Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 45


__ADS_3

Neona adalah perempuan posesif, mengklaim sesuatu yang ia sukai adalah miliknya seutuhnya tanpa ada satu orang pun boleh memiliki atau bahkan memandang pun ia tidak terima. Ketertarikannya dengan Raka semenjak dulu tidak pernah memudar, bahkan semakin besar saat dia menemukan pujaan hatinya itu berada di satu kota. Akan tetapi sangat disayangkan ternyata sudah beristri.


Neona mengetahui kalau Raka dan istrinya menikah karena dijodohkan. Itu semua membuat persepsi gadis itu semakin kuat kalau Raka juga sangat mencintainya hingga kini. Pasti penolakan-penolakan yang ditujukkan Raka padanya hanyalah merasa tidak enak pada istrinya.


Menanggapi dengan sebuah seringai ia tampak memandang mencemooh ke arah wanita yang dia anggap sebagai penghalang bersatunya cintanya dengan Raka.


“Untuk apa?” pertanyaan itu sekali lagi keluar dari bibir Zia saat Neona tidak kunjung menjawab.


“Kau pikir untuk apa, kalau bukan mengambi hakku?”


Hak? Hak apa yang dibicarakan Neona? Zia mengerutkan dahinya. “Apa maksudmu? Dan hak apa yang kau bicarakan?” perkataan Neona sangat ambigu menurut Zia.


Neona diam.


“Kenapa diam?”


“Apa kau tidak tahu kalau aku dan Raka saling mencinta? Tentu saja dia adalah hakku.” Neona memandang malas kemudian melirik objek lain.


Deg.


Dada Zia bergemuruh saat itu juga. Tetapi ia mencoba menenangkan hatinya berpikir kalau Raka tidak akan pernah mencintai siapa pun selain dia dan keluargannya. Dari perkataan Neona ia menyimpulkan kalau perempuan itu pembohong. Tentang foto-foto itu semua pasti hanya palsu.


“Kalau kau tidak percaya kau bisa memeriksa ponsel suamimu. Dari sana kau bisa menyimpulkan kalau aku dan dia mempunyai hubungan spesial. Bahkan dia sering menghabiskan waktu denganku di hotel.” Neona bicara sedemikian rupa membuat dada Zia semakin sesak.


“Apa kau tahu, Zia? Kami bahkan sering melepas kerinduan hastrat yang memuncak di kantornya,” bisiknya ke dekat telinga Zia.


Dada Zia semakin sesak tidak bisa membayangkan kalau semua itu bisa terjadi pada Raka dan Neona.


‘Apakah semua yang dikatakan Neona benar?’

__ADS_1


“Aku mencintai dia bahkan jauh dari sebelum kau mengenalnya. Aku akan mengambil apa yang seharusnya sudah menjadi milikku.”


Brak!


Zia menggebrak meja tidak terima dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Alih-alih terkejut atau takut, Neona justru terlihat santai mengulurkan tangan mengambi buah di atas meja berikut dengan pisaunya. Ia mulai mengupas tanpa memedulikan kalau Zia nyonya rumah tidak menyukainya.


“Apa kau tidak mau buah ini? Biar aku kupaskan untukmu.” Ia mengupas sebuah apel berwarna hijau. “Buah ini sangat bagus untuk kesehatan dan juga kecantikkan. Kau harus banyak mengosumsinya mengingat suamimu ada wanita lain yang lebih muda. Bahkan aku masih pe-ra-wa-n.”


Dengan tidak tahu malunya Neona bicara dengan nada elegan.


“Stop, Neona!” bentak Zia tidak terima. “Apa kau tidak malu bicara dengan siapa?”


Neona membuang buah di tangannya ke atas meja, ia mendesah kesal.


Menggesek-gesekkan pisau ke jari tulunjuknya. Membuat Zia merasa merinding.


Zia merasa ada yang tidak waras dengan wanita di hadapannya itu. Ia melangkah mundur karena Neona maju selangkah untuk mendekat padanya.


Zia terus saja mundur dengan tatapan waspada ke arah Neona yang terus mengikuti langkahnya. Ia sesekali melirik ke kamar di atas takut jika Zika keluar. “Kau mau apa. Neona?” tanyanya gugup matanya menyorot tangan Neona yang memainkan pisau mengalunkan dengan nada sensual.


“Kau harus pergi dari sini!” bentaknya dengan nada yang sangat keras.


“Aku akan pergi jika sudah selesai menjelaskan apa yang seharusnya kujelaskan sampai kau mengerti.”


Zia mengumpulkan keberaniannya untuk melawan, ia tidak akan kalah dari wanita gila itu. Menaikkan wajahnya untuk menatap kemudian berkata, “tidak ada yang perlu kau jelaskan di sini, sekarang pergilah!” tubuhnya bergetar terus saja berjalan mundur sehingga tiba di depan tangga.


“Diam Zia, aku tidak suka orang membentak atau memerintahku!” Neona mengacungkan pisau ke arah Zia.


Zia menaiki tangga dengan langkah mundur tetap waspada pada tangan Neona.

__ADS_1


“Aku sudah bilang berulang-ulang kalau Raka itu adalah miliku, bukan milikmu! Tapi sepertinya sangat sulit membuatmu mengerti, sepertinya aku harus menggunakan cara lain.”


“Mau apa kau?”


Melihat langkah Neona semakin dipercepat Zia berinisiatif untuk membalik tubuh, kemudian berlari ke atas. Akan tetapi sangat disayangkan tangan Neona lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.


“Kau pikir akan bisa pergi dariku dengan begitu mudah?”


Neona ternyata adalah wanita gila, Zia baru sadar akan hal itu. Siapa sangka perempuan yang selalu bicara dengan lembut dan penampilanya begitu rapi memiliki kepribadian yang sangat mengeriaknan. Satu yang harus Zia lakukan yaitu berlari ke kamar kemudian menghubungi suaminya memberi tahu kalau ia dalam keadaan bahaya.


Dengan sekuat tenaganya ia mencoba melepas tangannya dari cengkeraman Neona. Tidak mau melepaskannya begitu saja Neona menarik rambut panjang Zia sehingga terasa kulit kepalanya hampir lepas. Kemudian mendekatkan wajah Zia mendongak ke atas di hadapannya.


Zia meringis menahan kesakitan yang ia rasakan satu tangan mencoba melepaskan tangan Neona dari rambutnya sedangkan tangan satunya lagi mencoba melepaskan dari pergelangan tangannya.


“Lepaskan aku, Neona,” pintanya sambil berusaha melepaskan diri.


“Aku akan melepaskanmu kalau kau mau melepasakan Raka, Zia!”


“ITU TIDAK MUNGKIN, NEONA!” dengan sekuat tenaga Zia mendorong Neona dadanya terengah-engah naik dan turun. Tubuh Neona tersungkur ke bawah ini semua merupakan kesempatan untuk Zia. Di saat Neona berdiri Zia segera berlari menaiki tangga.


Neona murka baru pertama kali ia mendapat pelakuan kasar dari seorang seperti ini, dengan langkah lebar ia berjalan men gikuti Zia berlari. “Kau bisa lepas dariku begitu saja ….” Ia mempercepat langkah untuk mengejar Zia.


Zia benar-benar takut menghadapi wanita seperti itu. Satu yang ia pikirkan saat ini, yaitu Zika. Bagaimana jika Neona berhasil menangkapnya dan menyakiti Zika jika setelahnya. Zia terus saja berlari sambil menoleh ke belakang, Neona berjalan dengan langkah cepat tapi terlihat begitu santai. Semakin membuat Zia takut saat gadis itu menggesekkan sebuah pisau di tangannya ke pembatas tangga yang terbuat dari besi. Membuat siapa saja yang mendengar begidik ngeri.


Secepat mungkin Zia berlari ke arah kamar Neona ikut berlari cepat, jantung Zia merasa sesak namun ia terus saja berlari sehingga sampai ke depan kamar. Ia segera membukanya kemudian menutup mengunci dengan rapat.


Dada Zia naik dan turun, napasnya terengah untuk sesaat ia memejamkan mata bersandar di balik pintu, hingga matanya terbuka melihat Zika yang menatapnya. Zia segera memeluk putrinya itu. Tidak lama berselang mereka berdua dikejutkan dengan suara gedoran pintu.


“Momi kanapa?” tanya Zika dalam pelukan Zia.

__ADS_1


...***...


Yang sudah upgrade Mt/ NT kalau berkenan bisa kasih hadiah ya. Aku harap kalian bisa mendukung author. makasih semua🙏


__ADS_2