
Rumah sakit.
Setibanya di rumah sakit Raka langsung dibawa masuk ke dalam ruangan UGD ditangani oleh dokter ahli. Air mata Zia tak terbendung lagi di dalam pelukan Vita rasa khawatirnya menjalari perasaanya hingga membuat sesak dalam dada.
"Kak Raka tidak apa-apa, Kak. Tenanglah," hibur Vita. Sambil mengusap punggungnya lembut.
Sedangkan Sesil yang duduk di samping Dion ikut merasa kasihan melihat Zia. Pun sekaligus merasa bersalah karena beberapa waktu menambah cobaan dalam rumah tangga mereka. Sesil menyandarkan kepalanya di pundak Dion ia merasa lelah memikirkan kesalahan-kesalahan yang telah lalu. Sebelum kemudian tangan Dion terulur untuk mengusap pucuk kepalanya.
Akhirnya setelah beberapa menit menunggu Dokter laki-laki berpakaian jas putih ke luar dari ruangan berpintu kaca itu. Dion yang menyadari kedatangannya langsung beranjak dari tempat duduk berjalan menghampiri Dokter tersebut.
"Bagaimana, Dok?" tanyanya.
Seulas senyum dari bibir sang dokter membuat secercah harapan untuk Dion dan juga Zia yang berdiri di belakangnya.
"Dia tidak apa-apa. Beruntung tusukannya tidak terlalu dalam jadi tidak mengenai organ vitalnya, hanya saja ... dia sedikit perlu donor darah setelah itu dia akan kembali normal lagi," ucap Dokter.
Seketika Zia menghela napas lega setelah beberapa jam menahan sesak. Dokter itu tersenyum padanya dan berkata,
"Tunggu Tuan Raka bangun. Setelah dia terbebas dari obat bius akan segera sadar, setelah itu kalian baru boleh menemuinya."
"Terima kasih, Dokter," ucap Zia.
Setelah tersenyum dokter tersebut pergi menyingkir dari hadapan mereka semua. Tidak lama berselang Raka sudah dipindahkan ke ruang rawat sudah sadar dalam keadaan bagian dada diperban.
Zia langsung menemui sang suami dan memeluk dengan erat, ia menangis meraung hingga tanpa sadar membuat Raka meringis karena ia menekan bagian luka.
"Maaf, maaf. Aku akan memanggil dokter," ucap Zia.
"Tidak perlu, Zia. Aku tidak apa-apa," ucap Raka lembut dengan tersenyum kemudian merengkuh tengkuk leher Zia lalu mengecup keningnya.
"Apa kamu tahu, aku sangat khawatir tadi. Aku takut kamu meninggalkan aku dan Zika berdua saja," ucap Zia sambil mengusap air matanya yang mengalir.
"Nyatanya aku sekarang ada bersamamu kan, Zia?"
Zia mengangguk, bagaimana pun saat ini ia merasa senang. Jika mengingat kejadian beberapa jam lalu yang hampir merenggut nyawa Raka. Namun kini Dion baru mendapatkan kabar dari pengacara kalau Neona langsung dimasukkan ke dalam penjara dan akan didakwa dengan hukuman berat.
Zia juga baru mendapatkan kabar kalau perusahaan Luar Negri yang menolak kerja sama tempo hari karena memilih Johan yang licik, menghubungi Dion bahwa memutuskan untuk melakukan kerja sama dengan perusahaan Raka.
"Aku harap setelah ini tidak ada wanita atau pria lagi yang mengganggu rumah tangga kita," ucap Zia. Ia memegang kepala yang terasa pening dari tadi.
__ADS_1
"Itu tidak akan terjadi, Sayang. Walau mereka datang mengganggu kita namun hanya sebagai angin yang bertiup lewat begitu saja. Cinta kita kuat, tidak ada yang bisa mengusiknya," ucap Raka mengelus-elus kepala yang duduk di kursi sampingnya.
"Aku mencintaimu," ucapnya lagi.
"Aku lebih mencintaimu, Sayang," balas Zia.
***
Bandara.
"Papi ... Mommy ...."
"Zika sayang ...." Zia memeluk putri kecilnya yang sebentar lagi berusia 4 tahun itu erat. Ia begitu merindukan putri kecilnya setelah sebulan lamanya melakukan bulan madu kedua ke Paris.
Setelah kesembuhan Raka, mereka menitipkan Zika ke rumah Mama Clarys dan Raka memutuskan untuk pergi berdua saja tanpa siapa pun. Meskipun begitu selama di sana tidak membuat Zia berhenti memikirkan Zika, sudah makan atau belum, sudah minum susu atau sudah tidur atau belum.
Bahkan Zia selalu memikirkan Zika saat mereka berada di atas ranjang menikmati malam indah mereka. Dan penyesalan Raka adalah kenapa tidak membawa serta putrinya itu karena pikiran Zia selalu ada di rumah meski sedang jauh.
Lihat saja kini, sepasang Ibu dan anak itu berpelukan di depan airport saat baru saja tiba seolah tidak ingin lagi dipisahkan. Entah bagaimana jika anak kedua mereka lahir nanti, mungkin Raka akan terabaikan.
Selama di Paris Zia ternyata sudah dinyatakan hamil 2 bulan dan kini kandungannya memasuki bulan ketiga. Berbeda dari pada sebelumnya kehamilan Zia kali ini tidak menunjukkan hal yang macam-macam seperti halnya saat hamil Zika dulu.
Rumah.
"Siapa bilang? Bahkan aku sangat bahagia kini. Kalau perlu setiap tahunnya kita akan menambah anak," jawab Raka. Kemudian mendapat satu buah cubitan di perut hingga ia kesakitan.
"Apa kau tega membiarkan aku terus dalam kesakitan setiap tahunnya?"
Raka terkekeh kemudian menepuk sisi tempat tidur. "Sini," perintahnya.
"Ngapain?"
"Melanjutkan ronde ke lima."
"Hah?"
"Tidak aku bercanda. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu penting. Ayo sini," ucap Raka.
Zia mendekat patuh duduk di samping sang suami, kemudian Raka menggeser posisi menjadi di belakang Zia. Raka menelusup kan tangan ke perut sedangkan wajahnya berada di pundak istrinya.
__ADS_1
"Aku ingin mengatakan padamu, setelah kita mempunyai anak lagi kau jangan mengabaikanku, aku tidak suka diabaikan." Napas Raka terasa menghangat di leher Zia. Diikuti tangan yang membelai lembut lekukan tulang pipi.
"Apa ini yang dinamakan iri pada anaknya sendiri?" tanya Zia melirik ke samping melihat wajah Raka.
"Kita di rumah ini ada untuk saling melengkapi, menyayangi dan melindungi, sayang. Itu juga harus kita terapkan pada anak-anak kita nanti, tidak ada berbedaan antara kita semua."
"Aku mencintaimu."
"Aku mual mendengar ucapan itu setiap menit," ujar Zia bercanda. Raka mencubit hidung kemudian meraih dagu sang istri lalu memagut bibir merah muda yang sudah diberi lipstik itu.
"Rasanya masih sama seperti saat aku pertama merasakannya dulu," ucap Raka saat setelah melepas tautan bibirnya, detik berikutnya mengusap bibir Zia yang basah.
"Bahkan kamu orang satu-satunya orang yang merasakannya." Zia tersipu malu saat mengatakan itu.
"Papi sama Mommy, Zika sudah capek dari tadi menunggu, tamu-tamu sebentar lagi akan datang." Entah sejak kapan putri kecil mereka yang begitu cerewet itu berdiri di sana.
Mengenakan gaun berwarna biru diaksen pita besar di bagian dada sementara rambutnya di gulung rapi dan poni rata menutup keningnya bak putri raja. Zika sudah siap merayakan pesta ulang tahunnya yang akan diadakan di rumah mereka sebentar lagi.
"Papi sudah siap, Zika. Hanya saja Mommy mu dari tadi terus saja menggoda Papi."
Bug.
Sebuah bantal melayang mengenai wajah Raka sementara Zia bergumam tidak jelas. Zika cekikikan melihat tingkah kedua orang tuanya.
Setelah menggeleng Zia menambahkan polesan makeup di wajahnya beberapa kali mengusap kuas kemudian menambah lipstik berwarna merah di bibirnya menambah kecantikannya.
Sementara Raka memilih untuk mengangkat Zika membawanya dalam dekapan. "Zika sayangnya Papi. Zika mau kado apa dari Papi."
"Zika mau adik. Sekarang turunkan Zika, Papi. Nanti Papi bisa capek," ujar Zika.
"Mana bisa Papi capek gendong putri yang paling cantik seperti ini."
"Tapi Zika sudah besar."
Hari ini adalah perayaan ulang tahun Zika yang ke 4. Semua persiapan sudah tertata rapi di taman rumah mereka. Setelah siap mereka berdua keluar dari kamar menuju taman secara bersama-sama.
Part Happy Ending besok ada di bab 61 ya... yang belum follow Ig samar boleh langsung :
__ADS_1
Ig: Samar_Jenny1
Fb : Samar Jenny