Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 53


__ADS_3

Hari sudah hampir pagi namun Sesil belum juga bisa terpejam. Dengan rambut acak-acakan terburai maskara luntur seiiring dengan air mata yang terus saja mengalir hingga matanya sembab.


Ia merutuki nasibnya sendiri menyesal kenapa harus dipertemukan dengan Dion di dunia ini. Lelaki yang begitu menyebalkan yang pernah dia temui sepanjang hidupnya.


Ia terus saja menangis mengingat perlakuan kasar Dion beberapa jam yang lalu padanya.


Hingga tiba-tiba Sesil tersentak saat tangan kekar Dion tiba-tiba melingkar di pinggang dari belakang. Dion pun mulai meringsut mendekatkan wajahnya hingga tepat berada di kepala Sesil hingga kulit mereka yang tidak mengenakan apa-apa saling bersentuhan.


Sesil menyingkirkan tangan yang melingkar di pinggangnya kemudian tidur meringsut menggunakan tangan sebagai bantal.


"Kenapa belum tidur? Hari sudah hampir pagi," tanya Dion. Dengan suara parau khas bangun tidur bahkan Dion belum membuka matanya.


Sesil enggan untuk menjawab ia semakin mempererat selimut yang membungkus dirinya sendiri. Hingga pergerakannya memacu Dion membuka mata, lelaki itu melirik sejenak melihat bahu Sesil bergetar pertanda kalau istri yang sangat dia cintai itu menangis.


Dion menghela napas panjang kemudian menggeser tubuhnya menjadi dalam posisi duduk bersandar di kepala ranjang.


"Aku minta maaf, Sesil." Suara itu terdengar berat mungkin ada terselip sebuah penyesalan di sana.


"Kamu mau kan maafkan aku, Sesil?"


Sesil tetap diam. Rasa bencinya terhadap Dion bahkan semakin besar setiap bertambahnya waktu. Lagi-lagi Sesil terperanjat saat tangan Dion merayap ke rambut mengelus-elus dengan alunan lembut.


"Jangan takut, aku tidak akan menyakitimu. Akan ku pastikan bahwa tadi yang terakhir, aku yakin itu."


Masa bodoh dengan janji Dion, Sesil tidak butuh itu. Yang dia butuhkan kini hanya dibiarkan bebas kembali menjalani aktivitas tanpa sebuah ancaman! Itu saja tidak lebih. Tangan Sesil bergerak untuk mengusap air matanya. Setelah dia pikir-pikir tidak ada gunanya menangis di depan lelaki yang tidak mempunyai belas kasihan ini.


Sesil memejamkan mata pura-pura tidur menghindari interaksi dengan Dion. Karena demi apa pun ia sangat muak bicara atau bahkan menatapnya.


Dalam kamar itu terasa sepi di bawah remang lampu tidur yang menyala hanya satu sudut hanya terdengar suara helaan demi helaan napas berat Dion. Sepertinya ia sedang meratapi perbuatannya sendiri. Sekali lagi hidupnya mengembang menarik napas panjang.


Kemudian ia menatap tubuh kecil Sesil yang memunggunginya mencengkeram selimut kuat-kuat di dadanya. Sejenak terlintas rasa kasihan pada Sesil.


Atas kesalahannya yang tidak seberapa Dion telah menghancurkan semua. Bahkan karier yang sedang cemerlang pun harus ditinggalkan karena Dion membatasi ruang geraknya.

__ADS_1


Maaf.


Hanya kata itu yang bisa Dion ucapkan dalam hati. Bagaimana pun sifatnya pada Sesil, bagaimana pun perlakuannya. Ini semua dia lakukan hanya karena semata rasa cinta. Rasa cinta yang tidak ingin ditinggalkan Sesil jika ia terlihat lemah dan menuruti permintaannya.


Pagi pun tiba. Mata sembab Sesil pelan-pelan terbuka saat mendengar suara gorden jendela besar bergeser seseorang membukanya. Ia pun melihat orang yang berdiri di depan jendela itu, dan ternyata Dion.


Sesil menjatuhkan lagi kepalanya. Rasa semangatnya hilang saat melihat wajah Dion yang begitu menyebalkan menyambutnya.


"Bangun."


Sungguh Sesil tidak ingin berdebat pagi ini dan berharap Dion tidak bicara padanya. Ia melirik malas ke arah Dion.


Dion berjalan ke arahnya terdengar suara derap sepatu yang kian mendekat. Sesil memejamkan mata, dia masih marah atas perbuatan Dion semalam. Hingga terasa sisi tempat tidur sampingnya meringsek pertanda bahwa Dion sudah duduk di sana.


"Apa kamu tidak ingin kembali bekerja?"


Mata Sesil mengerjap. Bekerja? Apa dia tadi salah dengar? Bekerja apa yang Dion maksud? Apa jangan-jangan dia disuruh bekerja di rumah ini?


"Banyak pasien yang menunggumu. Apa kamu tidak ingin mengobati mereka?"


"Jadi tunggu apa lagi? Cepat bangun atau dalam sepuluh menit aku akan berubah pikiran!" Setelah berucap Dion beranjak dari tempat tidur berbalik berdiri di depan cermin membenarkan tatanan rambutnya.


"Aku sudah bangun. Aku akan segera mandi," ucap Sesil. Langsung menyibak selimut yang semalaman ia gunakan sebagai tameng.


Dion menyeringai saat melirik ke arah Sesil, tanpa sadar istrinya itu lupa kalau menyibak selimut tanpa ada kain lagi yang menutupi tubuhnya.


"Apa kamu ingin menggodaku, Sayang." Senyum seringai muncul dari bibir Dion.


Sesil yang baru menyadari pun langsung menarik selimut untuk menutupi tubuhnya lagi melilitkan di dada kemudian ia berlari ke kamar mandi. Dion terkekeh melihat tingkah konyolnya itu.


Tidak butuh waktu lama untuk Sesil mandi sebegitu antusiasnya ia bahkan sangat terburu-buru karena dia takut jika Dion berubah pikiran. Dengan rambut yang masih basah dan mengenakan kimono handuk berwarna putih ia keluar dari kamar mandi.


Berpapasan dengan Dion yang baru saja memasuki kamar dari arah luar, ia membawa nampan berisikan makanan. Setelah memberi sebuah senyuman pada Sesil ia meletakkan nampan itu ke atas meja. Detik berikutnya ia duduk di sofa membuka lembaran berkas.

__ADS_1


"Makanlah, aku sudah membuatkan sandwich untukmu," perintahnya tanpa menatap sibuk membaca tulisan dalam berkas itu.


Sesil melangkah ke depan meja rias. Ia mengeringkan rambut dengan hair dryer sambil menatap bayangan Dion dari cermin. Dia tampak bingung dengan perubahan sikap lelaki itu.


'Apa ada sesuatu di balik ini semua?' batinnya. Kemudian setelah rambutnya kering ia mematikan hair dryer itu.


"Makanlah ... nanti kelamaan jadi tidak enak," ujar Dion.


"Tapi aku tidak berselera makan." Jawaban Sesil membuat Dion tidak suka. Kemudahan lelaki itu meletakkan berkas di tangan ke atas meja.


"Apa untuk hal makan saja aku harus memaksamu."


"Tidak, tidak, aku akan makan." Dengan cepat Sesil duduk dan mengambil sandwich lalu memakannya."


Setidaknya Dion merasa puas, senyum tersungging muncul dari bibirnya kemudian ia melanjutkan memeriksa berkas-berkas itu lagi.


Sesil menatap Dion ragu-ragu, kemudian mengulurkan tangan untuk mengambil gelas berisikan air, setelah meminumnya dan meletakkan kembali gelas ke tempat semula ia berdehem.


"Dion." Butuh waktu beberapa detik untuk membenarkan posisi sehingga Dion menoleh ke arahnya.


"Kalau boleh aku bertanya, kenapa kamu tiba-tiba berubah pikiran seperti ini?" tanya Sesil ragu-ragu. Ia memberanikan diri untuk menatap mata Dion yang langsung dengan tatapan sengit.


"Kenapa? Apa kamu tidak suka?"


"Bukan begitu, he uh. Maksudnya bukankah semalam kamu bersikeras untuk tidak membiarkan aku kembali menjalani profesiku, bahkan kau--"


"Itu semua kulakukan karena aku kasihan padamu, Sesil. Dan perlu kamu ingat, kamu bisa kembali bekerja tapi kamu tidak bisa seenaknya. Ingat, aku mengawasi semua pergerakan mu dua puluh empat jam." Dion tanpa menoleh kemudian beranjak merapikan jas.


"Kalau kau sudah selesai segeralah turun, aku menunggumu di mobil." Kemudian Dion membawa berkas-berkas keluar dari kamar.


Sedangkan Sesil masih terpaku. "Apa yang dimaksud mengawasi dalam dua puluh empat jam?"


...***...

__ADS_1


vote jangan lupa ya... biar aku juga semangat menghadapi level yang menurun cuma demi kalean giss aku sanggup menghadapi dunia perlevelan.


__ADS_2