Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 26


__ADS_3

Raka bergelagar tidak bisa menghentikan tertawanya karena mendengarkan cerita dari Dion. Ia tidak menyangka kalau sekretarisnya itu bisa membuat Sesil bersedia menikah dengannya hanya karena mengancam menyebarkan foto-foto perempuan itu tanpa busana ke berbagai sosial media.


Raka menyesap cangkir berisikan kopi dengan hati-hati. Setelah minum ia meletakkan cangkir itu ke meja lalu berkata, “Tapi ... apa kamu benar-benar serius ingin menjadikan Sesil istrimu?” Ia menegapkan posisi duduknya diposisi nyaman. “Maksudku—kamu sudah tahu, kan, Sesil itu seperti apa?”


“Iya aku tahu, Tuan. Aku sudah siap menanggung risikonya. Dan ... yang terpenting lagi aku harus membuat dia menjauhi keluarga Anda. Aku sudah berjanji pada Ayah akan selalu melindungi keluarga kalian, selayaknya ayah dulu.”


“Pak Handoko memang tidak pernah main-main mendidik anaknya.” Raka tersenyum mengingat kebaikan pak Handoko.


Dion adalah anak pertama dari Handoko. Setelah Ayahnya memutuskan untuk berhenti bekerja, setelah lulus dari Universitas ternama di negara Amerika Dion memutuskan untuk menggantikan posisi ayahnya untuk menjadi sekretaris Raka.


Dion sangat berhutang budi terhadap keluarga Raka. Karena berkat dari mereka Dion dan keluarganya tidak pernah kekurangan segala sesuatunya. Termasuk biaya kuliahnya hingga menjadi lulusan terbaik. Oleh sebab itu Dion berjanji akan melakukan apa pun sesuai janjinya pada sang Ayah untuk menjaga keluarga Raka.


“Beliau sangat menjaga kepercayaan Ayah Anda, Tuan,” ucap Dion mengingat almarhum Ayahnya yang sudah 2 tahun meninggal.


“Aku juga sangat berjasa pada beliau, Dion.” Raka mengerjapkan mata menyadarkan dari lamunan yang teringat tentang pak Handoko.


“Oh ia, Dion. Bagaimana kabar Rio, dia dua hari yang lalu pergi ke kota K untuk membangun perusahaan di sana, bukan? Lantas, apa dia sudah sepenuhnya mendapatkan pembebasan lahan itu?”


“Saya akan menghubungi dia, Tuan.” Dion merogoh ponsel dari saku jasnya menekan nomor bernama Rio.


Di tengah loby hotel seorang laki-laki mengenakan kemeja berwarna navi dilipat sampai ke siku langkahnya harus terhenti saat ponsel dalam genggamannya berdering. Ia menggeser tombol berwarna hijau itu ke atas lalu mendekatkan ke telinga.


“Halo?” ucapnya sembari meneruskan berjalan keluar dari hotel menuju mobil.


“Halo Bro, apa kabarmu dua hari ini tidak ada memberi kabar?” tanya Dion dari seberang sana.


“Baik," jawabnya. Rio terus saja berjalan sambil mendengar Dion berbicara dari dalam telepon. Hingga ia menaiki sebuah mobil berwarna hitam membawanya meninggalkan pelataran hotel.


“Aku akan menuju lokasi, memeriksa semua, apa memang lahan yang akan kita bangun sudah strategis atau belum,” ucapnya masih tersambung dengan Dion.

__ADS_1


Saat ia mengemudikan sambil menelepon tiba-tiba ia harus dikejutkan dengan sesosok anak kecil tiba-tiba melintas di hadapannya.


Citttttttt


Ia menginjak rem dengan sekuat tenaga beruntung mobil berhenti tepat berada di hadapan anak kecil itu. Rio menarik napas lega mengusap wajahnya hampir saja ia menabrak seorang anak kecil tidak berdosa.


Seorang perempuan memakai sepatu heels berlari ke tengah jalan segera mendekap anak kecil itu. Melihat ia memeluk erat disertai Isak tangis dan berulang kali mengecup kepala anak kecil sepertinya itu putranya.


Setelah menghela napas merasa tenang, Rio keluar dari mobil berniat melihat keadaan anak kecil itu baik-baik saja atau ada yang terluka. Lagi pula anak siapa sih dibiarkan berkeliaran di tengah jalan sendirian.


Rio berdiri di belakang sang ibu yang sedang memeluk anaknya dengan erat. Ia memegang pundak perempuan itu untuk menyuruhnya berhenti menangis supaya menyingkir dari jalanan karena menimbulkan kemacetan.


“Maaf, apa anak Anda baik-baik saja, Nona?” tanyanya.


Mendengar pertanyaan Rio perempuan cantik berkulit putih itu menoleh. Dan seketika matanya membuat sempurna. Itu juga dengan Rio lelaki itu tidak kalah terkejutnya saat melihat perempuan di hadapannya.


Tergesa-gesa perempuan itu melepaskan pukulan dari tubuh anaknya. Lalu menggandeng anak kecil berusia 6 tahunan itu mengabaikan Rio meninggalkan begitu saja.


“Arini tunggu!” Rio mengejar Arini dan anak kecil yang sudah ke tepi jalan. Arini terus saja berjalan tidak menoleh sedikit pun.


“Tunggu, Arini!” Ia menarik tangan perempuan itu hingga menghentikan langkah. Entah kenapa dari dasar hatinya ada yang bergetar saat melihat ibu dan anak itu.


“Rio, biarkan aku pergi. Lagi pula kenapa sih kamu memanggilku, bukankah setelah kita berhubungan kau bilang setelahnya kita tidak ada urusan lagi?”


“Iya aku tahu, Arini. Tapi apa aku salah kalau aku hanya sekedar bertanya atau menyapa?” Rio melirik ke bawah terlihat anak kecil yang sedang menatapnya. Senyum itu sangat mirip dengannya.


“Om mama-" ucap anak kecil itu. Rio terkejut mengerjapkan mata berulang-ulang menatap Arini.


Tidak mau Rio berpikir terlalu jauh Arini segera berjongkok membekap mulut anaknya itu. “Ayo kita pulang, sayang, seharusnya kau tidak pergi sendiri tanpa Kerin," desisnya di balik katupan gigi.

__ADS_1


“Dia siapa, Ma?” tanya Ersya dengan polos.


Ada hal yang mengganjal dalam hati Rio saat mendengar percakapan antara Ibu dan anak di hadapannya itu.


“Mama sudah bilang padamu, bahwa anak kecil dilarang banyak bertanya. sekarang kita pulang, yuk?”


Anak laki-laki itu mengangguk. Arini melirik ke arah Rio dengan ekor matanya lalu setelahnya membawa anaknya pergi.


“Tunggu Arini!” panggil Rio lagi mencoba menghentikan langkah Arini. Lalu ia berjalan menghampiri sepasang anak dan ibu itu.


Arini menghela napas kesal marah malas untuk berbalik. Rio menghadangnya dari depan dengan tatapan serius.



“Menyingkir dari hadapanku, Rio.” Ia memandang malas lelaki di hadapannya itu.


“Tapi kenapa Ar? Apa aku salah sebagai seorang teman kalau mau tahu bagaimana kabarmu?” Rio berjalan mendekat memegang pundak Arini. “Ar, kamu ke mana saja selama ini? Kenapa kamu tiba-tiba menghilang.” Ia melirik anak kecil yang sedang mendongak memperhatikannya.


“Siapa dia, Ar? Apa dia anakmu?”


“Bukan urusanmu,” jawab Arini ketus memeluk kepala putranya menempelkan pada tubuhnya.


Rio mengusap wajah kasar menghembuskan pelan. Hufff


Lalu, mengerutkan keningnya ia menangkap ada sesuatu yang disembunyikan oleh Arini. Yah, dia memang merenggut kesucian perempuan di hadapannya beberapa tahun yang lalu. Tapi itu semua atas dasar suka sama suka.


“Ayo sayang kita pergi.” Arini menunduk mengangkat anak kecil itu dengan langkah cepat ia meninggalkan Rio yang masih mematung menatap punggungnya.


Anak kecil yang berada di dekapan Arini itu melambaikan tangan pada Rio diiringi senyum polos yang menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.

__ADS_1


__ADS_2