Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 56


__ADS_3

Raka menatap tajam ke arah Dion kemudian Sesil secara bergantian. Wajahnya tampak murung sepertinya sedang kesal kini, tatapan malas langsung menyambut keduanya sambil bersidekap menyandarkan tubuh di pinggiran pintu.


"Ada apa?" tanyanya ketus. Tatapannya semakin malas saat melihat Sesil di hadapannya.


Sesil sadar hal itu, kesalahan yang dia perbuat memang terlampau banyak. Tidak akan mudah membuat seseorang dengan mudah memaafkannya. Sesil menatap Dion ragu-ragu seperti tidak ingin melanjutkan permintaan maafnya saat melihat tatapan membunuh dari mata Raka.


Sebelum kemudian Dion menggeleng memintanya untuk tetap bertahan. "Maaf Tuan, kalau kami berdua harus mengganggumu. Ada yang ingin dikatakan oleh Sesil kepada Tuan dan Nona, terutama Nona Zia."


"Ada perlu apa?"


"Sesil ingin meminta maaf atas kesalahannya, Tuan."


Raka memicingkan mata kini tatapannya mengintimidasi Sesil, seolah membuat mati kutu seketika.


Benarkah Sesil ingin minta maaf?


"Hemm ...." Raka masih belum yakin, ia takut ini adalah salah satu cara baru yang digunakan oleh Sesil untuk mengganggu kehidupannya lagi. Tapi setelah kemudian ia menatap Dion. .


Raka percaya penuh dengan sekretarisnya itu. Ia berdehem kemudian berkata, "Apakah benar, Dion?"


Yang langsung mendapat sebuah anggukan oleh Dion. "Saya bisa menjaminnya, Tuan."


'Mana berani aku berbohong padamu, Raka. Sedangkan Dion akan menghukumku dengan mengenaskan.' batin Sesil.


"Tapi Zia sedang tidak bisa diganggu kali ini. Lebih baik kau datang saja lain kali saja." Tak ingin memperdulikan jawaban Sesil Raka langsung membalik badan kemudian masuk ke dalam rumah namun.


"Tunggu dulu, Raka." Sesil memegang lengan Raka tanpa sadar membuat sang empu menautkan alis tidak suka. Refleks membuat Sesil menjauhkan tangannya.


"Maaf," ucapnya, "Tapi kumohon izinkan aku bertemu dengan Zia, please ...." Wajah Sesil nanar memohon seperti tatapan anak kucing kehilangan induknya.


'Ck. Kenapa datang harus sekarang. Padahal hari ini aku sudah memutuskan untuk menghabiskan waktu berdua saja dengan Zia,' batin Raka. Namun meskipun demi kian ia masih memiliki rasa kasihan pada Dion dan Sesil. Tangan kekarnya bergerak untuk membuka pintu lebar-lebar.


"Baiklah, tapi tidak lama. Karena kalian sangat menggangguku saja!" gerutu Raka, kemudian ia meninggalkan sepasang suami istri itu di ruang tamu.


Sesil terus saja meremas jari-jarinya menandakan ia takut kali ini. Tapi ia mencoba lawan rasa takut itu demi sebuah maaf.

__ADS_1


Tidak lama berselang, Zia datang menemuinya. Seketika suasana dingin menyelimuti setiap sudut ruangan itu. Tidak ada yang membuka suara baik pun Zia atau Sesil hingga suara Raka membuat Dion menoleh.


"Dion, ikutlah denganku ke ruang kerja. Ada beberapa berkas yang ingin ku jelaskan padamu."


"Baik, Tuan." Tidak menunggu lama Dion masuk ke dalam meninggalkan Zia dan Sesil. Mungkin Raka memanggilnya bermaksud ingin memberi kesempatan Zia dan Sesil untuk bicara berdua.


Sesil masih berdiri mematung seperti halnya Zia. Hingga kemudian suara lembut selembut tatapan matanya itu mempersilakan duduk.


"Duduklah." Zia menunjuk kursi dengan telapak tangan untuk Sesil duduk kemudian ia duduk lebih dulu dari sana.


Sesil duduk di kursi seberang Zia tampak bingung harus memulai pembacaan dari mana.


"Katakan." Satu kata yang keluar dari bibir Zia. Cukup membuat Sesil semakin takut karena wajah Zia tampak jutek.


Sesil masih teringat bagaimana kemarahan seorang Zia beberapa waktu lalu, yang belum sepenuhnya pulih telah datang ke rumahnya tengah malam dan menampar dirinya tanpa ampun sehingga rasa ngilu itu masih terbayang hingga sekarang.


"Zia, aku--aku," ucap Sesil terbata-bata.


"Aku tidak banyak waktu, Sesil ... cepat katakan apa yang ingin kau katakan!" perintah Zia seperti tidak suka dengan kehadiran Sesil.


"Lalu?" tanya Zia ketus. Menaikkan sebelah alisnya dahinya berkerut dalam.


Duh, Zia seperti tidak menunjukkan tanda-tanda ingin memaafkan Sesil. Sekarang Sesil harus bagaimana?


"Jadi begini." Sesil membenarkan posisinya. "Aku berharap kau mau memaafkan kesalahanku, Zia," ucapnya.


Zia memalingkan wajah kemudian menyandarkan punggungnya ke kursi. Tangannya masih setia bersidekap. Sepertinya ia belum ingin memaafkan Sesil kali ini.


"Apa ada maksud lain, di balik ini semua?" hardik Zia menatap tajam wanita di hadapannya. Langsung mendapat sebuah jawaban gelengan kepala.


"Aku berani bersumpah kalau aku tidak mempunyai maksud lain, Zia. Percayalah padaku," jawab Sesil. Kali ini sorot matanya berani menatap Zia dengan tatapan tulus.


Sebelah sudut bibir Zia tertarik ke atas membentuk sebuah seringai. Menganggap semua yang dikatakan Sesil hanya omong kosong.


Dulu dia pernah mempercayai wanita ini, begitu percaya hingga membiarkan anaknya untuk dia rawat. Tapi apa yang Zia dapatkan? Bahkan Sesil berniat merebut Zika dan Raka darinya.

__ADS_1


Seketika suasana ruang tamu itu menjadi hening kembali. Sesil merasa malu karena permintaan maafnya seperti tidak mendapatkan tanggapan. Mungkin ia akan berusaha lagi esok, atau mungkin suatu saat.


Zia beranjak dari kursi refleks membuat Sesil menggeleng, berharap jangan pergi karena ia belum mendapatkan permintaan maaf atau tidak. "Kau mau ke mana, Zia? Please ... jangan biarkan aku tanpa kepastian seperti ini," pinta Sesil ikut berdiri mencegah Zia.


Zia memandang malas kemudian berkata, "Aku melihat dirimu haus, apa sebagai tuan rumah aku akan diam saja tanpa menyuguhkan apa-apa? Bagaimana kalau kau pingsan karena kehausan di sini?"


Ternyata di balik sikap acuhnya Zia masih memiliki rasa khawatir. Jiwa baik hatinya tidak bisa hilang begitu saja walau ia terlihat marah.


Sesil diam, kembali duduk di sofa menunggu Zia membuat minuman.


"Jangan sampai ada yang tertukar, bahan-bahan ini sangat penting untuk kosmetik terbaru yang akan kita rilis."


"Baik Tuan."


Suara dua orang itu terdengar sedang berjalan ke ruang tamu. Sesil mendongak Dion sudah berdiri di hadapannya.


"Sesil, apa kau sudah selesai? Ayo kita pergi," ajak Dion.


Secara bersamaan Zia datang dari arah belakang membawa nampan berisikan dua cangkir berisikan teh kemudian ia letakkan ke meja.


"Kalian mau ke mana, Dion? Bahkan aku belum menjawab permintaan maaf Sesil," ucap Zia. Raka yang berada di sampingnya menaikkan sebelah alisnya. Ternyata urusan mereka belum selesai.


"Duduklah. Kau juga, sayang!" Perintahnya pada Raka. Kemudian mereka berempat duduk bersamaan di sofa. Zia berada di samping Raka dan Sesil berada di samping Dion.


"Apa kau yakin permintaan maafmu tulus, Sesil?" hardik Zia menatap tajam Sesil yang mengangguk.


"Aku sudah minta maaf dengan segala kesalahanku, hanya cara ini jalan satu-satunya. Dan aku harap kau mau memaafkan aku, Zia."


"Sayangnya aku tidak percaya, Sesil."


Seketika Sesil diam.


Dion juga Diam.


Sedangkan Raka menatap istrinya dengan tatapan tanda tanya. Tidak seperti biasanya Zia bersikap seperti ini pada seseorang.

__ADS_1


Kalau masih suka jangan lupa voucher vote pojok sebelah kanan dan hadiah ada gambar kotak di tengah. Masa gitu aja nggak bisa sih wkkwkwkk


__ADS_2