Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 15


__ADS_3

Setelah menempuh perjalan selama 1 jam 30 menit, pesawat mendarat dengan selamat. Para tim medis turut serta mengantar Zia hingga di rumah. Kamar utama disterilkan


mencegah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Kondisi Zia dalam masa


pemulihan karena otot-ototnya belum berfungsi dengan benar. Oleh sebab itu


kondisi kamar harus dalam pantauan tim dokter yang akan datang setiap hari.


Setibanya di rumah Zia segera dibawa ke kamar yang sudah disulap layaknya sebuah kamar di


rumah sakit. Para pelayan turut bahagia nyonya muda rumah ini telah kembali


setelah sekian tahun.


“Di mana Zika, sayang? Dan … Mama—Vita?” tanya Zia saat sudah berada dalam kamar.


Raka tampak berpikir karena Zika kemarin masuk rumah sakit dan mama Claris menemani di


sana. Bahkan karena sibuk merawat Zia Raka hingga lupa menanyakan kondisi Zika.


Segera ia mencari ponsel  di kantong


celananya untuk menghubungi mama Clarys.


"Aku akan menelepon mama."  Ia segera menyingkir dari hadapan Zia menutup pintu dari luar memastikan kalau istrinya tidak mendengar pembicaraannya dalam telepon.


Raka : Ma,


bagaimana keadaan Zika sekarang?


Clarys :


Kamu sudah sampai mana, Raka? Mama dari tadi sudah cemas menunggu kabar darimu.


Raka : Aku


sudah ada di rumah, Mah. Dan Zia mencari Zika. Dia sangat merindukan putrinya.


Clarys :


Kamu tenang aja, Raka. Vita sedang mengurus kepulangan Zika, sebentar lagi kami


akan pulang.


Raka :


Baiklah, Mah. Aku akan mununggu kedatangan kalian.


Setelah


menutup sambungan telepon Raka segera masuk ke kamar menemui Zia. Ia


menjelaskan semua tentang Zika kalau sebenarnya anaknya itu tidak ada pergi


jalan-jalan, tetapi melainkan sedang berada di rumah sakit karena terjatuh dari


tangga.


Zia membekap mulutnya sendiri karena syok mendengar tetang kemalangan yang menimpa anaknya.


“Di mana dia sekarang, sayang? Aku ingin bertemu denganya,” ucap Zia khawatir. Andai


saja ia bisa berjalan pasti saat ini akan berlari sekencang mungkin. Akan


tetepi semua tidak seperti yang dibayangkan, kaki dan tubuhnya belum bias


bergerak  untuk menemui anaknya.


Raka berjalan mendekat duduk di sebelah Zia berbaring, mengusap rambut lalu memberi sebuah


kecupan di sana. “Kamu tidak usah khawatir. Zika baik-baik saja kok, bahkan


mama dalam perjalan pulang.”

__ADS_1


“Benarkah?”


Zia menyambut dengan wajah bahagia saat mendengar kabar kalau Zika dalam


perjalanan pulang.


Ia tidak sabar ingin memeluk mencium anak yang membuatnya berjuang melawan kematian itu.


Semenjak baru sadar hingga saat ini di kepalanya hanya berputar-putar nama


gadis yang belum sama sekali ia temui selama 2 tahun ini.


Setelah beberapa menit menunggu akirnya tiba-tiba pintu kamar Raka terbuka. “Kak, Zia.”


Vita masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu membuat Raka terperanjat kaget.


“ups! Sorry ….” Ia segera berbalik dan menutup wajahnya dengan tangan saat melihat


Raka mencium bibir Zia.


“Vita!”


Ia pun menoneh saat Raka menyeru namanya. Sebegitu antusias ingin bertemu dengan kakak


iparnya Vita lupa mengetuk pintu terlebih dulu. Ia membalik tubuh pelan-pelan


dengan tangan masih di wajah tetapi mata mengintip situasi. “Maaf, Kak. Aku


tidak tau kalau kau sedang-” ia menggigit bibirnya dan menyatukan kedua jari


telunjuk.


“Budayakan mengetuk pintu terlebih dulu dong, Vita,” ketus Raka kesal.


“Bodo amat, aku sangat merindukan kak, Zia.” Vita dengan wajah sumringah menghambur memeluk


Zia yang terbaring di atas ranjang. “Kak Zia akhirnya kau kembali … aku sangat


merindukanmu.” Mengeratkan pelukan lalu menjauhkan tubuh untuk menatap wajah


merindukanmu, Kak. Sangat ….”


Zia tersenyum memegang pipi Vita lalu berkat, “Aku juga saangat merindukan kalian


semua. Di mana Mama dan Zi-” belum juga Zia berucap tiba-tiba pintu terbuka.


“Zia!”


Clarys menghambur memeluk Zia. Wanita itu mencium menantunya hingga


berulang-ulang sebegitu bahagiannya. “Kamu kembali sembuh, nak. Akhirnya


kebahagiaan rumah ini kembali.” Berderai air mata Clarys terus mengecupi kepala


Zia.


“Aku akan memanggilkan Zika.”


Inilah yang ditunggu-tunggu Zia, bertemu dan memeluk sang buah hati. Mama Clarys keluar


untuk mengambil Zika. Sebebelum mama Clarys keluar ternyata Zika digendong


dokter Sesil masuk ke dalam kamar.


Wajah Zia seketika merekah bagai bunga yang mekar di taman pagi hari. Ia mengangat


tubuhnya untuk melihat wajah Zika lebih jelas. Mata bening bibir kecil kulit


putih di atas gendongan. “Zika ….” Perempuan itu ingin bangkit tetapi anggota


tubuhnya belum bisa bergerak dengan benar. Matanya menggenang air tidak terasa


menetas. Itukah putrinya? Ternyata wajahnya lebih cantik dari pada yang ia

__ADS_1


bayangkan.


Raka


bejalan menghampiri Zika mengambil dari gendongan Sesil. “Zika sayang. Ayo


peluk Bunda.” Mengangkat dan membawanya mendekat ke Zia.


Zia yang bersandar di punggung tempat tidur terus saja meneteskan air mata haru karena


melihat putrinya. Raka duduk di sebelah istrinya mendudukknan Zika di


tengah-tengah antara mereka.


“Zika sayang peluk Bunda ….” titah Raka mengusap kepala putrinya.


“Gak mau, Cika mau sama unda ….” tolak Zika.


Dek!


Tiba-tiba


Raka merasa terkejut. Selama ini dia sudah sering bercerita dengan Zika kalau


selama ini Bundanya yang benarnya sedang sakit.


“Awas papa,


Cika mau sama Unda.” Gadis kecil itu merangkak melewati Raka ingin turun dari


ranjang.


“Kamu mau ke mana, sayang?” Mata Raka mengekori ke mana putrinya itu berjalan. Ternyata


gadis kecilnya itu menghampiri Sesil. Benar saja yang dikhawatirkan Raka selama


ini terjadi, Zika lebih memilih Sesil dari pada Zia. “Mah, bawa Zika. Dan kamu


Sesil, aku ingin bicara denganmu.”


Mama Clarys


segera membawa Zika. “Sayang, ayo kita lihat keluar.”


“Tapi Cika mau sama unda, glenma ….”


“Iya nanti


kita main sama unda lagi ya,” ucap Clarys sambil mengendong Zika keluar dari


kamar.


Saat ini di


dalam kamar hanya ada Raka, Zia dan dokter Sesil.  Sedangkan Vita ikut keluar bersama mama Clarys. Mereka membiarkan Raka menyelesaikan ini dengan baik-baik. Semoga tidak


ada kejadian keributan.


Zia bersandar punggung ranjang. Ia memaklumi kalau Zika belum mau denganya karena selama ini


sama sekali belum pernah bertemu dengannya. Tapi tidak dengan Raka, lelaki itu  terlihat sangat marah atas respon Zika. Ia


tidak terima karena putrinya itu lebih memilih Sesil dari pada Zia.


Dokter Sesil berdiri kaku dihadapan Raka menunduk tidak berani menatap siapa pun. Entah


apa yang dipikirkan oleh perempuan itu seperti ada yang disembunyikan. “Maaf,


karena aku tidak tau kalau semua ini akan terjadai,” ucapnya.


“Tidak tahu semua akan terjadi katamu? Bukankah aku sudah sering memperingatkan kalau kau


harus menjahui Zika? Tapi kenapa baru sekarang kau bilang seperti itu?” Raka

__ADS_1


berjalan sedikit mendekat ke arah Sesil.


__ADS_2