Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 24


__ADS_3

Sesampainya di rumah Raka memandangi penampilan Zia yang berantakan’ rambut acak-acakan berbeda jauh seperti bukan Zia yang biasanya. Antara kagum dengan keberanian istrinya di sisi lain ia tidak bisa menahan tawa melihat tingkah konyol tanpa diduga.


Setelah meminum obat meletakan gelas ke atas nakas, Zia melirik arah Raka yang menjepit kedua bibirnya karena menahan tawa. “Kenapa melihatku seperti itu? Apa yang lucu?” dengkusnya kesal. “Kalau mau tertawa ya tertawa saja, pak. Tidak usah di tahan.” Ia mencubit perut Raka hingga suaminya itu mengeluarkan gelagar tawanya.


“Tertawa saja terus!” ketusnya lagi semakin kesal melihat Raka menertawakannya.


“Ternyata selama ini aku baru tahu.”


“Apa?” tanyanya memutar bola mata melirik Raka.


“Sisi lain dirimu ternyata begitu menyeramkan. Malam ini kamu berubah menjadi seperti singa betina yang sedang kelaparan.” Raka mendekat memeluk istrinya itu dari belakang dengan posesif.


“Kamu belum begitu pulih, jaga dirimu baik-baik, karena aku tidak mau terjadi sesuatu lagi padamu.” Ia menyusurkan jemari menyingkap anak rambut yang menutupi wajah menyelipkan ke belakang telinga.


“Aku tidak akan terima kalau ada seseorang yang mengusik keluargaku, walau bagaimanapun kalian adalah hidupku. Aku tidak akan sanggup jika Sesil merebutmu dan juga Zika. Aku sangat menyayangi kalian,” ucapnya membelai kepala Raka dari samping.


“Kami juga sangat menyayangimu, Mommy.”


“Mommy?” serasa asing Zia mendapat panggilan seperti itu dari suaminya.


“Iya, mulai besok aku dan Zika akan memanggilmu dengan sebutan Mommy, dan mulai besok kalian juga harus memanggilku Daddy,”


Boleh juga usul Raka. Panggilan baru untuk memulai hal baru dengan Zika. Mulai besok ia akan melakukan pendekatan pada anaknya akan terus mencoba sampai Zika mau dengannya.


Raka terus saja merapikan rambut Zia yang masih agak berantakan. Perlakuan seperti inilah yang membuat hati Zia seperti meleleh menunduk tersipu malu. Ulasan senyum yang terukir menambah aura ketampanan Raka bibir ranum rahang kuat itu semua membuat Zia semakin mabuk kepayang dibuatnya. Sungguh perempuan itu merasa beruntung mempunyai seorang suami seperti yang mendekapnya dengan hangat itu.


Jantung Zia mulai berdetak tak seirama. Sedangkan tangan Raka berkelana menyusuri bibirnya hingga ia memejamkan mata untuk menstabilkan tekanan asmara yang kian menggelora.


“Aku sangat menyayangimu, Zia.” Dengan lembut Raka membalik tubuh istrinya untuk menghadapnya. Belum juga Zia membalas kata-katanya ia segera membungkam bibir Zia dengan bibirnya hingga saling bertautan.


Hingga adegan demi adegan asmara mulai memanas. Raka mengecupi setiap inci tubuh berkulit putih dan halus milik Zia itu dengan lembut meninggalkan jejak favoritnya di sana.


Hingga mereka saling menikmati suasana. Terjadilah peleburan asmara yang sudah lama tidak tersampaikan, kini tidak terbendung lagi. Desahan demi desahan yang lolos dari bibir Zia menambah hasrat Raka kian berkobar. Akhirnya setelah dua tahun lamanya kini ia kembali merasakan rindu yang terpendam kini telah terobati.


Hari sudah semakin pagi tidak mengurangi rasa semangat Raka untuk terus saja mencumbui sang istri yang patuh di bawahnya dengan hasrat yang kian membara.

__ADS_1


Hingga matahari telah muncul dari ufuk timur menampakkan pesonanya. Semburat kuning menyingsing menggantikan ibu bulan yang mulai menghilang.


Pagi ini Zia tertidur lemas di atas ranjang king size berbalut bedcover berwarna abu-abu perempuan itu tampak beringsut seperti bayi sangat nyenyak sekali.


Raka yang sudah selesai mandi dan mengenakan kemeja berwarna navi tampak tersenyum gemas melihat istrinya yang sedang tertidur dengan pulas. Melihat keadaan Zia seperti itu ingin mengulangi kejadian semalam tadi. Eh, ia segera membuang pikiran mesumnya mengalihkan pandangan memasang arloji di tangan kirinya.


Zia mengerjapkan mata menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Ia melihat Raka sudah siap dan rapi ternyata ia bangun terlambat.


“Kenapa tidak membangun kan aku, sayang?” tanyanya dengan suara serak khas bangun tidur.


“Aku kasihan padamu, jadi kubiarkan tidur sepuasnya. Lagi pula semalam kamu tidak tidur sama sekali, itu bisa berpengaruh buruk untuk kesehatanmu.”


“Sekarang baru bilang seperti itu, semalam justru tidak membiarkan aku tidur sama sekali,” gerutu Zia.


Raka terkekeh nyatanya istrinya itu tiada duanya. Seperti candu selalu ingin menikmatinya.


“Hari ini aku mulai ke kantor. Jadi kuharap kamu bisa jaga dirimu dengan baik, jangan pergi keluar seperti semalam lagi. Aku akan marah jika kamu melanggarnya.” Raka mengambil jas berwarna hitam di lemari lalu memakainya.


Menyodorkan dasi dia menunduk ke dekat ranjang mempermudah supaya Zia mudah memasangnya.


“Kalau masih mengantuk tidurlah, sayang. Aku akan menyuruh pelayan bawa makanan ke mari.”


“Hu um, sepertinya aku akan kembali tidur, karena badanku masih terasa lemas.” Zia menutup mulutnya yang menguap. “Setelah aku bangun nanti akan mencoba mengajak bermain Zika. Aku harap dia mau,” ucapnya.


“Pasti dia mau, sayang. Semalam aku sudah menjelaskan padanya. Dan dia sepertinya sudah mengerti.” Raka mengusap pucuk kepala istrinya. “Ya sudah, aku pergi ke kantor dulu ya, jaga kesehatanmu.” Ia mengecup kening Zia lalu mengangsurkan bibirnya ke bibir wanitanya.


Zia segera menghalangi dua bibir yang ingin saling bertemu itu dengan jari seraya menggelengkan kepala samar. Raka mengerucutkan bibir karena aksinya ditahan oleh Zia.


“Kenapa?”


“Aku baru bangun, belum menggosok gigi, sayang.” Zia membelai pipi Raka gemas.


Raka menghela napas dan buangnya kasar. “Kenapa memang kalau kamu belum mandi atau gosok gigi? Aku selalu suka mencium aroma khas bangun tidurmu.” Ia menyodorkan bibir cup! Mencium pipi hingga Zia membelalakkan mata.


“Kamu ini,” gerutunya memukul bahu pelan.

__ADS_1


“Aku pergi dulu ya, ingat jaga diri baik-baik. Jangan keluar kamar kalau tidak ada yang penting.”


“Iya, iya Tuan Sultan ....” jawab Zia mendorong tubuh suaminya. “Ya sudah, pergi sana. Nanti bisa terlambat.”


Raka tersenyum kembali mengecup sampai pada akhirnya ia benar-benar keluar dari kamar.


“Papa ....” panggil Zika diikuti baby sister di belakang. Gadis kecil itu memeluk kaki Raka.


“Zika sayang. Kamu sudah bangun rupanya.” Raka berjongkok mencubit hidung anaknya itu gemas. “Papa, hari ini mau pergi ke kantor, titip Mommy ya.”


Zika mengangguk. Itu sangat menggembirakan bagi Raka. “Kalau begitu Zika temani mommy yuk,” ajaknya menggendong Zika membawanya masuk ke kamarnya.


“Mommy, lihat siapa yang datang ....”


Zia segera membalik tubuhnya untuk melihat siapa yang dimaksud suaminya. Dan ternyata Zika sedang tersenyum kepadanya. Sontak membuat matanya yang sebelumnya mengantuk menjadi segar seperti setelah cuci muka.


Raka membawa mendekat membawa Zika duduk di sebelah Zia di ranjang. Zika memperhatikan Zia sejak dari tadi.


“Apa kamu masih takut dengan Mommy, sayang?” tanya Raka.


Ia menggeleng. Matanya masih melihat ke arah mamanya.


“Lalu kenapa kamu diam seperti itu sayang?” tanya Raka. Sedangkan Zia menatap menunggu jawaban dari putrinya.


“Papa, itu kenapa?” tunjuknya ke leher Zia.


“Kenapa sayang?” tanya Raka memandang wajah Zika.


“Itu lehel Mam, melah-melah.”


Sontak membuat Zia gelagapan menutupi lehernya dengan selimut. Sedangkan Raka terkekeh geli melihatnya. Bagaimana pun itu hasil karyanya semalam.


Kok gada yang tanya kabar babang Rio kemana ya?🤔


Vote like komen jangan kendor ya biar kenceng upnya 🤭

__ADS_1


__ADS_2