
Tubuh Zia masih kaku karena koma selama 2 tahun membuat otot-otot geraknya belum berfungsi dengan benar, sehingga mengharuskannya berbaring di ranjang rumah sakit sepanjang hari.
Dengan telaten Raka menemani istrinya, mulai dari menyuapi makan, membersihkan tubuh Zia pagi dan sore. Semua itu dilakukan lelaki itu dengan senang hati.
Dokter mengatakan, Zia boleh dibawa pulang ke rumah asalkan ada dokter dari sana yang memantau. Karena masih dalam proses penyembuhan.
Pagi ini Raka mengurus beberapa prosedur-prosedur syarat kepulangan Zia. Sudah 2 tahun istrinya itu tinggal di sana kini akhirnya bisa kembali ke rumah.
“Jaga pola makan dan hidup sehat pasien Zia ya, Tuan. Dia sudah dinyatakan sehat, tapi ... tidak berarti kalian mengabaikan kesehatan. Wajib kontrol ke dokter jantung minimal satu bulan sekali,” titah dokter.
Raka yang duduk si hadapan mengangguk mengerti semua penjelasan dokter. Ada satu pertanyaan yang mengganjal dalam pikirannya ingin ia sampaikan pada dokter.
“Dok, saya ingin bertanya. Bagaimana kalau suatu saat istri saya hamil lagi? Dan apa itu tidak masalah?”
Dokter itu tersenyum. “Tidak masalah, dia sudah sehat. Bahkan untuk hamil 10 kali pun bisa, tapi kemungkinan kecil. Karena proses melahirkan sesar hanya mempunyai batas melahirkan tiga kali. Tapi tidak berarti setelah ini Anda bisa langsung membuat hamil ya,” kelakarnya.
“Heuh, dokter bisa aja.” Raka menahan senyumnya. Kenyataan dia memang sudah sangat merindukan istrinya.
“Untuk sementara waktu, istri Anda harus melakukan terapi dulu. Saya harap Anda bisa mendampingi ke rumah sakit untuk terapi.”
“Pasti, dok!” jawab Raka dengan yakin.
“Ini surat-suratnya. Pihak rumah sakit sudah memberi pernyataan, kalau pasien sudah diizinkan pulang ke rumah atas permintaan dan persetujuan dari pihak keluarga.” Dokter memberikan berkas kepada Raka.
“Baik, dok. Saya mengucapkan banyak terima kasih karena selama ini sudah merawat istri saya.”
Dokter itu mengangguk puas. “Itu sudah menjadi kewajiban bagi kami, Tuan. Melihat istri Anda sadar suatu keajaiban bagi saya. Selama bertahun-tahun baru kali ini menyaksikan keajaiban seperti ini.”
Raka menegakkan posisinya seraya tersenyum tipis. Ia pun berpamitan pada dokter, setelah menjabat tangan Raka ke luar dari ruangan itu.
Setelah membuka ruang Zia, Raka melihat senyum istrinya. Pasti di balik senyuman itu adalah Zika buah hati mereka. Zia sudah tidak sabar ingin bertemu anaknya, melihat bagaimana gadis kecil itu tumbuh selama 2 tahun ini.
__ADS_1
Raka mendekati Zia yang tersenyum-senyum sendiri. Sedangkan tangannya memegangi cermin di pangkuan. Zia tersentak saat Raka mencubit hidungnya gemas.
“Lagi mikirkan apa sih, istri kecilku?” tanya Raka mencubit gemas seraya menggerakkan pelan.
Zia mengerucutkan bibir manja lalu berkata, “Sakit tau.”
Raka menatap Zia lalu duduk di ranjang berhadapan dengan Zia. Lelaki itu memandang dalam-dalam.
“Zia.”
“Hum?”
“Apa kau masih merindukanku?”
“Sedikit.” Zia mengukur dengan antara ibu jari dan telunjuk.
“Kok sedikit?” Raka menautkan kedua alisnya tidak suka. “Apa kau tidak mencintaiku lagi, hah? Apa kau bertemu dengan pangeran di alam mimpimu selama dua tahun ini?” sungut Raka.
Zia tersenyum tipis lalu mendekat menyelusupkan tangan memeluk Raka sementara wajahnya ia tenggelamkan dalam dada suaminya.
“Kita pulang?” Raka menjauhkan tubuhnya meraih wajah Zia untuk menatapnya. “Kau pasti sangat merindukan Zika, bukan?”
Zia mengangguk. Ia sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan anaknya, ingin melihat wajah asli yang ia lihat dari foto ponsel. Zia sudah tidak sabar ingin memeluk, mencium, tidur bersama-sama. Zia ingin melakukan banyak hal dengan Zika.
Setelah semua siap Zia ditemani tenaga medis di bawa pulang oleh Raka. Jett pribadi disulap layaknya sebuah ruangan rumah sakit mulai, dari tenaga medis, obat-obatan dan berbagai macam banyak alat ada di sana.
Dengan jarak tempuh 1 jam 30 menit pesawat itu tebang menuju negara asal. Zia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan sang buah hati. Bayangan putri kecilnya itu selalu menghinggapi pikirannya.
Betapa senangnya dia nanti saat tiba disambut oleh Zika berteriak memanggil “mama”. Betapa senangnya dia, saat Zika dalam pangkuannya, betapa senangnya dia, ini dan itu. Saat ini pikiran Zia sudah berada di rumah walau tubuhnya di atas pesawat.
“Sayang, nanti saat kita sampai dan kalau aku sudah kembali sehat, aku mau kita bertiga jalan-jalan menghabiskan waktu bersama dengan Zika. Pasti sangat indah,” ucap Zia berbaring sedangkan Raka duduk di sampingnya.
__ADS_1
“Nanti akan kupikirkan.” Raka seperti tidak antusias dengan permintaan Zia. Benar saja, pasti sekarang istrinya itu akan lebih banyak mengabaikannya karena terlalu sibuk dengan Zika.
“Kenapa harus masih dipikirkan?”
“Ya ... karena semua harus dipertimbangkan. Selain liburan dengan Zika, aku juga ingin berlibur hanya denganmu.” Raka mendekat dan berbisik di dekat telinga Zia. “Aku ingin kita bulan madu yang kedua.”
Wajah Zia sontak memerah. Suaminya itu memang luar biasa. Di saat kondisinya belum pulih mempunyai pikiran seperti itu. Dasar Raka!
“Tidak mau, aku maunya sama Zika.”
“Akan kupertimbangkan.” Raka dengan santai kembali duduk.
“Sebaiknya Anda konsentrasi dulu untuk kesembuhan Nyonya Zia dulu, Tuan. Bukan memikirkan bulan madu,” gumam Dion yang secara kebetulan lewat berdiri di belakang Raka. Setelah bergumam lelaki itu berlalu pergi ke tempat duduknya.
“Oh iya, Zia.”
“Apa?”
“Aku ingin menguji fungsi anggota tubuhmu. Apa sudah bisa mereaksi sentuhan dengan benar atau belum.” Raka berucap sembari memikirkan sesuatu.
“Caranya?” Zia menaikkan sebelah alisnya bertanya-tanya.
“Caranya ...,” Raka memutar bola matanya lalu menatap Zia dengan senyum menggoda. “Caranya seperti ini.” Ia menggelitik perut Zia dengan jari telunjuk, hingga Zia menggaduh kegelian.
“Hahahah hentikan, Raka. Hei bukan seperti ini caranya.” Zia menggelinjang kegelian sedangkan Raka ikut tertawa karena refleks tubuh Zia menjadi lebih aktif dari pada sebelumnya.
Dua dokter yang berada di belakang hanya saling melempar pandangan seraya mengulum senyum.
Sedangkan dua pasang sejoli itu masih sibuk bermesraan. Tidak peduli dengan beberapa orang di sana.
Tingkah mereka berdua memang konyol bagai seorang pasangan muda mudi yang sedang dimabuk cinta. Raka sama sekali tidak mau menjauh dari istrinya. Dari semenjak dari rumah sakit hingga di dalam pesawat lelaki itu terus saja ada di dekatnya.
__ADS_1
Sedangkan Dion dari kejauhan memandang malas mereka berdua. Tentu saja, statusnya yang sebagai jomblo meronta melihat semua adegan bermesraan bosnya itu. Sembari meneguk minuman lelaki itu memalingkan wajah menatap luar jendela. Mungkin itu lebih enak dipandang mata. Dari pada pemandangan di hadapannya.
Terima kasih yang masih setia dukung karya author🙏