
Seminggu setelah kejadian itu, Zia tidak berani lagi keluar rumah kalau tidak bersama Raka. Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan Zika di rumah. Seminggu ini Raka sudah menemukan rumah yang tepat untuk keluarga kecilnya, tapi mereka belum pindah karena masih tahap renovasi. Mereka berencana akan meninggali rumah itu esok hari. Saat ini Zia dan Zika sedang bermain di ruang keluarga. Mereka berdua terlihat akur akhir-akhir ini.
Sore hari mama Clarys dan Vita sedang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Sedangkan Zia dan Zika asyik sedang bermain-main lempar bola, memutar lagu, dan joget bersama. Mereka bedua ditemani suster penjaga Zika berjoget-joget di depan layar televisi.
Napas Zia menderu tenaganya seharian ini hanya dihabiskan untuk berdua dengan putri kecilnya. Merasa lelah akhirnya perempuan itu menyandarkan tubuhnya di atas sofa berwana hitam itu. Bagaimana pun ini sangat menyenangkan baginya, karena Zika mulai perlahan bahkan sekarang mulai akrab dengannya. Sementara Zia beristirahat Zika tampak bermain dengan babysister.
“Mami.” Gadis kecil mungil itu berjalan mendekat ke arah Mami Zia. Naik ke atas pangkuan sambil mengayun-ayunkan kaki membuat babysister yang melihatnya ikut gemas.
“Apa sayang?” tanya Zia mendekatkan wajahnya ke pipi putrinya yang membelakanginya.
“Apa Popi masih lama pulangnya?” tanya Zika dengan bibir yang mungil itu.
“Hemmm.” Zia tampak memikir-mikir karena ia sendiri tidak tahu kapan Raka akan pulang. “Mami juga tidak tahu … sayang. Mami punya ide, bagaimana kalau kita telepon popi untuk menanyakan kapan dia pulang?” ia membalik tubuh Zika untuk menghadapnya.
“Bagaiamana, Zika sayang, apa kamu mau?” tanya Zia. Gadis itu menjawab dengan sebuah anggukan disertai senyuman kecilnya, putrinya itu memang sangat mirip dengannya.
“Baiklah , kita telepon popi, oke?” Anggukan kedua diberikan oleh Zika. Perlahan-lahan Zia meluruskan tangan untuk meraih ponselnya yang tergeletakl di atas meja.
“Biar Cika saja, Mami ….” Zika turun dari pangkuan sang mama setelah kemudian mengambilkan ponsel berwarna putih silver itu. Setelah mendapat ia membawa berjalan ke arah sang mama.
“Ini Mam ….”
__ADS_1
“Terima kasih, Cika ….” Zia mengambil ponsel dari tangan Zika. Setelah kemudian kembali memangku anak satu-satunya itu menghadapkan ke depan layar ponselnya. “Sekarang kita tunggu papi angkat teleponya ya?” mereka berdua sudah siap di depan layar video call, semakin lama beberapa menit kemudian air muka mereka berubah saat Raka tidak mengangkatnya.
“Selalu saja seperti ini,” gerutu Zia dalam hati. Setelah kemudian ia memtikan gawainya.
“Cika, sepertinya popi sedang sibuk, kita tunggu dia pulang saja ya, mungkin sebentar lagi,” ucap Zia memegang kedua pundak putri kecilnya itu.
Raka akhir-akhir ini selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan lelaki itu hampir tidak mempunyai waktu hanya sekedar bermain dengan anak dan istrinya. Dan kejadian seminggu yang lalu, Zia mengingatnya, betapa stresnya Raka memikirkan pekerjaan bahkan hingga membentaknya hanya kelalaian yang tidak sengaja Zia lakukan.
Namun … mengenai kejadian satu minggu yang lalu Zia masih menyimpan pertanyaan pada suaminya itu. Kenapa tiba-tiba Zika bersamanya dan—tentang siapa yang menemukan itu masih menjadi tanda tanya banbesar bagi Zia. Tampak berpikir Zia memutar kedua bola matanya, haruskah ia bertanya pada Zika tentang kejadian itu?
“Hemmm, Cika, mengenai kita jalan-jalan di mall apa Cika masih ingat?” tanyanya dengan lembut.
Zika terdiam.
“Apa … Cika, mengingat sesuatu?” tanyanya lagi sambil menunggu bibir mungil itu mengeluarkan kalimat. Sayang sekali, Zika hanya menggeleng dan itu membuat Zia kecewa.
“Baiklah, tidak masalah. Ayo kita main lagi,” ajaknya beranjak dari sofa bediri mengajak bermain Zika.
Tidak lama berselang saat mereka sedang asik bermain hingga Zika kelelahan akhirnya Zia menggendong membawanya ke kamar. Perlahan-lahan ia meletakan putrinya itu ke atas ranjang seperti halnya barang mahal yang rapuh. Setelah terbaring Zia menarik selimut mengusap kepalanya setelah kemudian menghadiahkan sebuah kecupan di keningnya. Putri kecilnya itu tampak damai dan tenag sudah hanyut ke dalam alam tidurnya. Setelah memastikan kalau Zika terlelap secara perlahan Zia melangkah keluar dengan kehati-hatian karena takut Zika mendengar langkah kakinya terbangun.
Saat memegang hendel untuk menutup pintu kamar Zika, Zia melihat Raka menaiki anak tangga dengan berwajah lesu. Ia pun memilih untuk menyambutnya di ambang anak tangga. Hingga kemudian Raka sampai dinhadapanya, menyematkan sebuah senyuman setelah Zia mencium tangan, Raka mengecup keningnya dan mengusap bibir istrinya itu dengan jari.
__ADS_1
“Di mana, putri kita?” tanya dengan nada sensual setelah kemudian melingkarkan tanganke pinggang Zia lalu membawanya ke kamar.
“Dia baru saja tidur.”
“Oh ya? Ngomong-ngomong apa yang kalian seharian ini kalian lakukan?” tanya Raka terus saja menggandeng berjalan menuju kamar. Zia mengangguk. Sebenarnya ia masih marah pada Raka, akan tetapi karena perlakuan lembut seperti ini membuat hatinya luluh dan melupakan rasa kesal karena Raka tidak menjawab chat dan panggilanya.
“Aku dan Zika sedang bermain, dia sudah mulai pintar sekarang, mulai mengerti kesibukan orang tuanya.”
“Maksumu?” Mendengar jawaban Zia Raka mengerutkan dahi setelah kemudian memegang handel pintu lalu mendorongnya sehingga terbuka sempurna.
Zia melirik sekilas, sepertinya walau dia sudah menyinggung suaminya itu tidak paka. Tidakkah Raka sedikit saja tahu, kalau dia selama akhir-akhir ini selalu sibuk bekerja dan melupakan waktu dengan istri dan anaknya? Zia melirik malas setelah kemudian melepaskan jas yang melekat di tubuh Raka.
“Kamu tidak menjawab pertanyaanku, Zia? Aku tahu, pasti kamu sedang memikirkan sesuatu, benar bukan?”
“Iya benar, aku memikirkan tentang kesibukanmu akhir-akhir ini. Bukankah kamu seorang pemimpin perusahaan tapi kenapa kamu terlalu sibuk dengan pekerjaan, bukankah ada Dion dan karyawan lainya?” cerocos Zia berikutnya melirik malas.
Raka terkekeh. Ternyata istrinya itu sangat merindukan waktu berdua dengannya. Ia menurunkan pandanganya menatap sang istri yang sedang melepas dasinya. Hingga tangan kekarnya menarik pinggang hingga Zia tersentak dengan tubuh menempel mengerjapkan mata, tidak ada jarak di antara mereka, tangan perempuan itu bertumpu di dada bidang Raka yang mengenakan kemeja bewarna biru.
“Kamu sudah melepas jas dan dasiku, kenapa tidak sekalian kemejaku?” Raka memainkan alisnya naik dan turun. Zia refleks membulatkan mata. “Baiklah … kalau kamu tidak mau melepaskannya.” Satu tangan Raka menyusuri kancing piyama yang dikenakan Zia. Sedangkan satu tanganya lagi masih setia di pinggang ramping milik istrinya.
“Apa yang kamu mau lakukan? Kenapa jadi kamu yang melepas pakianku?” protes Zia memicingkan mata. Dan jari Raka mulai tak terkendali ke sana dan ke mari meliuk-liuk bebas.
__ADS_1
“Apa yang kamu lakukan? Kamu belum mandi, heh!”
Malam lanjut lagi ya kakak 🙏