Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 43


__ADS_3

Kepercayaan Itu tetap ada ....


Keadaan pusat kota melenggang karena hari sudah malam. Raka menaiki mobilnya sendiri membelah kegelapan malam akan pulang. Sehari ini ia memang sangat dipusingkan dengan kejadian-kejadian yang tidak diduga. Terlebih lagi Neona tidak pernah menyerah untuk mengejarnya.


Raka bingung harus berbuat apa pada Neona, karena semakin hari perempuan itu semakin gila. Bahkan mulai berani mendekati Zia dan Zika di rumahnya saat ia tidak ada.


Setelah beberapa saat kemudian mobil Raka tiba di rumah. Secara otomatis pagar itu terbuka dan mobil yang ia kendarai masuk ke dalam area bagasi.


Saat akan masuk ke dalam rumah, ponsel berada di sakunya berdenting. Saat itu juga sebuah foto-foto yang masuk sama seperti yang dikirim Neona pada beberapa hari lalu. Raka benar-benar sudah muak dengan Neona. Ia menggenggam erat ponselnya kemudian melangkah masuk ke dalam rumah.


Saat membuka pintu kamar Raka melihat Zia sudah terlelap ke dalam alam mimpinya. Ia dan istrinya itu sekarang selalu dalam keadaan seperti ini. Kesibukannya mengalahkan keluarganya, hingga tidak pernah menghabiskan waktu berdua walau hanya sekedar di "atas ranjang".


Setelah melepas semua aksesoris berupa jam tangan dan lain sebagainya, Raka pergi melangkah ke kamar mandi membersihkan diri dan sejenak merasa rileks.


Sedangkan Zia sebenarnya tidak tidur, melainkan hanya berura-pura. Sebenarnya ia menyadari kalau ada sesuatu yang terjadi. Pikiran Zia seketika berkelebat saat Raka seperti berubah belakangan ini. Zia menyingkap selimutnya kemudian mengambil ponsel suaminya dari atas nakas.


Rasa penasaran sungguh menggerogoti pikirannya, Zia tidak bisa diam begitu saja melihat suaminya semakin hari semakin berubah. Setelah layar kunci terbuka satu aplikasi yang dituju pertama kali yaitu di mana Raka melakukan transaksi dari berbagai kalangan.


Zia memeriksa satu per satu, akan tetapi tidak ada yang mencurigakan dari beberapa chat-chat itu. Matanya sesekali melirik ke arah pintu kamar mandi takut jika Raka tiba-tiba muncul dari sana.


Pipi Zia berbinar saat melihat foto pernikahan bersama Raka tiga tahun lalu. Bagai magnet yang berdekatan saling membuang wajah masing-masing. "Sangat lucu."


Hingga jari Zia menggerakkan layar ponsel suaminya itu ke bawah mencari sesuatu. Seketika mata Zia membelalak kaget saat melihat foto Raka sedang tidak mengenakan pakaian dan seorang wanita yang ia kenal beberapa hari yang lalu.


Tidak hanya itu, Raka juga terlihat di foto sedang mencium leher Neona dengan posisi membelakangi kamera. Seketika dada Zia berdenyut meremas ponsel di tangannya. Ternyata suaminya selama ini jarang pulang hanya karena ini?


Air mata Zia menetes kenapa Raka bisa tidur dengan wanita lain? Pantas saja dia jarang sekali menyentuhnya akhir-akhir ini.


Zia tidak tahan lagi jika harus melihat satu per satu foto itu, ia membuang ponsel lalu kemudian memalingkan wajah memeluk lututnya sendiri. Selama ini memang banyak wanita mengejar-ngejar Raka karena wajah tampan tubuh atletis suaminya juga sesosok yang sukses.

__ADS_1


Namun Zia tidak percaya kalau suaminya itu berbuat demikian. Untuk sesaat Zia memejamkan mata berpikir sejenak berusaha mencerna semua yang masuk ke dalam otaknya. Entah kenapa rasa percaya begitu besar mendorong hatinya untuk adu argumen dengan pikirannya.


"Suamiku tidak mungkin seperti itu, pasti ada sebabnya." Kata itu keluar disaat pikiran Zia sudah tercerna dengan baik. Ia menarik napas kemudian berusaha tetap tenang setelah kemudian suara pintu kamar mandi terbuka dan Raka keluar dari sana.


"Zia, kau bangun?" tanya Raka hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggul. Sedangkan tubuhnya masih menguapkan air sisa-sisa ia mandi.


Raka mengeringkan rambut dengan handuk kecil, kemudian membuka lemari mengambil kaos meloloskan lewat kepalanya. Ia heran melihat ekspresi raut wajah Zia yang kosong tidak seperti biasanya.


Setelah semua pakaian berhasil terpasang, Raka mendekat duduk di tepi ranjang bersebelahan dengan istrinya itu. Raka melirik ke arah ponsel dan ternyata sudah dipindahkan ke atas kasur.


Apa jangan-jangan Zia melihat sesuatu dari sana? Kalau pun foto-foto dengan Neona bukankah ia sudah menghapusnya tadi?


"Zia, kamu kenapa?" tanya Raka penuh kehati-hatian.


"Apa sebenarnya yang terjadi, Raka?"


"Kenapa kamu tidak jujur saja." Suara Zia tertahan seperti tidak mampu lagi berkata-kata. Ia ingin mendengar semua penjelasan dari suaminya tanpa ada yang ditutupi.


Sudah dipastikan Zia pasti sudah melihat foto-foto kiriman dari Neona. Wanita itu benar-benar keterlaluan. Raka mengusap wajahnya sendiri putus asa.


Mata merah Zia menyorot tajam menoleh ke arah Raka. "Kenapa?" tanyanya mengintimidasi.


Raka mengulurkan tangan mengambil ponsel dari atas kasur. "Ini yang kau mau!" Melempar ponsel itu ke dinding hingga hancur berkeping-keping membuat Zia tersentak kaget.


"Zia, aku peringatkan padamu, jangan pernah mempercayai foto-foto sampah seperti itu." Raka merubah posisi menjadi berdiri meremas rambutnya sendiri.


Zia terkejut atas perlakuan Raka yang tiba-tiba emosi seperti itu. Ia kira suaminya itu akan menjelaskan dan mencoba membuatnya percaya dengan tetap tenang. Tapi kenyataannya Raka langsung tersulut emosi saat Zia akan mempertanyakan hal itu.


Apa Raka benar-benar tidak melakukan itu? Kini Zia yakin, pasti suaminya itu telah diperangkap atau dijebak.

__ADS_1


"Aku minta maaf padamu, karena telah membuka ponselmu secara diam-diam. Tapi bagaimana bisa kamu menyembunyikan hal sebegitu besar dariku? Atau jangan-jangan--"


"Aku tidak pernah menyembunyikan apa pun!" Suara Raka menggema di seluruh sudut kamar. Zia tersentak dan seketika diam menunduk tidak berani berucap lagi.


Melihat sang istri ketakutan, Raka menyadari kalau ia sudah kelewat batas. Harusnya tidak harus sampai membentak seperti itu. Namun, kepalanya mulai berdenyut kini saat masalah demi masalah harus dia hadapi.


Belum lagi soal perusahaan yang kacau, dan belum lagi karyawan menuntut kenaikan upah. Kepalanya hampir-hampir pecah memikirkan ini semua. Raka menarik napas kemudian mengambil bantal.


"Aku akan tidur di luar sementara ini." Karena ia butuh ketenangan untuk memikirkan ini semua.


Zia hanya menatap langkah Raka tidak bertanya atau mencegah. Ia sudah tahu pasti akhirnya akan terjadi seperti ini jika ia bertanya secara langsung. Sepertinya malam ini mereka harus tertidur dalam satu rumah tapi dalam keadaan terpisah.


Sepanjang malam Zia tidak bisa tidur ia terus saja memikirkan Raka yang menganggap dia tidak percaya padanya.


Sikap arogan sang suami kembali begitu saja setelah beberapa tahun ini menghilang.


"Ini semua pasti ada sebabnya," gumam Zia.


Tanpa sadar ia terlelap memeluk guling hingga suara kicauan burung dan Zika yang sedang bermain di sebelahnya membuat terbangun.


"Selamat pagi, Mom," ucap Zika tersenyum lembut ke arahnya.


"Selamat pagi, Sayang ...." Zia menarik tubuh untuk duduk bersandar di punggung ranjang. Matanya melirik ke arah jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul sembilan.


"Sayang, apa Papi sudah bangun?" tanya karena ia belum menyiapkan sarapan dan juga pakaian untuk ke kantor.


Zika mengangguk. Dan benar saja Zia sudah membuat kesalahan karena kejadian semalam dan membuatnya susah untuk tidur malam tadi.


kalau tidak ada halangan insyaallah author akan up lagi bab selanjutnya 🙏

__ADS_1


__ADS_2