Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
Bonchap 2


__ADS_3

Pesta masih berlangsung meriah malam ini. Begitu banyak tamu berdatangan sangat di luar dugaan. Semua orang sedang sibuk berbincang masing-masing. Zia begitu asyik tertawa dengan sang suami di antara tamunya.


Tanpa mereka sadari putri mereka sedang duduk menyangga tulang pipinya dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja. Obrolan orang dewasa sangat membingungkan baginya sehingga membuat bosan.


Raut wajah murung masih setia menemani saat melihat sang Mommy yang tampak masih enggan untuk menyudahi pembicaraannya. Huff ... beberapa kali terdengar suara helaan napas kebosanan dari bibir mungil dari wajah cantik itu.


"Hai, kamu sedang apa di sini?" Zika seketika menoleh mengangkat kepalanya saat ada suara anak laki-laki memanggilnya.


Ia menoleh lamat-lamat ke arah anak lelaki itu memakai kemeja bewarna putih dengan rompi biru tua yang terlihat elegan. Sedangkan tangan kanan memegang jas yang disampirkan ke pundak.


Rambutnya berwarna coklat membuat Zika membandingkan dengan cara menarik rambutnya sendiri yang berwarna hitam.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya anak laki-laki itu.


"Kamu siapa?" tanya Zika polos.


Dengan bersusah payah anak laki-laki itu menarik kursi kemudian duduk di samping Zika seulas senyum seringai muncul dari bibirnya. Kemudian mengulurkan tangan dengan jenaka.


"Perkenalkan namaku Aaric Carlos Miller. Aku datang bersama Ayah dan Ibuku, itu mereka sedang bicara dengan bibi dan paman tampan di sana." Ia menunjuk kedua orang tuanya yang sederhana asyik berbincang dengan Raka dan Zia.


Anak laki-laki blasteran Prancis dan Indonesia itu begitu tampan dengan tatanan rambut rapi di sisir belah pinggir.


"Apa kamu sama bosannya sepertiku?" tanya Zika.


"Tentu." Aaric juga menyangga pipinya. "Orang dewasa sangat unik, kadang mereka bicara panjang lebar, kadang mereka berantem."


Bola mata Zia tiba-tiba membulat ketika melihat putrinya bicara begitu akrab dengan seorang anak laki-laki selayaknya orang dewasa. Ia tidak percaya putrinya bisa bicara selantang itu dengan anak laki-laki yang baru dikenalnya.


Zia menepuk-nepuk lengan Raka yang sedang masih bicara dengan rekanannya. Hingga pembicaanya terhenti.


"Sayang, lihat putri kita." Kedua bola mata Zia mengarah pada Zika.


Raka terkekeh dengan posisi berdiri memasukkan satu tangan ke dalam kantong.


"Dia persis sekali sepertimu, suka menggoda laki-laki," selorohnya. Hingga wajahnya meringis saat mendapat sebuah cubitan dari sang istri.


"Bukankah kamu yang suka menggodaku, Tuan." Zia memicingkan mata tidak terima.


"Tuan, putraku dan putrimu begitu cocok, bagaimana kalau kita jodohkan mereka." Seorang dari belakang menyela perdebatan mereka berdua.


Dijodohkan?


Zia langsung menggeleng cepat. Tidak perjodohan cukup ia yang boleh mengalaminya tidak untuk anak-anaknya.


"Bagaimana, Sayang, apa kamu setuju kalau kelak mereka menikah?" tanya Raka menggapai tangan Zia.

__ADS_1


"Tidak, tidak, aku tidak mau. Biarkan mereka mencari cintanya masing-masing untuk menemukan kebahagiaan, kalau mereka berjodoh pasti akan dipertemukan, kalau tidak mungkin bukan jodoh," ucap Zia, melengkungkan bibir sambil mengangkat kedua pundaknya.


"Istriku memang yang terbaik." Raka menggandeng Zia dari samping sehingga mereka saling melempar senyuman.


"Aku harap mereka berdua di masa mendatang dipertemukan lagi oleh takdir," ucap Carlos ayah Aaric.


"Ya ... aku harap juga begitu," sergah sang istri di sampingnya.


Mereka kembali mengeluarkan gelagar tawanya sehingga tidak terasa waktu semakin menenggelamkan bulan. Pesta telah usai pada pukul 21: 00.


Para petugas kebersihan mulai membereskan sisa-sisa pesta yang cukup menumpuk.


Sementara Raka menggendong Zika yang sudah kelelahan ke kamar. Raka memindahkan tubuh Zika sebelumnya di dekapannya kini berpindah ke ranjang.


"Hati-hati," ujar Zia saat memapah Zika menyiapkan bantal.


"Sayang, biar Mommy bantu lepas pakaianmu, ya? Kamu harus membersihkan diri dulu sebelum tidur." Zia melepas ikatan rambut putrinya dengan perlahan. Kemudian berangsur menarik resleting kemudian terhenti sebelum Zika menggeleng.


Zia terhenti sambil mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"


Zika tetap menggeleng.


"Tapi sebelum tidur kamu harus mandi dulu, sayang. Apa kamu tahu, hari ini kamu sangat banyak berinteraksi dengan orang banyak?"


"Lalu tunggu apa lagi? Ayo kita mandi."


"Zika malu, Mommy ...."


"Malu?"


Ia mengangguk lagi.


"Malu dengan siapa?"


"Papi."


"Hahahaha ... maafkan Mommy, Sayang. Mommy lupa akan hal itu." Kemudian tatapan tajam Zia mengarah pada Raka di sampingnya diikuti sebuah gelengan.


"Sepertinya kamu harus menyingkir dari area kami para wanita, Tuan," kelakar Zia sambil bersedekap.


"Baiklah-baiklah, aku keluar. Tunggu saja, setelah putraku lahir aku akan mencetak satu kosong dengan kalian," ucap Raka kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.


Zia dan Zika terkikik kemudian tos beradu telapak tangan. Membuktikan sebuah kemenangan karena sudah membuat Raka keluar.


Kemudian Zia memandikan Zika memberi sampo ektra stoberi mencuci rambut hingga bersih. Setelah beberapa saat akhirnya mereka berdua keluar dari kamar mandi.

__ADS_1


"Mommy."


"Apa Zika?"


"Menikah itu apa sih, Mom?"


Zia yang sedang mengeringkan rambut Zika itu pun seketika menghentikan aktivitasnya sejenak kemudian melanjutkan lagi. Ia rasa tidak perlu memberi tahu putrinya diusianya sekecil ini.


Tapi ... bagaimana kalau Zika bertanya pada orang lain?


Ia segera mengerjapkan mata. Kemudian membalik tubuh Zika untuk menghadapinya.


"Sebenarnya seusia mu belum pantas mengetahui semua ini, Zika. Tapi ... karena kamu sepertinya sangat ingin tahu Mommy akan menjelaskan."


Zika tampak memasang mata dan telinga siap untuk mendengarkan tutur sang Mommy.


"Jadi ... menikah itu ... adalah upacara pengikatan janji yang dilaksanakan oleh dua orang yang saling mencintai, dengan meresmikan ikatan perkawinan maka dua orang akan saling memiliki, melengkapi, dan mencintai seutuhnya."


"Apa Mommy mencintai, Papi?"


"Kenapa bertanya begitu? Tentu saja mommy sangat mencintai Papi."


"Itu benar, Zika. Mommy sangat mencintai Papi, bahkan dia selalu mengejar-ngejar Papi untuk menikahinya," celetuk Raka yang baru saja muncul dari arah belakang.


Hah? Zia membulatkan mata. "Kau, lagi-lagi memfitnahku?"


Raka hanya menyunggingkan bibir dan menggedik kedua pundaknya..


"Papi dan Mommy sangat lucu," ucap Zika yang tertawa sambil menutup mulutnya.


Zia dan Raka mendekat pada Zika mereka menggelitik perut Zika sehingga membuat putri kecilnya tertawa terbahak-bahak. Hingga tak terasa waktu sudah semakin larut malam.


Zika terlelap di kamar orang tuanya. Sementara Zia masih sibuk membaca buku-buku mengenai metode melahirkan yang aman tanpa risiko. Jujur, pikirannya was-was kini. Bayang-bayang kejadian saat melahirkan Zika akan terulang lagi.


Namun Raka lebih waspada kini. Ia menemui dokter kandungan yang cukup profesional dan bisa mendeteksi kemungkinan jika ada masalah pada kandungan Zia lebih awal.


Dokter itu sudah memastikan kalau kondisi Zia benar-benar aman untuk melahirkan. Setidaknya itu semua bisa membuat Raka dan keluarga bisa bernafas lega, meskipun harus melahirkan melalui operasi sesar.


"Kamu akan baik-baik saja, aku bisa pastikan itu." Kata-kata itulah yang kerap kali Raka lontarkan untuk memberi ketenangan pada sang istri yang sangat ia cintai.


Hingga tarikan napas lega diikuti sebuah ulasan senyum terukir dari wajah Zia seraya mengangguk.


"Selama ada kamu, aku pasti baik-baik saja." Kemudian Zia menenggelamkan wajahnya dalam dada Raka.


Menikmati malam yang sunyi di bawah langit hitam dihiasi gemerlap bintang-bintang yang seolah ikut bersorak sorai menyaksikan kasyahduan dua insan yang memiliki cinta seluas samudra dan sekuat melebihi baja. Mereka berdua mengucap janji menyatukan kedua jari kelingking, berjanji untuk saling menemani, menyayangi dan melengkapi. Memiliki kebahagiaan yang utuh hingga menua bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2