. Setelah Zia menghilang naik ke atas lantai ia segera mengambil mangkuk itu dan memakannya dengan lahap.


Ini baru pertama kalinya Raka memakan mie instan, didukung rasa lapar ia makan begitu tergesa-gesa seperti ingin memakan dengan mangkuk-mangkuknya.


"Pantas saja Zia menyukainya, ternyata ini sangat enak," gumamnya sambil terus saja menyuap mie ke dalam mulutnya.


Raka mengabaikan rasa gengsinya yang baru saja mengatakan ia tidak akan memakan mie instan seumur hidupnya. Tapi kini ia berdusta. Saat ia sedang asyik memakan dengan nikmat Indra pendengarannya mendengar suara langkah kaki mengenakan sendal menuruni tangga.


Raka sudah mengira itu pasti Zia. Setelah diam sejenak ia buru meminum kuah mie instan yang hanya tersisa sedikit itu kemudian meletakkan mangkuk ke posisi semula lalu ia kembali berpura-pura membaca surat kabar lagi.

__ADS_1


Dan entah kapan Zia sudah berada di belakangnya. Perempuan itu tampak memandang Raka kemudian melirik ke arah meja. Ia mengulum senyum saat mendapati mangkok yang ia tinggalkan berisi penuh sekarang telah habis bahkan tidak ada sisa.


Ternyata suaminya memakannya juga setelah mengatakan kalau tidak akan memakan mie instan. Zia melipat kedua tangannya di dada lalu kemudian mendekat ke arah meja lalu berdehem.


"Raka, aku masih lapar, dan sepertinya ... karena kamu tidak ingin memakannya jadi aku putuskan untuk memakannya. Tapi ... di mana mienya?" Perempuan itu mengangkat mangkuk sambil menggeleng.


"Aku sudah membuangnya," jawab Raka sekilas dari balik koran.


Zia terperangah, meskipun suaminya bilang seperti itu ia tidak percaya. Ia tersenyum silang.


"Benarkah?" tanyanya menggoda. Raka membuka lembaran koran selanjutnya.


"Tentu saja," jawab Raka lagi dengan cepat.


"Apa kamu tidak bercanda?" tanya Zia lagi. Kali ini Raka terbawa emosi ia menutup surat kabar di tangannya lalu kemudian menoleh ke arah istrinya itu.


"Sebenarnya apa sih mau kamu, Zia. Aku sudah menjawab pertanyaan tapi masih saja kamu terus bertanya." Ia memalingkan wajah lambat melihat objek lain.


Zia menggeleng terkekeh lalu melepas lipatan tangannya berjalan mendekat pada Raka setelah kemudian menunduk menangkup wajah sang suami dengan kedua telapak tangan.


"Kamu lihat sendiri, bukan?" Matanya mengarah ibu jarinya yang terdapat noda bekas kuah mie.


Raka memutar bola matanya melirik noda di jari istrinya. Bagaimana ia bisa seceroboh ini? Ia mengembung kan pipi memutar bola mata ke sana ke mari, berpikir untuk mencari alasan.


"A--aku ....."


"Aku apa, hemm'?" Zia menaikan kedua alisnya memainkan naik dan turun. Lalu setelah kemudian mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya yang menurutnya lelaki tertampan di dunia itu.


"Apa kamu mau aku buatkan lagi?" tanyanya.


Menggeleng, Raka benar-benar tidak bisa mengelak kini.


"Iya, iya, aku mengaku aku memakannya. Itu semua karena perutku lapar," ujar Raka.


"Sepertinya kamu bertambah gendut kali ini."

__ADS_1


Zia memicingkan mata. "Apa kamu bilang? Aku gendut?" Ia bertanya sambil bersungut-sungut menunjuk dirinya sendiri.


Raka menyunggingkan bibir lalu tersenyum miring mencemooh. Sepertinya ini salah satu cara untuk mengalihkan dari pembicaraan mie instan tadi. Zia seketika beranjak dari pangkuan Raka lalu setelah itu berlari ke kamar. Ia benar-benar ingin segera mengetahui berapa timbangan berat badannya kini.


Sesampainya di kamar ia mengambil benda persegi empat seukuran dua kakinya itu lalu memijakkan kaki ke atasnya. Dan ternyata saat melihat angka tersebut masih menunjukkan seperti kemarin yaitu 48 kilo gram.


"Hufff ...." Zia menarik nafas lega. Kini lirikan matanya terarah ke Raka yang baru masuk ke dalam kamar tersenyum tanpa rasa bersalah.


Raka berjalan santai menuju sofa ingin duduk, tapi ia urungkan.


"Kau membohongiku!" Zia menautkan kedua alisnya siap menerjang Raka. Tapi dengan langkah cepat pria itu berlari ke arah ranjang.


"Aku tidak bermaksud membohongimu tapi setelah kurasakan memang benar adanya." Raka bergerak menjauh sementara Zia terus mendekat ke arahnya.


"Mau ke mana kamu, jangan lari!" Zia tidak mau kalah, sebelum membalas suaminya itu.


Setelah di atas ranjang Raka menutup seluruh tubuhnya dengan selimut hinggap sambil tertawa, tidak terlihat lagi. Zia menindih tubuh Raka tepat di atasnya sambil menggelitik bagian perut.


Gelagar tawa Raka pecah. Tidak kuat menahan rasa geli ia menyingkap selimutnya. "Zia, ampun. Aku minta maaf, hahaha."


"Siapa suruh bilang aku wanita gendut!" sungut Zia terus saja menggelitik perut Raka.


Hingga kedua tangannya dicekal oleh Raka. "Aku bilang berhenti, sayang." Raka membalik tubuhnya kini Zia yang berada di kungkungannya dengan kedua tangan ia cekal.


Zia terpaku menatap mata Raka yang mematri nya.


"Permainan kini ada di kendaliku, Baby ...."


"Aaa ... lepaskan aku, lepaskan aku!"


"Diam, Zia, ini sudah malam. Nanti Zika bisa bangun bisa menggagalkan niat kita."


Setelah Raka berucap tidak ada lagi suara di dalam kamar itu. Malam datang begitu damai, seperti layaknya mereka berdua.


Maaf ya ... karena author slow update. itu semua karena selain menulis menyalurkan imajinasi. author juga harus mencari nafkah di dunia nyata. Terima kasih bagi yang selalu mendukung author tanpa menyalakan 🙏

__ADS_1


__ADS_2