Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 37


__ADS_3

Langkah Raka gontai saat memasuki ruangannya. Ia melingkarkan dasi yang terasa mencekik di leher selama sehari ini. Membuang berkas di tangannya ke sembarang tempat Setelah kemudian membanting tubuh ke atas sofa.


Berulang kali ia menghembuskan napas untuk mencoba tetap tenang tapi tidak bisa. Sepuluh menit yang lalu ia merasa gagal untuk pertama kalinya.


Tender yang sudah ia perkirakan akan menjadi milik perusahaannya ternyata salah. Exen Crop memenangkan dengan kelihaiannya. Raka benar-benar kalah hartanya banyak yang terkuras untuk ini.


Lelaki itu mengacak rambutnya sendiri putus asa. Kerja kerasnya selama ini terbuang percuma. Akan tetapi meskipun begitu, Zia dan keluarganya tidak ada yang boleh tau tentang masalah karena urusan pekerjaan adalah urusannya. Lelaki satu-satunya.


"Aku akan berusaha mencari jalan keluar untuk masalah ini," gumam Raka.


Kemudian tidak lama berselang Dion masuk sedikit membungkuk berdiri di hadapan Raka. "Apa Anda memanggil saya, Tuan?" tanyanya.


" ...." Raka diam. Dion tahu pasti tuannya itu sedang kacau kali ini.


"Ambilkan aku pakaian di rumah, bawa kemari, sepertinya aku akan bermalam di sini malam ini." Raka lagi-lagi memijat pangkal hidungnya karena pening mulai menghinggapi.


"Baik, Tuan." Dion mundur dengan patuh setelah kemudian berlalu pergi diiringi suara ketukan sepatu yang ia kenakan menggema di lantai.


***


"Tapi kenapa dia tidak pulang?" tanya Zia terheran-heran saat Dion meminta pakaian Raka.


Satu yang harus dijaga oleh Dion yaitu tetap menjaga rahasia kalau perusahaan Sanjaya sedang kalut kini.


"Itu semua karena tuan Raka ada pekerjaan di kantor yang tidak bisa ditinggalkan, Nyonya," jawab Dion.


"Apa sesibuk itu sampai dia tidak bisa pulang ke rumah?"


"Benar Nyonya." Hanya jawaban itu yang bisa Dion berikan.


"Baiklah, tunggu, aku akan menyiapkan pakaian untuknya." Zia masuk ke dalam kamar mengemasi pakaian Raka beberapa lembar setelah beberapa menit ia memberikan pakaian dalam paper bag berwarna putih itu pada Dion.


"Sampaikan kepadanya untuk menjaga kesehatan, ingatkan bekerja memang perlu, tapi itu semua tidak lebih penting dari keluarga," ucapnya menohok.


"Baik, Nyonya." Dion mengangguk dengan sopan. "Kalau begitu saya permisi dulu," ucapnya. Setelah Zia mengangguk ia berlalu pergi.


Entah kenapa ada yang mengganjal dalam benak Zia. Ia merasa ada yang ditutupi oleh suaminya itu, sikapnya kembali dingin seperti awalan saat mereka baru menikah dulu. Zia langsung menyiapkan keperluan Zika, ia memutuskan untuk membawa ke rumah Mama Clarys.

__ADS_1


Dengan beralasan ingin membeli sesuatu di mall Zia meninggalkan rumah. Mama Clarys dengan senang hati menjaga Zika.


Zia ingin melihat sendiri sesibuk apa suaminya itu sehingga tidak sempat untuk pulang. Terlebih lagi ia juga ingin mempertanyakan kenapa, ada apa? Dan masih banyak lagi pertanyan di dalam kepalanya.


Mobil yang dikendarai Zia tiba di halaman parkir kantor Raka. Ia segera melepas sabuk pengaman lalu turun. Dengan langkah cepat ia memasuki gedung pencakar langit itu.


Seluruh staf kantor yang melihat kedatangan Zia memberi sapaan. Dan semua heran karena tidak biasanya nyonya istri dari pemilik perusahaan itu datang ke mari.


Zia terus saja berjalan menuju ruangan Raka. Menaiki lift menekan tombol nomor 5 beberapa detik kemudian pintu lift terbuka. Ia segera bergegas keluar dan saat itu juga tidak sengaja menabrak seorang wanita cantik mengenakan pakaian dress berwarna merah, rambut coklat matanya lebar dan memiliki bibir yang tipis.


"Maaf aku tidak sengaja," katanya saat merasa bersalah saat wanita itu hendak terjatuh kalau tidak segera menahanan diri.


"Tidak apa," balas wanita itu.


"Nyonya Anda ada di sini," sapa manajer yang baru saja tiba di belakang wanita itu.


Zia berlalu membalas sapaan manajer suaminya itu. Wanita yang baru saja ia tabrak itu memperlihatkannya tanpa Zia sadar.


"Oh, ini ternyata istri Raka. Tidak lebih baik dariku." Setelah bergumam wanita itu pergi masuk ke dalam lift. Saat Zia menoleh sudah menghilang.


"Oh iya, Sa, siapa wanita yang baru saja di sini? Aku tidak pernah melihat?" tanya Zia.


Manajer itu mengulum senyum. "Tentu saja Anda pernah melihatnya, Nona. Dia adalah seorang model yang tengah naik daun tahun ini, namanya Neuna Ginovi, dia model yang sangat digandrungi para kalangan remaja, dan juga dewasa kini."


Zia menyunggingkan bibirnya sambil mengangguk-angguk mengerti. Hingga anggukan itu terhenti saat ia menyadarkan arah perempuan tadi baru saja dari ruangan suaminya, apa jangan-jangan?


Zia segera bergegas berjalan menuju ruangan Raka. Setibanya ia membuka pintu lebar-lebar sehingga membuat Raka yang hampir terpejam menjadi terkejut.


Untuk sesaat Zia diam, tidak mempertanyakan hal apa pun. Karena saat memasuki ruangan Raka ia melihat batapa kacaunya ruangan itu. Zia memindahi setiap berkas yang tercecer dengan bola matanya.


"Zia? Kamu ke sini?"


Suara Raka membuat matanya berpaling ke arah suaminya itu. Ia berdehem kemudian berkata,


"Aku hanya melihat keadaanmu, apa semua baik-baik saja?" tanyanya mendekat ke arah Raka.


"Dan aku juga membawakan makanan untukmu." Ia meletakkan makanan dalam wadah itu ke atas meja.

__ADS_1


"Kamu seharusnya tidak perlu repot-repot seperti ini, Zia. Cukup jaga Zika saja di rumah, sekarang di mana dia?"


Zia tersenyum duduk mendekat ke samping suaminya itu.


"Aku adalah istrimu, Raka, menyiapkan makan itu adalah kewajiban ku. Dan tentang Zika, aku membawanya ke rumah Mama. Setelah ini aku akan langsung menjemputnya."


Raka mengubah posisi dari semula bersandar kini duduk tegap ia mengangkat kepalanya melihat makanan yang dibawa oleh Zia.


"Oh, iya, kamu bawakan aku makanan apa, sayang? Kamu tahu sekali kalau aku sedang lapar saat ini." Raka tampak sudah tidak sabar untuk melihat apa isi makanan dalam wadah Tupperware itu.


Zia menurunkan tubuhnya kemudian menggunakan lutut untuk bertumpu, ia membuka bungkusan makanan itu satu persatu.


"Tadi aku masak untukmu karena kupikir kamu akan pulang cepat, tapi ternyata malah memberi kabar tidak pulang," ucapnya sambil sibuk menyiapkan makanan untuk Raka.


Raka merasa bersalah untuk ini. Ia pikir juga demikian, setelah mendapat tender itu ia akan segera pulang dan menghabiskan waktu bersama Zia dan Zika. Tapi kenyataannya tidak seperti itu ia kalah tender sebesar ini dan mengharuskannya memulai kerja keras seperti semula.


"Maaf Zia, karena pekerjaan sangat banyak."


Zia melirik ke belakang dengan ekor matanya. Kemudian mengalihkan pembicaraan, ia tidak ingin lagi membahas semua ini. Toh memang kenyataannya pekerjaan suaminya begitu banyak.


"Sudahlah. Kamu mau makan apa, sayang?" tanyanya.


Raka menunjuk satu persatu makanan yang ia inginkan. "Tapi aku mau kamu menyuapiku," katanya.


Zia tersenyum kemudian menatap, mengangguk. "Baiklah, aku akan menyuapi mu."


"Dan aku akan menyuapi mu."


Mereka berdua makan dalam satu wadah berdua dengan nikmat hingga makanan habis tak tersisa. Zia mengusap bibir Raka yang terkena noda dengan tisu.


"Kamu selalu begini," ujarnya mengusap dengan lembut kemudian beranjak ingin membuang tisu itu ke tong sampah. Ia menginjak pembuka bak berwana abu-abu itu hingga penutupnya terbuka.


Zia terkejut saat melihat ada makanan, sepertinya masih baru dibuang di dalam sana. Zia memutar bola matanya melirik Raka.


***


Aku enggak bilang Raka selingkuh loh ya, cuma kalian sendiri yang punya pikiran gitu wkwkwk.

__ADS_1


Buat yang masih suka bisa masih mengikuti, kalau udah enggak kuat sama enggak sabaran maunya seneng terus boleh tinggalkan. Setiap novel itu pasti ada konflik dan penyelesaiannya jadi bersabarlah wahai pembaca Budiman 🙏


__ADS_2