
Di pagi hari Zia sedang sibuk berkutat di di dapur, begitulah kesibukan yang dilakukan perempuan itu sehari-hari. Dimulai dengan memasak membuatkan anak dan suaminya sarapan, menemani Zika bermain, menyiapkan keperluan-keperluan Raka dan melayani di saat malam hari.
Hal seperti itu sangat menyenangkan bagi Zia. Karena di dalam titik di mana tidak semua orang bisa merasakannya. Baginya Raka dan Zika adalah kebahagiaan sempurna, walau banyak penghalang-penghalang mencoba memasuki dan merusak rumah tangganya, akan tetapi itu tidak bertahan lama. Hanya bagai sebuhtir debu tertiup angin dan terhempas begitu saja.
Kali ini Zia sedang membuat omlet untuk menu sarapan suaminya. Dan dua gelas susu, satu untuk Raka dan satu lagi untuk Zika. Setelah semua siap ia meletakkan makanan dan minuman ke atas nampan. Kemudian membawa ke kamar.
Ketika masuk ke dalam kamar Zia menggeleng saat mendapati suaminya itu masih tidur dalam keadaan nyaman. Padahal baru saja sebelum ia keluar sudah membangunkan. Zia mengayunkan kaki membawa nampan di tangan ke atas meja. Setelah meletakkan ia menghampiri Raka.
"Pi, bangun. Ini sudah siang ...." Ia menggunakan cara pelan untuk membangunkan Raka yang tidur dalam keadaan telungkup menindih guling.
Semalam Raka mengatakan akan ada meeting penting dengan salah satu perusahaan ternama dari kota Malaysia. Dia meminta Zia untuk membangunkan dan menyiapkan keperluan di pagi hari.
Namun ... kini apa yang terjadi? Disaat semua sudah siap justru Raka tidak bergerak sedikit pun untuk bangun. Zia menggoyang-goyangkan tubuh kekar berotot tanpa memakai pakaian itu. Lengannya keras terpampang nyata Zia mengecup sejenak di bagian punggung yang terekspos.
Raka menggeliat kemudian mengulurkan tangan kebelakang menarik tengkuk Zia sehingga istrinya terjerambah ke dalam dekapan. Dengan keadaan masih memejamkan mata Raka mendekap sang istri menggantikan posisi guling yang sebelumnya.
"Kenapa kamu berisik sekali, sayang ... aku masih ingin tidur," gumamnya masih dalam keadaan setengah sadar.
"Tapi ini sudah siang, Papi ...."
Bukannya bangun justru Raka membenamkan wajahnya ke dada sang istri. Zia mendengkus dengan kelakuan suaminya. "Kalau mau membangunkanku, bangunkanlah dengan cara yang benar," ujar Raka. Napasnya menderu hingga terasa di permukaan kulit Zia.
Zia mencoba melepaskan diri dengan sekuat tenaga karena tubuh Raka benar-benar menindihnya kini. "Kamu harus bangun ... kalau tidak aku akan memaksamu." Masih berusaha sekuat tenaga menyingkirkan tubuh sang suami yang melemas di sampingnya dengan posisi kaki menindih kedua kakinya.
"Sebelum aku bangun aku mau kamu lebih dulu," ucap Raka dengan napas yang menderu menahan sesuatu yang bergejolak di bawah sana.
Zia menaikkan alisnya. Kemudian melirik jam yang menggantung di dinding. Sudah pukul 07 : 00 harusnya Raka sudah pergi mandi atau kalau tidak klien penting yang dikatakan semalam akan kecewa.
"Tapi ... Raka, "hal itu" bisa kita tunda sampai nanti malam." Belum juga Zia melanjutkan ucapannya tangan Raka sudah bergerilya di anggota tubuh kesukaan.
__ADS_1
Mau tidak mau Zia harus menuruti Raka untuk berolahraga pagi di "atas ranjang".
"Oh sial!" umpat Raka saat sudah terbakar oleh api gairah.
Karena suara ketukan pintu menghentikan aktivitas mereka. Raka turun dari tubuh sang istri dengan Rasa kesal karena menahan sesak tak tertahan. Ia mengumpat dalam hati sambil memakai celana pendek miliknya. "Aku tidak akan mengampuni siapa pun orang itu yang telah mengganggu ku!" gumamnya dalam hati.
Sementara Zia menaikan terkekeh melihat kekesalannya Raka. Ia mengubah posisi dalam keadaan duduk bersandar di kepala ranjang sambil menutup tubuhnya hingga dada dengan selimut tebal berwarna abu-abu.
Rahang Raka mengeras, tangannya mengepal melangkah lebar membukakan pintu. Dengan kasar menarik gagang pintu hingga terbuka. Kepalan tangannya seketika menjadi mengendur rahang yang mengeras berubah menjadi sebuah senyuman di bibir. Saat ternyata yang berdiri di depan pintu adalah Zika.
Gadis kecil berambut hitam dan lurus memiliki pipi chubby meringis menunjukkan deretan giginya yang kecil-kecil putih dan bersih. Raka memutar bola matanya ke atas kemudian menarik napas.
"Zika?" Raka menatap putri kecilnya.
"Papi ... Cika mau susu ...." Zika menyodorkan botol susu pada Raka.
Raka menggaruk tengkuknya kemudian menoleh ke belakang. Sepertinya mama Claris harus mempercepat mencari pengasuh dan pelayan untuk rumah ini. Dengan begitu Zika tidak akan menggangu waktu kebersamaannya dengan Zia.
Zia mengambil botol di tangan Raka kemudian mendorong tubuh tegap dan berotot itu ke untuk mandi. Setelah Raka masuk Zia membelai pipi si buah hati gemas.
"Zika, tunggu di dalam ya, biar Mommy buatkan susu."
Zika mengangguk kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk di atas ranjang. Sementara Zia pergi ke dapur untuk membuatkan Zika susu.
Saat Zia sedang menuang air panas dari dispenser ke dalam botol. Bel rumah berbunyi. Ia pun segera menutup tutup botol kemudian meletakkan meninggalkannya membuka pintu.
Dion sudah berpakaian rapi dengan stelan kemeja berwarna abu-abu dibungkus jas berwarna hitam senada dengan warna celana berdiri tegap dengan tatanan rambut cesual sudah dibasahi dengan minyak rambut pria merek ternama, ia berdiri tegap di depan pintu saat Zia membukanya.
"Selamat pagi, Nyonya," sapanya dengan sopan santun namun masih terlihat berwibawa.
__ADS_1
"Ah, ternyata kau rupanya, Dion. Silakan masuk." Zia melebarkan pintu mempersilakan Dion untuk masuk. Kemudian ia berjalan lebih dulu ke dalam.
"Duduklah Dion, mungkin Raka masih butuh waktu lama untuk bersiap," ucapnya sambil terus saja berjalan menuju dapur untuk mengambil botol yang dia tinggalkan tadi.
Dion duduk di sofa ruang tamu berwarna hitam itu. Menunggu tuannya keluar sambil memainkan ponselnya tersenyum-senyun sendiri saat melihat model pakaian tidur dari sebuah butik toko online dari dalam ponselnya.
"Sesil pasti lucu kalau memakai ini," gumamnya sambil menekan menggeser layar naik dan turun.
"Lebih baik aku memesan satu untuknya." Ia memesan dua pasang pakaian tidur dengan model kain menerawang dan berbentuk kupu-kupu di bagian bawah.
Dion mengubungi penjual kemudian teransaksi berhasil. Ia tersenyum senang membayangkan jika Sesil memakai pakaian itu saat menyambutnya pulang.
"Ehem!" Raka berdehem dari belakang Dion.
Dion yang menyadari kehadiran Raka seketika berdiri memasukkan ponselnya ke dalam saku jas.
"Selamat pagi, Tuan," ucapnya. Dengan wajah bersemu merah. Ia ketangkap basah saat melihat-lihat model pakaian dalam wanita tadi. Memungkinkan karena posisi Raka tepat di belakangnya.
"Sejak kapan kau menjadi wanita jadi-jadian seperti ini?" tanya Raka, "Apa kau juga memakai model dalaman seperti yang kau lihat barusan?"
Dion menggeleng cepat. "Tidak Tuan, aku hanya--memilih untuk istriku."
"Peff ... sejak kapan kau menjadi lelaki yang diperbudak seorang istri seperti ini? Bahkan pakaian dalam pun harus kamu yang memilih." Raka menahan tawa tingkah sekretarisnya itu begitu menggelitik.
"Wah ... kau pengertian sekali, Dion ...." Suara Zia terdengar menyela dari belakang. Sontak membuat Raka seketika bergeming.
Raka hadir... Tidak menerima kritikan visual ya xixixi kalian merasa kurang cocok cari aja di google sesuai keinginan terus lihat deh sambil baca.
__ADS_1
Jangan lupa klik vote tanda pojok kanan ya gisss 😘