Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 13


__ADS_3

Ting!


Denting suara pertanda lift sudah sampai, pintu pun terbuka. Raka segera bergegas mencari nomor yang sudah diberitahukan oleh dokter.


Saat melihat kamar yang tampak nomor 15 jantung Raka berdegup kencang seperti orang baru pertama kali merasakan jatuh cinta dan ingin berjumpa dengan seseorang itu. Ia segera mendorong pintu hingga terbuka lebar seketika matanya tersorot ke arah perempuan yang sedang tertidur di periksa oleh perawat.


“Zia.” Panggilnya seketika berlari menuju sebelah Zia.


“Sett... pelankan suara Anda, karena pasien baru saja tidur. Dia lagi dalam masa pemulihan metabolisme tubuh, jadi harus banyak tidur saat ini,” ucap perawat perempuan. Raka mengangguk mengerti, dan perawat itu keluar meninggalkan ruangan.


“Dion, keluarlah.” Perintah Raka Dion mengangguk lalu keluar.


Raka menatap dalam-dalam wajah Zia yang sedang terlelap. Wajah polos tanpa ulasan make up dalam beberapa tahun ini. Puji syukur ia panjatkan berulang-ulang atas nikmat yang diberikan, karena Zia sadar dari komanya.


“Ziara Zavanya. Gadis yang sangat polos saat menikah denganku, meskipun berulang kali aku menyakitimu tapi kau tetap memaafkanku, kau yang mampu meluluhkan hatiku yang sudah mengeras. Kini gelarmu menjadi seorang Ibu untuk anak kita, buah cinta kita. I love you, Zia.” Raka mengecup kening istrinya lembut hingga Zia menggeliat kecil.


Perlahan-lahan Zia membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk melalui jendela yang terbuka hingga sinar matahari masuk ke dalam ruangan. Selama 2 tahun ia memejamkan mata tidak melihat cahaya semburat kuning itu, dan kini ia bisa melihatnya kembali sungguh nikmat yang luar biasa patut disyukuri.


Akan tetapi ia merasakan sesak di dadanya. Saat ia menoleh ternyata Raka duduk di kursi sebelahnya sedangkan kepala dan tangan berada di dadanya. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya tapi belum bisa hanya tangan yang meraih pucuk kepala Raka mengusapnya lembut seperti seorang ibu pada anaknya.


Tidak terasa air mata Zia merembes hingga mengalir. Ia senang akhirnya dipertemukan oleh orang yang sangat dicintai.


“Kamu adalah lelaki yang luar biasa Raka. Aku sangat mencintaimu.”


Merasa kepalanya sedang di belai seseorang Raka terbangun dari tidurnya. Dengan tidak sadar ia ketiduran semalam. Mungkin karena efek kecepekan mendera tubuhnya hingga ia tidak kuat lagi menahan rasa kantuk.


Ia segera mengangkat kepalanya di posisi tegap. Matanya langsung tersorot mata Zia yang berbinar bercampur air mata haru. Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun mata itu kini menyapanya.


Dengan tangan bergetar Raka menelusurkan jari ke wajah. Zia memejamkan mata menikmati setiap sentuhan yang diberikan Raka.


“Kamu sudah kembali, Zia?”

__ADS_1


Zia mengangguk tipis seraya tersenyum. “Iya, aku kembali,” balasnya.


Raka memeluk Zia erat-erat sedangkan bibirnya mengecup kepala berulang-ulang. “Akhirnya kau kembali sayang. Terima kasih karena sudah mau kembali pada kami, Zika putri kita pasti senang kalau melihatmu.”


“Z-zika? Dia putri kita?” tanya Zia menatap wajah Raka. “Di mana dia sekarang? Aku ingin bertemu dengannya, biar aku memeluknya.”


“Dia masih ada di rumah, sayang. Saat aku mendengar kau sudah sadar aku buru-buru ke mari jadi tidak sempat membawanya.” Raka sengaja tidak memberitahukan kalau Zika tidak ikut karena sedang di rumah sakit karena terjatuh. Bisa-bisa kalau Raka memberitahu Zia akan sedih.


“Apa kau mau lihat foto-foto Zika sewaktu masih bayi, sayang?" Raka mengeluarkan ponsel dari kantongnya.


Membuka layar lalu menunjukkan pada Zia.


“Lihat ini sayang. Dia sangat lucu saat tertidur, ini saat dia baru lahir. Dia cantik sepertimu kan?”


Zia tersenyum menatap ponsel itu tidak terlewat sedikit pun. Galeri ponsel Raka dipenuhi foto-foto Zika. Membuat Zia senyum-senyum sendiri saat menyaksikan tingkah polah Zika saat tertawa.


“Apa kau tidak merindukanku, Zia?” sergah Raka karena sedari tadi Zia hanya sibuk menatap foto Zika.


“He em.” Ia mengangguk.


Raka tersenyum entah sudah beberapa kali ia tersenyum sepagi ini. Yang jelas saat ini hatinya sangat bahagia seperti bunga yang sudah layu tersiram lagi. Hidupnya seperti kembali lagi, selama dua tahun ia jalani bagai seorang yang mati.


“Selamat pagi, Tuan—Nyonya.” Dokter berpakaian formal masuk diikuti dua orang perawat.


“Pagi dok,” balas mereka berdua.


Dokter itu tersenyum melihat Zia dan Raka begitu bahagia. Raka terus saja mengusap kening istrinya seperti tidak ingin terpisahkan lagi.


“Kesehatan pasien Zia sangat luar biasa. Bahkan detak jantung kembali normal dari para sebelumnya.”


Mendengar itu Raka dan Zia saling menatap bahagia melempar senyum.

__ADS_1


“Tapi untuk anggota tubuh harap bersabar ya. Koma selama 2 tahun membuat otot-otot dan tulang menjadi kaku, oleh sebab itu dibutuhkan beberapa kali terapi supaya bisa kembali normal lagi. Untuk sementara waktu dia hanya bisa seperti ini.” Dokter itu menggerak-gerakan tangan Zia.


“Apa itu akan membutuhkan waktu lama, dok?” tanya Raka.


“Tergantung tubuh pasien, kalau dia cepat merespons otomatis proses terapi hanya membutuhkan 2 Minggu paling lama 1 bulan setengah,” Jawab dokter. “Baiklah, semua sudah baik-baik saja, saya permisi dulu, oke.”


“Terima kasih, dok ....” ucap Raka dokter itu mengangguk lalu pergi dari ruangan.


Raka segera beranjak mengambil wadah baskom mengisinya dengan air hangat. Kebiasaan ini sudah ia lakukan selama dua tahun. Setelah wadah itu terisi ia segera membawanya di mana Zia berbaring.


“Sayang, kau mau apa?” tanya Zia.


Tanpa menjawab Raka memeras handuk di wadah lalu mengusapkan ke kaki Zia. “Apa kau tahu Zia? Selama 2 tahun aku melakukan ini. Dengan terus berharap aku bisa melihatmu bangun. Tapi doaku ternyata sekarang didengar oleh Tuhan. Kau sadar.” Raka terus saja menyeka tubuh Zia.


Tidak terasa air mata Zia menetes. Betapa beruntungnya dia memiliki suami yang sangat menyayanginya. Bahkan dia bersedia membersihkan tubuh Zia setiap hari. Zia merasa tidak bergunanya dia karena lemah tidak bisa merawat sang suami.


Raka menaikkan pandangannya melihat Zia mengusap air matanya. “Kamu menangis?” tanyanya.


“Maafkan aku.” Bibir Zia bergetar menahan tangis.


“Maaf untuk apa?”


“Karana aku selalu merepotkanmu selama ini. Bahkan membersihkan diri saja aku tidak bisa.”


“Hei, tidak perlu merasa bersalah. Aku senang melakukan ini. Bahkan saat kamu sudah bisa mandi sendiri pun aku akan tetap memandikanmu,” kelakar Raka membuat pipi Zia memerah.


“Mulai deh mesumnya.” Zia memalingkan wajah karena malu.


"Tapi kamu suka, kan?" goda Raka membuat bibir Zia tertarik ke atas terukir senyum malu.


Vote author pakai koin atau poin ya sebagai apresiasi padaku kakak yang cantik dan baik se Novelton 🙏

__ADS_1


__ADS_2