Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 19


__ADS_3

Suasana rumah sedang sunyi, Zia dan Raka sedang berduaan di kamar. Pelan-pelan Raka menuntun tangan Zia saat memijakkan kaki di lantai. Dia berjalan mundur sedangkan Zia berada di hadapannya berjalan maju dengan tangan saling bertautan.


...“Ayo sayang, pelan-pelan. Ayo!” titah raka terus menuntun istrinya berjalan....


Sedangkan Zia sangat semangat ingin untuk segera bisa berjalan. Ia sudah tidak sabar ingin bermain dan berlari-lari bersama Zika.


Perlahan-lahan ia melangkahkan kaki secara bergantian dengan konsentrasi penuh. Dengan berusaha sekuat tenaga. Pelan-pelan ia mengangkat kaki, akhirnya berhasil menggerakkannya. Ini bagus, berarti otot-otot kaki Zia sudah mulai berfungsi dengan baik. Kali ini Zia ingin mencoba berjalan tanpa berpegangan tangan Raka.


...“Lepaskan tanganmu, sayang. Aku mau mencobanya sendiri.”...


Raka memberi kesempatan, melepas tangannya tanpa mengurangi kewaspadaan terhadap istrinya itu. Ia memerhatikan kaki Zia melangkah sedikit demi sedikit kaki itu melangkah di atas lantai.


...“Aku sudah tidak sabar ingin melihatmu bermain-main dengan lincah lagi seperti dulu di atas ranjang,” ucap Raka....


wajah Zia seketika memerah spontan memukul dada Raka pelan.


...“Haihh kamu ini!” menyembunyikan wajahnya di dada suaminya itu lalu kembali berkata, “Aku capek ….”...


Napasnya menderu karena walau tenaga yang ia keluarkan hal yang biasa bagi orang normal, tapi tidak bagi Zia. Hanya dengan berjalan beberapa langkah dari sisi ranjang


tenaganya sudah hampir habis.


Raka mengangkat tubuh sang istri dikecup keningnya lalu setelahnya diletakkan ke atas ranjang pelan-pelan bak porselen yang rapuh jika terjatuh akan pecah.


...“Istirahatlah, besok kita latihan lagi, oke?”...


Zia mengangguk dan tersenyum. “Sayang,” panggilnya.


...“Hemm,” jawab Raka yang mendekap, napasnya menderu di kepalanya....


“Sampai kapan kamu tetap di rumah? Bukankah ... kamu harus ke kantor, sesekali?”


...Raka tersenyum mengecup kepala Zia lalu berkata, “Sampai kamu sembuh total, seperti sedia kala. Lagi pula ada Rio yang mengurus semua, dia bisa diandalkan.”...

__ADS_1


“Mengenai toko kueku, gimana?” Karena Zia belum pernah mendengar kabar toko kue yang ia kelola.


...“Toko kue-” Raka memutar kedua bola matanya. “Untuk sampai saat ini, toko kue masih tutup.”...


“Tutup?” Zia membalik badannya menghadap sang suami. “Bagaimana bisa tutup? Kamu tahu sendiri kan ... kalau aku sangat menginginkan toko kue itu maju?” gerutu Zia.


...“Iya, aku tahu. Tapi ... tanpa kamu toko kue itu tidak bisa. Walaupun ada beberapa orang yang bisa membuat kue, mereka tidak bisa membuat kue seenak kue buatanmu.” Raka kembali menenggelamkan kepala Zia lalu mengusap-usap rambutnya....


“Sekarang yang terpenting kamu harus cepat sembuh, supaya bisa membuka toko kue itu lagi, bisa bulan madu kedua, dan bisa bermain seperti dulu lagi,” kelakar Raka.


...“Dih.” Zia memukul bahu suaminya....


Zika tertawa lepas di sebuah taman yang terletak tidak jauh dari rumah. Ditemani Clarys gadis kecil itu berlari-lari mengitari sekeliling taman.


Kebiasaan ini saat ini sudah merupakan kesukaan Zika hampir setiap sore. Terkadang dengan Clarys, kalau wanita itu sedang ada urusan pergi bersama Vita.


Saat ini Clarys mengawasi cucunya yang berada di hadapannya. Karena lelah ia duduk di kursi taman bersama Zika.


Zika beranjak dari kursi ingin mengambil mainan yang terjatuh, saat sedang berlari-lari tiba-tiba perempuan bertubuh tinggi berkulit putih dan rambut


“Unda!” seru Zika saat melihat ke atas ternyata adalah Sesil.


“Hai sayang, apa kabar? Unda kangen banget sama Cika.” Sesil menarik tubuh Zika lalu membawanya dalam pelukan.


Clarys yang melihat dari kejauhan segera mendekat. Ia mengingat kata-kata Raka, kalau Zika harus jauh-jauh dari Sesil. Ini demi kebaikan keluarganya, walau bagaimanapun orang lain tetap orang lain. Tidak bisa disejajarkan dengan keluarga. Wanita itu segera menarik Zika dari pelukan Sesil hingga perempuan itu terkejut.


“Zika ikut grendma ya. Ayo kita pulang,” ucapnya mengangkat Zika dalam gendongannya.


“Cika mau sama unda, glenma ... Cika kangen, mau peluk lepaskan, Glendma.” Zika memberontak minta di turunkan dari gendongan Clarys.


Sesil beranjak dari duduknya lalu menghampiri Claris. Ia sangat merindukan Zika, sudah berminggu-minggu lamanya ia tidak bertemu dengan gadis kecil yang selalu membuatnya gemas itu.


“Aku mohon Tante, biarkan aku memeluk Zika. Aku sangat merindukannya,” ucapnya.

__ADS_1


“Unda ....”


Clarys terkekeh mencoba menahan Zika dengan seluruh tenaganya. Karena Zika terus memberontak akhirnya dia melepaskannya. Setelah gadis itu berpijak ke tanah seketika berlari pada Sesil.


“Zika, hei ....” panggil Clarys mencoba mengambil cucunya kembali. Tapi tubuh kecil dan mungil itu sudah berada di dekapan Dokter Sesil.


Saat wanita itu semakin mendekat Dokter Sesil memasang air muka nanar tatapan penuh permohonan, disertai permohonan. “Tante, aku mohon beri waktu untuk kami untuk melepas rindu. Aku sangat tersiksa dua Minggu ini tidak bertemu dengan Zika,” ucapnya dari balik punggung Zika yang dalam pelukannya.


Tersirat rasa iba di mata Claris, apa lagi ia tahu, kalau selama ini Dokter Sesil-lah yang membantunya merawat Zika selama ini. Apa dia tidak egois kalau tiba-tiba menjauhkan Zika dari Dokter Sesil?


“Tapi, Raka-”


“Please ... Tante, jangan beritahu dia kalau aku menemui Zika. Aku mohon Tante.” Dokter Sesil menyatukan kedua tangannya sebagai permohonan.


“Baiklah, tapi jangan lama-lama (kayak upnya author🤣). Dan tentunya dalam pengawasanku.”


Dokter Sesil segera mengangkat Zika membawa beranjak dengan wajah semringah. “Terima kasih banyak, Tante.” Tersenyum pada Clarys lalu menatap Zika.


“Zika, kita main yuk?” gadis kecil itu mengangguk.


“Tante boleh duduk, melihat kami bermain di sana dari sini,” titahnya lagi.


Clarys menuruti kata-kata Sesil. Ia duduk di kursi besi berwarna putih menyaksikan Zika dan Dokter Sesil dari kejauhan. Urusan soal Raka, nanti ia akan membahas tentang ini. Akan mencari jalan keluar yang tepat untuk Dokter Sesil.


“Zika, kita duduk sini yuk,” ajak Dokter Sesil setelah beberapa menit mereka bermain. Posisi mereka terlihat oleh Clarys tetapi suara mereka tidak.


Zika mendekat duduk di sebelah Sesil. Mengayun-ayunkan kaki dengan lucu.


“Zika kangen tidak sama Bunda?” tanya Sesil mengusap rambut Zika penuh kasih sayang.


Gadis kecil itu mengangguk tanpa paksaan. Karena yang ia tahu selama ini Sesil-lah yang memperkenalkan menjadi Bundanya.


“Bunda juga kangen banget sama Zika.” Sesil memeluk erat tubuh Zika. Ia memutar bola matanya lalu kembali berkata, “Ternyata benar yang ditakutkan bunda selama ini, sayang. Setelah kedatangan perempuan itu kita dipisahkan, benarkan apa yang bunda katakan selama ini?”

__ADS_1


^^^Ia menjauhkan memegangi kedua pundak gadis itu untuk menatap mendapat jawaban. “Pokoknya Zika tidak boleh dekat dengan dia ya. Perempuan itu jahat, dia mau supaya kita dipisahkan.”^^^


__ADS_2