Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
BONCHAP 4


__ADS_3

Tegang.


Udara di malam hari bagi Sesil terasa mencekam saat ia berjalan di lorong klinik dokter kandungan. Bukan karena takut hantu, bukan pula ia takut jika tiba-tiba sesosok mahluk astral muncul di hadapannya, bukan, bukan itu.


Akan tetapi semua suasana mencekam yang diciptakan dari dalam dirinya membuat bulu-bulu halusnya merinding semua itu karena genggaman tangan Dion yang memegang tangannya erat sembari berjalan cepat tanpa menoleh tidak peduli padanya yang mengimbangi langkah kakinya cukup lebar.


Tekatnya begitu kuat bahwa tidak percaya dengan hasil tespack yang ia tujukan sebelumnya. Sekarang Sesil dalam bahaya, bagaimana jika setelah masuk dokter memeriksa dan mengatakan bahwa ia tidak hamil karena meminum obat pencegah kehamilan?


Apa yang harus dia lakukan? Bulu-bulu halus perempuan itu meremang saat membayangkan kejadian itu. Dion pasti akan murka, dan kemurkaannya adalah hal yang tidak ia inginkan.


Gleg.


Ia menelan saliva untuk membasahi tenggorokan yang tiba-tiba tercekat saat tiba di pintu berwarna abu-abu di bagian terdapat plan nama dr. Andreas Maitra, Sp.OG.


Mata Sesil membulat, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Berulangkali ia mencoba menelan saliva namun masih saja tenggorokannya masih kering. Sepertinya ia butuh minum.


"Di-on." Ia menepuk lengan Dion yang terus saja ingin membawanya masuk ke dalam ruang dokter.


"Dion, bisakah aku membeli minum lebih dulu? Aku haus," ujarnya memelas.


Namun sayangnya Dion tidak memedulikan. Tetap saja berjalan membawanya duduk di kursi hadapan dokter yang tersenyum ramah pada mereka itu mempersilakan duduk kemudian menyuguhkan sebuah air mineral dalam kemasan di depan Dion dan Sesil. Rupanya ia mendengar ketika Sesil mengatakan kalau dia haus tadi.


"Silakan, Tuan, Nyona. Dokter Sesil aku tidak menyangka kalau kita akan bertemu di sini. Apa yang membawa dokter kandungan menemui dokter kandungan lainnya?" selorohnya.


Dokter itu mengenal Sesil, bahkan cukup mengenal karena ia adalah dokter senior Sesil hanya saja tempat praktek mereka berdua yang berbeda. Sesil yang berwajah kaku hanya menanggapi dengan senyum masam dan mengalihkan pemandangannya.


"Dok, saya ingin memeriksakan istri saya, untuk memastikan bahwa dia hamil atau tidak," sambar Dion dan tentunya semakin menambah ketakutan Sesil kian bertambah.


"Hamil? Apa kalian sudah--"


"Iya, kami sudah menikah," jawab Dion cepat saat mengetahui maksud dari pernyataan dokter tersebut.

__ADS_1


Dan itu sukses membuat Sesil meremas jari-jarinya sendiri karena gugup. Andai saja ia bisa menghilang ke dasar bumi saat ini pasti sudah dia lakukan.


Wajah Dokter itu masih tercengang, menatap Dion kemudian menatap Sesil yang semakin menunduk.


"Benarkah itu, Sesil?"


Sesil tidak menjawab.


"Apa Om sama tante tau kalau kamu sudah menikah?"


Yah, Sesil dalam masalah besar kali ini. Ia lupa selain senior dokter Maitra hubungan kerabat jauh dia juga begitu dekat pada kedua orang tuanya.


"Sesil, apa kalian sudah menikah?" ulangnya lagi. Dengan bersusah payah mengangguk untuk menjawab.


Sontak membuat satu sudut bibir Dion tertarik membentuk sebuah seringai. Akhirnya dia mengakui pernikahan mereka di hadapan orang lain. Begitu kiranya dalam hati.


"Waow ...." Dokter itu mengangguk-angguk kan kepala sebagai penutup keterkejutannya.


Ya, ia tahu. Jalan satu-satunya adalah Dokter Maitrra. Mungkin wanita yang hampir memasuki usia kepala 4 itu bisa membantunya.


"Dokter, apa aku bisa bicara denganmu berdua saja?" Kemudian pandangan Sesil menoleh pada Dion.


"Dion, apa kamu bisa tinggalkan kami? Ada hal penting yang ingin ku bicarakan padanya."


Sayangnya, wajah Sesil yang memohon dan kata-kata "ada hal penting" semakin mengundang rasa penasaran dalam diri Dion. Lelaki itu menggelengkan kepala kemudian.


"Aku akan di sini, sampai dokter selesai memeriksa dan kita akan keluar secara bersamaan."


Duh, kalau Dion tidak mau menyingkir kemudian bagaimana dengan nasibnya? Sesil hampir frustasi memikirkan itu semua.


"Baiklah kalau begitu, kita langsung mulai saja, Sesil. Ada banyak pasien di luar, dan waktuku tinggal sebentar lagi."

__ADS_1


Sesil menegang menoleh ke arah Dion justru mendapat sebuah anggukan dan senyum tipis seolah sengaja ingin menambah kekacauan dalam dirinya.


Asisten Dokter itu menyibak penutup gorden berwarna biru antara pembatas tempat konsultasi dan ranjang tinggi berukuran hanya muat satu orang sedangkan di sebelahnya terdapat layar monitor Ultrasonografi dan alat-alat lainnya.


Entah kenapa melihat perlengkapan-perlengkapan itu membuat dada Sesil semakin berdetak kencang seperti layaknya seorang yang akan melakukan operasi besar.


Sementara Dion yang masih duduk dari kursi yang masih sama diduduki tadi menatap dengan tatapan tidak sabar.


Dokter itu mulai duduk di kursi di samping ranjang ia berbaring. Sementara perawat tersebut sudah siap memegang botol berwarna putih. Sesil tahu itu adalah cairan pelumas untuk mempermudah alat sonografi berselancar di perutnya.


"Kamu seorang dokter, Sesil. Kenapa terlihat tegang seperti itu," ejek Dokter Meittra. sukses membuat perawat yang berdiri di sampingnya mengulum senyum merasa lucu, dan langsung berhenti saat melihat tatapan Sesil tidak suka.


Sialan semua orang di dalam sini, Sesil merasa saat ini tengah menjadi tontonan mereka bertiga. Menyebalkan!


"Oke, kita mulai." Setelah suara Dokter Meittra terdengar untuk beberapa saat Sesil memejamkan mata dan menghela napas dalam-dalam.


Ia harap keajaiban datang, pemadaman listrik, atau tiba-tiba dokter Meittra mules. Ia akan merasa senang jika itu terjadi. Tapi justru ia merasakan kaos yang ia kenakan di singkap ke atas sampai ke bawah dada.


Kemudian ia merasakan dingin saat perawat menuangkan cairan gel itu ke atas permukaan kulit perutnya. Tapi itu bagai kobaran api yang siap akan menyambar kehidupan Sesil kedepannya.


Pandangan Sesil turun untuk menatap Dion yang masih duduk di sana. Ia tatap lekat-lekat pria itu, entah apa yang terjadi setelah ini. Mungkin ia tidak akan bisa bertemu lagi dengannya setelah orang tuanya tahu. Bagaimana pun sifat Dion selama ini padanya, nyatanya kini ia merasa takut kehilangannya.


Sangat taku jika Dion mengetahui ia tidak hamil dan terbukti meminum obat pencegah kehamilan.


Jantung Sesil kian berdetak kencang saat Dokter Meittra menggerakkan alat di atas perutnya. Dokter itu menatap layar lekat-lekat untuk memastikan. Sementara Sesil tak henti-hentinya memohon dalam hati supaya mendapatkan keajaiban.


Suara helaan napas terdengar dari Dokter Meittra disusul kemudian mematikan alat itu, melepas kaca mata kemudian kembali duduk di kursi hadapan Dion.


Setelah perawat selesai membersihkan perutnya dengan tisu, Sesil berjalan menghampiri Dokter dengan duduk di samping Dion.


Kini wajah sepasang suami istri itu begitu tegang. Bahkan sangat tegang saat menunggu kalimat dari dokte.

__ADS_1


"Dih, author sialan banget digantung lagi. gue cekek juga lu🙄" kata Dion.


__ADS_2