
Mencari Kebenaran...
"Papi sudah pelgi, Mom," ucap Zika.
Rasa kecewa seketika melingkupi perasaan Zia. Bukan kecewa karena Raka pergi tanpa membangunkannya tapi karena suaminya itu pergi tanpa sarapan yang ia buat.
Bagaimana kalau Raka memakan makanan yang dibuat oleh Neona? Perasaan buruk itu kembali berkelebat. Itu semua tidak boleh terjadi, ia harus segera menghubungi Raka.
Zia segera beranjak dari tempat tidur kemudian mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja. Kemudian menekan nomor sang suami mendekatkan benda tipis berbentuk persegi itu ke telinga. Zia tampak gelisah menggigit bibir bawahnya sambil menunggu telepon tersambung.
Setelah beberapa menit Raka tidak menjawab panggilannya. Ia mencoba menghubungi Dion juga sama tidak ada jawaban.
"Ke mana mereka semua?" tanyanya dalam gumam. Hingga matanya melirik ke arah Zika yang dari tadi menatapnya.
Ia pun mendekati Zika merangkul. "Apa kau mau Mam buatkan susu, Sayang?"
Zika menggeleng. Zia mengangkat sebelah alisnya.
"Tapi kenapa?"
"Papi sudah buatkan, dan papi juga sudah buat sarapan buat momi." Zika menarik tangan sang Mama.
"Ayo, Mom, kita ke meja makan. Zika sudah lapal," ucap Zika terus saja menarik tangan Zia untuk keluar ke meja makan.
Saat sampai di ruang makan, sudut bibir Zia tertarik mengulas sebuah senyuman. Ada banyak makanan di atas meja berupa nasi goreng, roti tawar yang sudah di olesi selai dan ada satu makanan yang menggelitik bagi Zia yaitu mie instan.
Rupanya suaminya itu sampai detik ini belum pandai membuat mie instan. Itu semua bisa dilihat dari penampakannya yang terlihat kacau rebusan terlalu lama menjadi menggumpal, sedangkan bumbu tidak tercampur rata. Namun makanan itu yang menarik perhatian Zia.
"Mom, Zika mau mam loti." Ucapan putrinya membuat menoleh mengalihkan perhatian dari mie instan penuh kenangan itu.
"Sini." Ia mengangkat tubuh putri kecilnya itu menaikkan ke atas kursi. Mengambilkan sebuah roti yang sudah diolesi selai kacang. Lalu kemudian ia duduk memakan mie yang sudah spesial dibuat oleh Raka itu.
Zia lega ternyata kekhawatirannya tidak terjadi karena suaminya itu pasti sudah makan sebelum pergi. Ia melahap mie instan itu sampai habis. Setelah makanan Zika tidak tersisa lagi ia mengambil piring yang kotor dan membawanya ke dapur.
"Zika, duduk sini dulu ya, mom mau beresin ini dulu," ucapnya dan Zika mengangguk.
__ADS_1
Ia mengayunkan langkah menuju dapur saat kakinya terhenti melihat dapur sangat berantakan ia begitu syok. Tarikan napas panjang seketika lolos melewati rongga dadanya.
Suaminya itu tetap saja tidak berubah, sekarang harus membuat bingung membersihkan dapur mulai dari mana. Zia menggeleng kemudian mulai memasukan satu per satu alat-alat yang digunakan Raka memasak ke dalam pencurian piring.
Zia mulai mencuci piring-piring dan beberapa alat lainnya. Sedangkan matanya menoleh ke arah meja makan sambil memantau Zika yang sedang bermain boneka di kursi.
Saat Zia sibuk membersihkan dapur tiba-tiba suara bel rumahnya ber denting. Zia segera mengelap tangannya dengan celemek kemudian berjalan buru-buru untuk membuka pintu.
Matanya membulat seketika saat melihat Neona berpakaian seksi bagian dada terbuka dan bagian bawah sampai ke paha. Zia tahu, pasti kedatangan perempuan itu ke rumahnya hanya untuk mencari perhatian, ingin mengorek informasi tentang suaminya.
Zia tidak bisa tinggi diam, satu-satunya cara untuk mengetahui foto-fotonya itu benar atau tidak adalah dengan cara berpura-pura tidak tahu. Ia baru mengenal Neona beberapa hari ini, itu pun karena mereka tidak sengaja bertemu di pusat perbelanjaan. Dan Zika mengatakan kalau Neona adalah orang yang menemukan di mall tempo hari.
Tunggu-tunggu, Zia mengedipkan matanya. Mengingat kejadian sewaktu Zika hilang dari Mall. Jadi itu semua ada hubungannya dengan Neona. Apa setiap menyangka tentang perempuan itu Raka selalu marah-marah padannya.
"Zi, apa kau mau menjemurku di sini sepanjang hari?" Neona mengibaskan tangan di depan wajah Zia yang sedang bengong.
Zia mengerjap. "Ah, iya maaf, Neona, aku sedang memikirkan sesuatu," ucapnya basa-basi.
"Hemm, kalau boleh aku tau, apa yang sedang kau pikirkan, Zia?"
"Tidak ada." Ia tersenyum terpaksa seperti layaknya seorang mertua pada menantunya.
"Apa aku boleh masuk? Aku sudah merindukan Zika."
Belum juga Zia membuka mulutnya, Neona sudah menerobos masuk melewati dirinya. Sesampainya di dalam Neona berteriak memanggil nama Zika.
"Zika ... kamu di mana, Sayang?" tanyanya sambil celingukan ke kanan dan ke kiri.
Tangan Zia mengepal ingin rasanya menonjok wajah Neona hingga tersungkur dan pingsan tidak sadarkan diri. Tapi dia masih ingin mengorek informasi tentang suaminya.
Setelah mencari-cari Neona menemukan Zika sedang duduk di kursi. Menyambut dengan senyuman saat melihat kedatangannya.
"Zika, kau di sini rupanya? Mama mencarimu dari tadi." Neona mendekati Zika duduk berpangku tangan.
"Neona, kau boleh memanggilkan Zika apa saja, tapi aku mohon jangan Mama. Kau tau artinya apa, bukan?"
__ADS_1
Raut wajah Neona seketika berubah seperti tidak suka. "Baiklah kalau kau keberatan. Padahal Raka yang menyuruhku memanggil dengan sebutan itu," ucapnya lirih namun terdengar oleh Zia.
"Apa yang kau bilang?"
"Bukan apa-apa, aku hanya keceplosan. Maaf ya." Menutup bibirnya sendiri dengan tangan.
"Tidak, kau pasti menyenangkan sesuatu. Cepat katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zia mengintrogasi. Diliriknya Zika terlihat takut kemudian ia menggendong membawanya ke kamar.
"Zika, kamu di sini dulu ya, nanti setelah mom bicara akan panggil."
Zika mengangguk patuh. Kemudian Zia keluar kembali menemui Neona yang masih duduk di kursi makan tanpa tahu malu memakan nasi goreng buatan Raka. Zia seketika menarik piring dari hadapan perempuan tidak tahu malu itu.
"Zia, kenapa kau mengambilnya, sini aku mau makan itu?"
Bukannya memberikan makanan itu Zia justru membuang makanan itu ke tong sampah berikut piring dan sendoknya. Membuat wajah Neona seketika merah tidak terima.
"Kau terlahir dari keluarga kaya, Neona. Seharusnya kau bisa menjaga sikap." Zia bersidekap memandang rendah.
"Sebenarnya apa yang terjadi, Zia?" Neona memandang malas ke samping dengan ekor matanya.
Kemudian Zia duduk di kursi sebelah perempuan itu. Menatap lekat-lekat seolah seluruh kebenciannya sudah terkumpul saat memandang Neona.
"Tidak usah bersandiwara lagi, aku sudah tahu semua, Neona."
Neona tampak berpikir memutar bola matanya.
"Jadi apa niatmu sebenarnya mendekati kami?" tanya Zia lagi ketus.
"Aku?" tanyanya. Mengatup-ngatupkan jari telunjuk ke dagunya seperti sedang berpikir. "Aku ingin mengenal kalian karena ...."
"Karena apa?"
Karena athor Jeni mau kalian vote pakai koin or poin dan follow Ig @Samar_Jenny1
biar tau novel-novel terbaru 😂
__ADS_1