Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 38


__ADS_3

Pikiran Zia seketika berkelebat hal-hal buruk tentang suaminya. Wanita tadi, makanan ini, dan sikap Raka yang tiba-tiba berubah. Apa memang suaminya itu mempunyai wanita lain? Zia menoleh ke arah belakang Raka sedang menyantap makanan.


Zia berbalik badan berjalan kembali duduk di samping Raka. Ia ragu apa sebaiknya bertanya atau tidak?


Setelah menimbang-nimbang begitu lama sembari memerhatikan Raka yang sedang memakan penutup Zia mengumpulkan keberanian untuk bertanya.


"Raka, apa aku boleh bertanya padamu?" tanyanya dengan keraguan mengigit bibir bawahnya.


"Tanya saja," jawab Raka sambil asyik menyendok puding spesial yang dibuat Zia.


Keraguan mulai menyergap pikiran Zia, ia takut jika bertanya suaminya itu akan marah karena menganggap ia tidak percaya. Tapi rasa ingin tahunya lebih besar di banding apa pun.


"Ak-aku, tadi membuka tong sampah. Dan--aku, melihat makanan terbuang di sana."


Raka seketika menoleh dan membuat Zia takut menurunkan pandangannya. Zia sudah mengira pasti Raka tidak akan suka jika ia bertemu seperti itu.


Raka tampak diam sejenak kedua sudut bibirnya tertarik ke atas, setelah kemudian menggeleng kecil.


"Makanan itu tadinya aku meminta Dion untuk membelikannya untukku. Tapi karena rasanya sedikit aneh aku membuangnya, dan ternyata secara kebetulan kamu datang membawa makanan untuk ku. Kamu memang istri yang pengertian." Raka merangkul tubuh mungil sang istri yang terlihat kaku itu.


Zia tersenyum, seharusnya ia tidak boleh memiliki pikiran buruk tentang Raka.


Hingga suara Dion mengejutkan mereka berdua, tapi tidak membuat Raka melepas pelukannya yang begitu posesif pada sang istri.


Dion menunduk menurunkan pandangannya tidak berani menatap mereka berdua. "Maaf, Tuan, karena pintu terbuka jadi saya putuskan untuk langsung masuk, dan saya tidak tahu kalau Nyonya ada di sini."


"Tidak apa, Dion," balas Zia kemudian melepaskan tangan Raka. Ia membereskan sisa makanan kemudian menatap tangan kanan Dion.


"Apa yang kamu bawa, Dion?" tanyanya sambil memasukkan wadah ke dalam paper bag.

__ADS_1


"Ini makanan untuk, Tuan." Dion maju beberapa langkah untuk memberikan kantong plastik berwarna putih itu.


Zia seketika menghentikan aktivitasnya, bola matanya memutar ke arah Dion lalu Raka seolah minta jawaban dari semua ini. Bukankah baru saja Raka bilang kalau dia baru saja meminta Dion membelikan makanan karena tidak suka dia membuangnya? Tapi kenapa Dion kini datang membawa makanan lagi?


"Ah, tadi karena aku tidak menyukai rasanya jadi menyuruh Dion untuk membeli lagi di tempat lain." Sebelum Zia bertanya Raka menjawab terlebih dulu. Sepertinya lelaki itu tidak ingin istrinya salah paham.


"Benarkah?" tanya Zia. "Tapi sayang sekali kamu sudah makan, sayang. Jadi berikan saja makanan itu pada karyawan yang belum makan."


"Ide yang bagus," jawab Raka. "Dion berikan saja makanan itu pada karyawan itu," tunjuknya secara kebetulan ada OB lewat sedang mengepel lantai.


Setelah kembali memberikan makanan tersebut, Dion kembali menghadap Raka. "Tuan, tadi Direktur Exen Crop menghubungiku, beliau mengatakan bahwa Anda harus datang ke pesta perayaan ulang tahun putrinya malam ini."


Raka tampak berpikir sejenak karena sejujurnya setelah tender itu dimenangkan oleh Exen, dia tidak berselera untuk menghadiri acara jamuan makan malam dan lain sebagainya.


"Apa itu penting?"


Dion mengangguk. "Sangat penting," jawab Dion.


Belum juga Dion melanjutkan kalimatnya, Raka memberi isyarat dengan cara menempelkan jari telunjuk di depan bibir.


"Itu kesempatan yang bagus, kenapa kamu tidak menerimanya saja, sayang?" sahut Zia.


Yang dikatakan Zia dan Dion memang benar, Exen Crop jika bersedia membantu pasti tidak akan sulit untuk membuat perusahaannya pulih lagi seperti semula, dan ia tidak akan menghabiskan banyak waktu di kantor seperti ini.


"Baiklah, aku akan datang. Tapi kamu ikutlah denganku, Zia?" Karena tidak ada yang lebih baik dari pada mengajak istri saat menghadiri pesta.


"Dan Zika?" tanya Zia.


"Untuk sementara, biarkan putri kita bersama mama dulu. Lagi pula kita sudah lama tidak makan malam berdua, bukan?"

__ADS_1


Zia mengangguk, semenjak ia tersadar dari koma memang mereka jarang untuk pergi berdua, tidak hanya jarang bahkan tidak pernah sama sekali. Zia lebih banyak menghabiskan waktu di rumah bersama Zika. Sementara Raka terlalu sibuk di kantor karena dalam beberapa tahun ini terbengkalai akibat mengurusinya di rumah sakit.


"Baiklah, aku mau," jawaban Zia membuatnya berdiri. Mengambil paper bag di atas meja ia akan pulang.


"Aku akan pulang untuk bersiap-siap. Setelah pekerjaanmu selesai, aku harap bisa menjemput ku di rumah."


Raka berdiri menghadap sang istri. "Tentu, sayang." Memegang tengkuk Zia memberi ciuman sekilas di bibir.


Dion segera mengalihkan tatapannya ke objek lain.


"Hati-hati di jalan, Dion akan mengantar mu," ucapnya setelah tautan di bibir mereka terlepas.


Zia pulang ke rumah diantar oleh Dion. Sesampainya di rumah ia bersiap-siap memilih-milih pakaian yang sesuai dengan acara yang akan ia hadiri malam nanti. Ia membuka lemari pakaian semua koleksi pakaiannya hampir semua dikeluarkan.


Hingga matanya tertuju pada sebuah gaun silver, Zia mengingat gaun itu hadiah yang diberi Raka beberapa hari lalu. Setelah mendapat pakaian Zia pun melanjutkan dengan ke kamar mandi berendam di bathtub dengan ektra ceriblosom.


Setelah keluar mandi denting ponsel membuatnya menoleh dan segera meraih, Zia menaikkan sebelah alisnya saat nama pemanggil adalah mama Clarys.


"Halo, Ma," ucapnya.


"Zia, apa kamu sudah pergi makan malam?" tanya Mama Clarys sedikit terdengar panik.


"Belum Ma, aku baru saja bersiap-siap. Ada apa memangnya?"


"Zika dari tadi nangis terus, Zi. Apa kamu bisa ke sini segera?"


"Baiklah Ma, aku akan cepat sampai sana." Zia memejamkan mata kemudian melangkah mengambil pakaian seadanya untuk ia kenakan.


Beginilah risiko seorang yang sudah mempunyai anak, pasti tidak akan leluasa untuk hanya sekedar makan malam berdua. Zia memutuskan untuk tidak ikut Raka menghadiri pesta dan memilih untuk menjaga Zika di rumah.

__ADS_1


Raka awalnya membatalkan pergi ke pesta Karena tidak ada Zia bersamanya, tapi Zia berhasil membujuk hingga lelaki itu memutuskan hanya berdua dengan Dion.


__ADS_2