
Mereka semua diam tidak ada yang berani bicara.
Dion dan Sesil menunduk.
Sedangkan Raka menggeleng tak habis pikir. Dugaannya salah jika Zia akan memaafkan Sesil dengan mudah justru Zia memasang wajah garang melipat tangan di depan perutnya.
"Silakan diminum."
Raka, Dion dan juga Sesil seketika menoleh pada Zia.
"Kalian kenapa menatapku seperti itu?" Zia menatap mereka secara bergantian.
Sesil masih canggung. Kenyataan Zia tidak percaya padanya membuat ia ingin segera pergi dari sana. Mungkin dia pantas mendapat ini. Tapi bukankah hukuman dari Dion sudah sepadan dengan perbuatan yang telah dia lakukan?
"Sesil, kenapa kau diam? Ayo cepat minum! Apa kamu takut aku membumbui racun dalam minuman ini?" Zia meraih satu cangkir di hadapannya.
"Aku akan memastikan kalau minuman ini benar-benar aman." Ia tenggak minum itu hingga tersisa setengah gelas.
"Bukan seperti itu, Zia. Tapi ... aku--" Saat Sesil ingin melanjutkan kata-katanya Dion memegang lengannya dengan tatapan hangat mengedipkan mata. Seolah memberi isyarat minumlah.
"Hahahaha ... aku tidak menyangka bisa melihat ekspresi seorang Dokter Sesil yang sangat terkenal bisa menunjukkan ekspresi seperti ini." Gelak tawa Zia pecah sedangkan mereka bertiga menatap dengan tatapan bingung.
"Sesil, aku tidak sejahat itu. Kamu sudah mendapatkan balasan dari apa yang kamu lakukan," ucap Zia sambil memegangi perut yang terasa menggelitik saat melihat ekspresi Sesil.
"Apa maksudmu, Zia?" tanya Sesil sedikit condong ke depan.
"Aku maafkanmu, Sesil." Kali ini suara Zia terdengar lebih serius. Kemudian bola mata itu mendongak menatap sang suami di sampingnya.
Benarkah Zia memaafkannya? Benarkah? Apa dia tidak salah dengar? Sesil tidak bisa berkata-kata bahkan membekap mulutnya sendiri sebagai rasa haru. Kemudian ia berdiri menghampiri Zia. Pun dengan Zia ikut berdiri.
"Terima kasih, Zia. Apa aku boleh memelukmu?" tanya Sesil.
"Tidak!" jawab Raka dari arah belakang. Sedetik kemudian menghampiri Zia dan memeluk dari samping.
"Tidak ada yang boleh memeluknya, kecuali aku. Zia meaafkanmu bukan berarti kamu bisa berbuat lancang, Sesil."
Zia terkekeh melihat tingkah sang suami.
'Apa dia cemburu pada semua jenis?' batinnya.
__ADS_1
"Kalian kenapa masih bengong di sini? Kalau sudah selesai cepat pergi! menggangguku saja," gumam Raka.
"Baiklah, Tuan, Nona. Kami permisi dulu karena Sesil akan memulai lagi untuk bekerja di rumah sakit." Dion menautkan tangan ke tangan Sesil yang masih mematung.
Memulai lagi? "Apa maksudnya?"
Sesil merasa mendapat titik terang kini hubungannya dengan Zia yang membaik tentunya akan mempermudah dirinya melawan Dion. Tunggu saja semua Dion!
"Bukan apa-apa, Nona. Hanya saja secara kebetulan Sesil beberapa hari ini mengalami tidak enak badan."
Sesil menggeleng cepat menolak pernyataan dari Dion. "Ti--"
"Sepertinya kami harus segara pergi. Maaf telah mengganggu waktu kalian." Tangan Dion yang membekap mulut Sesil sebelah lagi sambil menuntunya.
Zia dan Raka tampak bingung saling menatap hingga disusul kedua pundak yang terangkat.
Raka langsung menutup pintu tidak ingin ambil pusing dengan apa yang terjadi pada Dion dan Sesil. Kini ia merasa lega karena akhirnya pengganggu telah pergi.
"Ayo sayang, kita lanjutkan kegiatan kita yang tertunda." Seiring tangan kekarnya mengangkat tubuh Zia membawanya dalam dekapan.
"Lepaskan aku, Dion! Kenapa kamu menahan ku untuk bicara pada mereka?!" gerutu Sesil saat sampai di samping mobil. Tangannya berdekap dengan bibir mengerucut dan alisnya menyatu. Setelah berhasil lepas dari tangan Dion ia masuk ke dalam mobil.
"Marah?" tanya Dion saat sudah duduk di kursi kemudi.
"Seharusnya kau senang karena hari mendapat maaf, dan juga bisa kembali menjalani aktivitas seperti biasanya," cibir Dion.
"Aku tidak berselera! Antar aku pulang!" Perasaan menggebu-gebu Sesil sebelumnya yang tampak antusias kini lenyap begitu saja saat Dion mempermalukan dirinya di depan Zia dan Raka.
Tunggu saja, Sesil akan berjuang dengan jiwa raga untuk meraih kebebasannya. Bisa lepas dari Dion lelaki kasar itu merupakan impiannya selama beberapa terakhir ini.
"Oh, jadi kau lebih suka menungguku di rumah? Ternyata kamu sudah menjadi istri yang patuh sekarang. Aku suka, i love You."
Sesil menjulurkan lidah seperti ingin muntah saat mendengar kata-kata Dion.
"Kenapa kau mual? Apakah mungkin kamu sedang hamil?"
Hah? Kedua bola mata Sesil langsung membulat saat mendengar kata-kata Dion lagi, disusul sebuah gelengan.
"Mana mungkin aku hamil. Itu tidak akan pernah terjadi!"
__ADS_1
Pff... Dion menahan tawanya. "Bagaimana bisa kamu bisa bicara begitu sedangkan setiap malam aku selalu bercocok tanam di sana," tunjuknya dengan dagu ke arah perut Sesil.
Membuat Sesil menutup perutnya dengan tas di pangkuannya. Mereka berdua kembali diam, Sesil sibuk memikirkan bagaimana kalau dia benar-benar hamil? Ah, tidak mungkin tidak mungkin.
Tak terasa mobil yang dikemudikan Dion telah sampai ke depan rumah sakit. Dion mematikan mesin kemudian menoleh ke arah Sesil.
"Silakan turun. Aku harap kamu bisa bekerja dengan baik tanpa membayangkan wajahku," ucap Dion.
Duh, percaya sekali dia. Bahkan Sesil melihat wajahnya merasa mual, apa lagi jika teringat saat memperlakukan di atas ranjang dengan kasar. Meskipun Dion tampan Sesil menganggapnya hanya sebagai seorang yang tidak waras!
Sesil menggeleng, detik berikutnya tangannya bergerak untuk membuka sabuk pengaman. Kemudian mendorong pintu akan keluar sebelum kemudian tangan kekar Dion memegang pergelangan tangannya.
"Tunggu." Dion mengangkat tubuhnya untuk mengecup kening Sesil.
"Dosa, kalau istri pergi tanpa restu suami."
Duh, Dion bicara tentang dosa. Terus bagaimana perbuatannya pada Sesil yang semena-mena?
Sesil mengusap keningnya ia tidak ingin bekas bibir Dion terus saja menempel di dahinya. Ditariknya banyak tisu kemudian mengusap berulang-ulang sambil keluar dari mobil.
Sedangkan Dion terkekeh merasa lucu sambil menatap punggung Sesil yang berangsur menjauh dari hadapannya. Dion memang tidak memedulikan perasaan Sesil yang dia tahu adalah mencintai Sesil dan memiliki seutuhnya.
Tidak ada satu pria pun yang mendekat pada Sesil. Tidak untuk siapa pun!
Tapi tunggu. Belum juga Dion selesai bernego dengan perasaannya sendiri dia sudah melihat Sesil bertegur sapa dengan pria yang kemarin malam dia lihat di pesta. Sialan! Dion memukul stir kemudian mendorong pintu ia keluar dari mobil.
Alisnya saling bertaut seiring rahang yang mengetat. Dengan langkah lebar ia menyorot tajam ke arah dua manusia yang sedang asyik mengobrol itu.
"Sesil!"
Seketika si pemilik nama menoleh dengan wajah malas. "Pasti dia salah sangka lagi," gumamnya.
"Dokter Dika, kau masuk saja dulu. Ada urusan yang harus kuselsaikan dengan orang ini." Sesil menatap Dion malas. Setelah Dokter Dika tidak terlihat lagi ia berjalan pergi meninggalkan tempat itu.
Disusul Dion di belakangnya. "Ayo kita pulang!" Menarik pergelangan tangan Sesil namun mendapat sebuah penolakan.
"Jangan bilang kalau kau ingin mengajak aku pulang terus kau menyiksaku seenak jidatmu!" Sesil begitu berani melawan Dion kini tentunya karena dia sudah mempunyai hubungan baik dengan Zia.
"Ayo kita pulang!"
__ADS_1
"Tidak mau!"
"Rupanya kau ingin dengan cara kekerasan?" Dion menarik tangan Sesil kasar. Tanpa dia duga sebuah bogem mengenai wajahnya hingga tubuhnya tersungkur.