
"Sayang, aku juga kau membelikan untukku seperti Dion membelikan istrinya," ucap Zia memohon.
'Lelucon macam apa ini?' Raka melirik malas ke arah Dion. Baru saja ia mengetawai sekretarisnya itu kini ia sendiri harus terlibat dengan hal seperti itu.
Raka tidak seperti Dion, ia memilih untuk mengabaikan permintaan sang istri. Dengan mengalihkan pembicaraan. "Zia, sepertinya Zika menangis, coba kau lihat dia."
Zia menaikkan sebelah alisnya melebarkan indra pendengarannya untuk mendengarkan. "Aku tidak mendengar apa-apa," balasnya.
"Kau pasti salah dengar, Zia. Coba kau lihat dia," balas Raka.
"Baiklah," Kemudian Zia pergi ke kamar.
Dion hanya mengulum senyum saat melihat tingkah Raka. Ia memang tidak mendengar apa pun dari kamar.
"Dion, bagaimana rencana kita hari ini?" tanya Raka membuat Dion menoleh dari pandangan arah tangga beralih menatapnya. Kemudian Raka duduk di sofa menyusun berkas yang tergeletak di atas meja. Memeriksa lagi satu per satu.
"Apa ini sudah semua, Dion?" Sambil membaca lembaran.
"Sudah, Tuan."
"Bagus." Raka merasa puas melihat hasil kinerja sekretarisnya itu. "Lalu kapan meeting akan dilakukan?"
"Dua jam lagi."
"Bagus ... semoga hari ini berjalan sesuai dengan rencana kita." Raka mengangkat tangan kirinya sampai ke depan dada, kemudian ia melirik angka dari arlojinya.
"Sudah saatnya. Ayo kita berangkat."
"Mari Tuan." Dion mempersilakan Raka berjalan lebih dulu, kemudian ia mengikuti dari belakang.
Di dalam mobil Dion fokus menyetir dengan kecepatan sedang. Sedangkan Raka duduk menumpuk satu kaki ke kaki yang lainnya terlihat santai sambil memandangi arah luar dari pintu jendela sampingnya.
"Bagaimana dengan Neona, Dion?" tanyanya memecah keheningan.
Dion memutar stir saat mendapati sebuah belokan, kemudian mengendarai normal kembali. "Dia sudah dibawa pulang oleh orang tuanya, Tuan." Mobil berhenti kini saat ada perempatan dan rambu-rambu lalulintas menyala merah.
"Bagaimana bisa?" Ini tentu hal yang bahaya jika Neona dibawa pulang oleh orang tuanya dari rumah sakit jiwa. Bisa-bisa wanita itu datang dan melakukan hal-hal lain untuk meneror Zia dan Zika. Seketika rasa khawatir menyergap pikirannya. Raka meraup wajahnya sendiri gelisah dan khawatir.
"Mereka memiliki kekuasaan, Tuan. Maka dari itu tidak sulit kalau hanya mengambil Neona dari rumah sakit jiwa itu." Dion menjalankan mobil lagi saat lampu sudah menyala hijau. Dan kendaraan lainnya sudah ramai saling menekan klakson.
__ADS_1
"Kau benar." Andai saja Raka bisa menang dalam tender kemarin, pasti tidaklah sulit untuk melawan Johan untuk tetap menyuruh putrinya tinggal di rumah sakit. Tapi kini apa yang terjadi?
Bahkan Raka terikat kerja sama dengan perusahaan Johan. Dan dalam keadaan perusahaan yang masih belum stabil seperti saat ini, akan berdampak semakin buruk. Tetapi Raka tidak takut selama anak dan istrinya dalam keadaan bahaya dia akan mampu berbuat apa saja, tidak peduli risikonya.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Tuan?"
Raka menghela napas panjang untuk sesaat diam tanpa bersuara. "Sepertinya tidak ada cara lain, selain memperketat penjagaan rumah untuk mengawasi Zia dan Zika." Menghembuskan napas kemudian bersandar menatap atap mobil.
"Semoga Mama secepatnya mendapatkan pengasuh dan pelayan yang pandai bisa diandalkan untuk menjaga Zia dan Zika. Setidaknya aku tidak khawatir saat bepergian." Kedatangan Neona memang benar-benar membuat kacau hidup Raka dari sebelumnya yang tenang.
"Kita langsung saja ke Perusahaan Compaq Grup," perintahnya.
"Baik, Tuan." Dion melajukan mobil menuju perusahaan di mana mereka akan mengadakan meeting.
"Kita sudah sampai, Tuan." Dion membukakan pintu saat sudah tiba di halaman depan gedung tinggi menjulang itu.
Raka melangkahkan kakinya akan memasuki gedung. Namun langkahnya terhenti saat seorang laki-laki paruh baya memakai kemeja putih dan jas berwarna biru berdiri memandang sinis.
Johan, pria itu maju dengan diikuti dua orang di belakang maju menghampiri Raka tersenyum sinis seperti merendahkan.
Dion melangkah maju berdiri di samping Raka, waspada.
"Dion, bawa pastikan berkas-berkas itu sudah lengkap." Tanpa ingin memperdulikan Johan Raka melangkah melewati begitu saja. Sontak membuat Johan geram mengepal.
Dion mengikuti langkah Raka dengan membawa berkas-berkas di tangannya saat melewati Johan ia tersenyum. Tetapi bagi Johan itu sebuah hinaan menurutnya.
Johan melambaikan tangan ke belakang memberi kode pada anak buahnya. Kemudian lelaki berbadan tegap memakai pakaian serba hitam itu maju memberikan ponsel pada Johan.
Johana menghubungi pengacara, ia berencana akan menuntut Raka atas tuduhan telah menganiaya anaknya di dalam rumahnya. Dan satu lagi, Johan juga akan membatalkan kerja sama dengan perusahaan Raka. Yang jelas pastinya itu akan mempermudah Raka bebas tanpa tuntutan karena Johan yang telah membatalkan sepihak.
Di rumah....
Zia sedang duduk santai menemani Zika bermain. Dia sedang menelepon teman yang bernama Sita, mereka menceritakan kehidupan saat ini masing-masing.
Mama Claris datang menyapa cucu kesayangannya. "Cika ... Oma datang ...."
Zika langsung menoleh saat sedang asik mencoret-coretnya di kertas mendengar suara Oma Claris.
"Hai, Ma." Zia beranjak dari kursi mematikan sambungan telepon kemudian mencium punggung tangan Mama Claris.
__ADS_1
Pusat perhatian Zia terarah dengan beberapa orang yang berdiri di belakang Mama Claris. "Mereka siapa, Ma?" tanyanya. Melihat ke arah empat orang yang menunduk. Pakaian mereka tidak begitu rapi hanya memakai celana jeans dan kaos dan ranbut di kuncir kuda.
Sedangkan dua orang laki-laki itu juga memakai pakaian kaos dan celana jeans rambut disisir rapi. Zia memandang mereka dari atas sampai bawah.
"Mereka adalah orang-orang yang aku pilih untuk bekerja di sini, Zia." Mama Claris mundur berdiri sejajar dengan mereka berempat.
"Ini Tito," tunjuknya pada lelaki muda berambut ikal dan memiliki tahi lalat di telinga sebelah kiri.
"Dan ini Dito," tunjuknya lagi pada pria sebelahnya lagi. Wajah mereka hampir mirip.
"Dito?" tanya Zia.
"Iya, mereka berdua kembar, sayang. Walau memiliki penampilan begini mereka memiliki ilmu ahli bela diri," balas Mama Claris memperkenalkan dengan bangga.
Oh ... Zia mengangguk-ngangguk mengerti.
"Dan perkenalkan juga, dia Anggi." Mama Claris memegang pundak perempuan yang tampak masih pemalu.
"Hai, Nyonya," ucapnya.
"Dia perempuan yang akan bekerja sebagai baby sister Zika. Dia memiliki sifat penyayang, maka dari itu Mama yakin."
Zia hanya mengangguk-angguk. "Ternyata mama Claris sudah menyiapkan semua begitu baik. "
"Dan ini satu lagi, Ana."
"Hai Ana," sapa Zia tersenyum pada Ana yang juga membalas dengan tersenyum padanya.
Zia hanya pasrah, sebenarnya dia tidak perlu orang sebanyak ini. Hanya karena ingin menjaga perasaan mama Claris dia hanya diam dan mengangguk-angguk. yang menjadi pertanyaan Zia, di mana mereka akan tinggal sedangkan dia hanya mempunyai satu kamar pembantu.
'Sepertinya aku harus bekerja keras untuk memikirkan ini," batinnya.
Ini Zia n Raka lagi santai di belakang rumah. Ingat! Tidak menerima kritikan visual kalau kalian gak cocok cari sendiri di web😎
...***...
Kalau misal kalian bosan sama ceritanya bisa komen ya giss😘 vote pojok sebelah kanan jangan lupa🔥
__ADS_1