
Setelah menempuh perjalan selama 1 jam 30 menit, pesawat mendarat dengan selamat. Para tim medis turut serta mengantar Zia hingga di rumah. Kamar utama disterilkan
mencegah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kondisi Zia dalam masa
pemulihan karena otot-ototnya belum berfungsi dengan benar. Oleh sebab itu
kondisi kamar harus dalam pantauan tim dokter yang akan datang setiap hari.
Setibanya di rumah Zia segera dibawa ke kamar yang sudah disulap layaknya sebuah kamar di
rumah sakit. Para pelayan turut bahagia nyonya muda rumah ini telah kembali
setelah sekian tahun.
“Di mana Zika, sayang? Dan … Mama—Vita?” tanya Zia saat sudah berada dalam kamar.
Raka tampak berpikir karena Zika kemarin masuk rumah sakit dan mama Claris menemani di
sana. Bahkan karena sibuk merawat Zia Raka hingga lupa menanyakan kondisi Zika.
Segera ia mencari ponsel di kantong
celananya untuk menghubungi mama Clarys.
"Aku akan menelepon mama." Ia segera menyingkir dari hadapan Zia menutup pintu dari luar memastikan kalau istrinya tidak mendengar pembicaraannya dalam telepon.
Raka : Ma,
bagaimana keadaan Zika sekarang?
Clarys :
Kamu sudah sampai mana, Raka? Mama dari tadi sudah cemas menunggu kabar darimu.
Raka : Aku
sudah ada di rumah, Mah. Dan Zia mencari Zika. Dia sangat merindukan putrinya.
Clarys :
Kamu tenang aja, Raka. Vita sedang mengurus kepulangan Zika, sebentar lagi kami
akan pulang.
Raka :
Baiklah, Mah. Aku akan mununggu kedatangan kalian.
Setelah
menutup sambungan telepon Raka segera masuk ke kamar menemui Zia. Ia
menjelaskan semua tentang Zika kalau sebenarnya anaknya itu tidak ada pergi
jalan-jalan, tetapi melainkan sedang berada di rumah sakit karena terjatuh dari
tangga.
Zia membekap mulutnya sendiri karena syok mendengar tetang kemalangan yang menimpa anaknya.
“Di mana dia sekarang, sayang? Aku ingin bertemu denganya,” ucap Zia khawatir. Andai
saja ia bisa berjalan pasti saat ini akan berlari sekencang mungkin. Akan
tetepi semua tidak seperti yang dibayangkan, kaki dan tubuhnya belum bias
bergerak untuk menemui anaknya.
Raka berjalan mendekat duduk di sebelah Zia berbaring, mengusap rambut lalu memberi sebuah
kecupan di sana. “Kamu tidak usah khawatir. Zika baik-baik saja kok, bahkan
mama dalam perjalan pulang.”
__ADS_1
“Benarkah?”
Zia menyambut dengan wajah bahagia saat mendengar kabar kalau Zika dalam
perjalanan pulang.
Ia tidak sabar ingin memeluk mencium anak yang membuatnya berjuang melawan kematian itu.
Semenjak baru sadar hingga saat ini di kepalanya hanya berputar-putar nama
gadis yang belum sama sekali ia temui selama 2 tahun ini.
Setelah beberapa menit menunggu akirnya tiba-tiba pintu kamar Raka terbuka. “Kak, Zia.”
Vita masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Raka terperanjat kaget.
“ups! Sorry ….” Ia segera berbalik dan menutup wajahnya dengan tangan saat melihat
Raka mencium bibir Zia.
“Vita!”
Ia pun menoneh saat Raka menyeru namanya. Sebegitu antusias ingin bertemu dengan kakak
iparnya Vita lupa mengetuk pintu terlebih dulu. Ia membalik tubuh pelan-pelan
dengan tangan masih di wajah tetapi mata mengintip situasi. “Maaf, Kak. Aku
tidak tau kalau kau sedang-” ia menggigit bibirnya dan menyatukan kedua jari
telunjuk.
“Budayakan mengetuk pintu terlebih dulu dong, Vita,” ketus Raka kesal.
“Bodo amat, aku sangat merindukan kak, Zia.” Vita dengan wajah sumringah menghambur memeluk
Zia yang terbaring di atas ranjang. “Kak Zia akhirnya kau kembali … aku sangat
merindukanmu.” Mengeratkan pelukan lalu menjauhkan tubuh untuk menatap wajah
merindukanmu, Kak. Sangat ….”
Zia tersenyum memegang pipi Vita lalu berkat, “Aku juga saangat merindukan kalian
semua. Di mana Mama dan Zi-” belum juga Zia berucap tiba-tiba pintu terbuka.
“Zia!”
Clarys menghambur memeluk Zia. Wanita itu mencium menantunya hingga
berulang-ulang sebegitu bahagiannya. “Kamu kembali sembuh, nak. Akhirnya
kebahagiaan rumah ini kembali.” Berderai air mata Clarys terus mengecupi kepala
Zia.
“Aku akan memanggilkan Zika.”
Inilah yang ditunggu-tunggu Zia, bertemu dan memeluk sang buah hati. Mama Clarys keluar
untuk mengambil Zika. Sebebelum mama Clarys keluar ternyata Zika digendong
dokter Sesil masuk ke dalam kamar.
Wajah Zia seketika merekah bagai bunga yang mekar di taman pagi hari. Ia mengangat
tubuhnya untuk melihat wajah Zika lebih jelas. Mata bening bibir kecil kulit
putih di atas gendongan. “Zika ….” Perempuan itu ingin bangkit tetapi anggota
tubuhnya belum bisa bergerak dengan benar. Matanya menggenang air tidak terasa
menetas. Itukah putrinya? Ternyata wajahnya lebih cantik dari pada yang ia
__ADS_1
bayangkan.
Raka
bejalan menghampiri Zika mengambil dari gendongan Sesil. “Zika sayang. Ayo
peluk Bunda.” Mengangkat dan membawanya mendekat ke Zia.
Zia yang bersandar di punggung tempat tidur terus saja meneteskan air mata haru karena
melihat putrinya. Raka duduk di sebelah istrinya mendudukknan Zika di
tengah-tengah antara mereka.
“Zika sayang peluk Bunda ….” titah Raka mengusap kepala putrinya.
“Gak mau, Cika mau sama unda ….” tolak Zika.
Dek!
Tiba-tiba
Raka merasa terkejut. Selama ini dia sudah sering bercerita dengan Zika kalau
selama ini Bundanya yang benarnya sedang sakit.
“Awas papa,
Cika mau sama Unda.” Gadis kecil itu merangkak melewati Raka ingin turun dari
ranjang.
“Kamu mau ke mana, sayang?” Mata Raka mengekori ke mana putrinya itu berjalan. Ternyata
gadis kecilnya itu menghampiri Sesil. Benar saja yang dikhawatirkan Raka selama
ini terjadi, Zika lebih memilih Sesil dari pada Zia. “Mah, bawa Zika. Dan kamu
Sesil, aku ingin bicara denganmu.”
Mama Clarys
segera membawa Zika. “Sayang, ayo kita lihat keluar.”
“Tapi Cika mau sama unda, glenma ….”
“Iya nanti
kita main sama unda lagi ya,” ucap Clarys sambil mengendong Zika keluar dari
kamar.
Saat ini di
dalam kamar hanya ada Raka, Zia dan dokter Sesil. Sedangkan Vita ikut keluar bersama mama Clarys. Mereka membiarkan Raka menyelesaikan ini dengan baik-baik. Semoga tidak
ada kejadian keributan.
Zia bersandar punggung ranjang. Ia memaklumi kalau Zika belum mau denganya karena selama ini
sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Tapi tidak dengan Raka, lelaki itu terlihat sangat marah atas respon Zika. Ia
tidak terima karena putrinya itu lebih memilih Sesil dari pada Zia.
Dokter Sesil berdiri kaku dihadapan Raka menunduk tidak berani menatap siapa pun. Entah
apa yang dipikirkan oleh perempuan itu seperti ada yang disembunyikan. “Maaf,
karena aku tidak tau kalau semua ini akan terjadai,” ucapnya.
“Tidak tahu semua akan terjadi katamu? Bukankah aku sudah sering memperingatkan kalau kau
harus menjahui Zika? Tapi kenapa baru sekarang kau bilang seperti itu?” Raka
__ADS_1
berjalan sedikit mendekat ke arah Sesil.