Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 42


__ADS_3

Hukuman Untuk Sesil


Suasana apartemen Dion begitu gelap hanya temaram lampu dari samping tempat tidur yang menyala. Saat mendengar anak kunci dari pintu Sesil mencengkeram erat selimut yang menutupi seluruh tubuhnya sambil memeluk lututnya sendiri penuh ironi.


Ia sudah berulang kali mengakui kesalahannya dan meminta maaf pada Dion, bahkan ia rela jika harus bersujud di hadapan Raka dan Zia karena pernah berpikir menghancurkan rumah tangga mereka. Namun, Dion tidak memperdulikannya bahkan lelaki itu terus saja menghujaninya dengan hukuman-hukuman tanpa ampun di "atas ranjang".


Bahkan kebebasan Sesil harus terenggut karena sepenjang hari hanya dikurung di dalam kamar dan hanya melayani nafsu lelaki itu. Sesil tidak tahu jika Dion selama ini terlihat lembut dan penurut selalu patuh pada perintah Raka, ternyata menyimpan sifat sisi lain.


Dion selalu memaksakan kehendaknya tanpa memperdulikan penolakan dari Sesil. Bahkan, lelaki itu memaksa dengan kehendaknya dengan kasar tak jarang dengan brutal bagai hewan mencabik-cabik mangsanya.


Sesil merasa hidup ini tidak adil. Kesalahan yang ia perbuat tidak sebanding dengan hukuman yang ia terima. Kini ia ingin bebas, kembali bekerja menjalankan kewajibannya sebagai seorang Dokter. Tetapi apa yang Dion lakukan padanya sekarang, sangat mengubah hidupnya delapan puluh derajat.


Sesil semakin menjauhkan tubuhnya saat suara sepasang sepatu terdengar memasuki kamar. Ia merapatkan pegangan tangannya pada selimut hingga ke dada. Matanya seketika memandang penuh waspada dan sampai akhirnya lampu kamar menyala sepenuhnya karena Dion menyalakannya.


Terulas bibir tipis itu menyeringai kemudian setelah meletakkan paper bag ia melepaskan jas dan melepaskan kancing satu per satu. Hari sangat melelahkan di kantor seiring dengan banyaknya masalah yang dihadapi oleh Raka ia harus bekerja keras untuk membantu.


Setelah melepas semua aksesoris dan kemejanya, Dion menghempaskan tubuhnya ke atas kasur tepat berada di hadapan Sesil dan reflek membuat wanita yang ia paksa menjadi istrinya itu tersentak penuh waspada.


Dengan keadaan terlentang Dion memejamkan mata. Seperti orang pingsan.


Hening.


Tidak ada suara.


Apa dia memang pingsan?


"Baguslah kalau begitu," gumam Sesil dalam hati.


Tapi bagaimana kalau dia mati? Jelas Sesilah orang pertama bisa ditunjuk sebagai tersangka. Sesil mengangkat kepalanya untuk memastikan, namun ia kurang yakin jika tidak memastikan apa Dion bernapas atau tidak.


Perlahan-lahan dengan memegangi selimut di dadanya Sesil mencoba mendekat. Ia merangkak ke samping Dion, mengulurkan tangannya mengibas-ngibaskan.

__ADS_1


Tidak ada respon. Kini ia merangkak lebih dekat lagi dan mengacungkan satu jarinya untuk ia gunakan memeriksa napas Dion dari hidung. Tanpa diduga Dion membuka matanya dan refleks pandangan mereka saling bertemu dalam posisi Sesil di atas dan Dion di bawah.


Menyadari Dion tidaklah mati, Sesil langsung menjauhkan dirinya sebelum tangan Dion menarik hingga tubuhnya hingga ter jerambah di atas dada bidang Dion yang tidak memakai pakaian.


"Lepaskan aku," pintanya mencoba melepaskan pergelangan tangan dari cekalan Dion.


"Tidak akan pernah." Dion semakin menarik tangannya hingga wajah mereka saling berdekatan mengikis jarak di antara mereka.


Bagi Dion memandangi wanita di atasnya ini sangat menyenangkan. Rambutnya lurus memiliki dagu runcing dan bibirnya yang berwarna merah muda sangat memikatnya. Semakin Sesil menolaknya semakin pula ia memaksa untuk memilikinya.


"Seharian di rumah tanpa aku, apa yang kau lakukan?"


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan? Kau selalu mengunci rapat kamar ini, jika aku ingin menghirup udara itu pun melalui balkon itu,"


Dion benar-benar sudah menutup semua akses kebebasan Sesil. Bahkan Sesil hanya bisa menghirup udara dari balkon apartemen, jika ia ingin kabur dari sana harus berpikir ulang, karena ketinggian dari atas lantai 50.


Dion menyeringai menatap dada Sesil yang naik turun akibat emosi. Pakaian berwarna merah hati sangat pas dikanakan. Dion tidak salah memilih pakaian untuk istrinya itu, dan lebih tepatnya memaksa Sesil untuk memakai itu semua karena di dalam kamar ini hanya tersedia lingerie dengan berbagai warna.


Dion melepas cekalan tangannya dan bangkit dan Sesil merasa lega.


"Oh iya, sewaktu perjalanan pulang aku melihat toko baju, dan membelikan untukmu. Pasti kamu suka, ambillah." Dion memberikan paper bag pada Sesil.


Sesil merasa senang, akhirnya Dion diberikan kesadaran dan ia bisa memakai pakaian yang layak. Sebelum membuka paper bag berwarna putih itu Sesil menatap ke arah Dion. Kemudian lelaki itu mengangguk berkedip lambat.


Dengan antusias Sesil membukanya dan senyumnya berangsur menghilang seiring terangkatnya pakaian di tangannya. "Kau bilang ini pakaian?"


Dion menyunggingkan bibir. Kemudian Sesil melemparkan pakaian itu padanya.


"Lebih baik tidak usah membeli dari pada kau membeli pakaian seperti itu."


Dion menjewer pakaian itu mengamatinya. Memang berbahan sama, tapi memiliki model yang berbeda.

__ADS_1


"Entah sampai kapan kau akan terus menyiksaku seperti ini. Bahkan untuk pakaian pun kau tidak membiarkanku dengan layak."


"Sampai kau hamil anakku." Suara Dion membuat Sesil terdiam.


"Anak? Tidak mungkin," cibirnya. Bagaimana ia bisa hamil anak dari lelaki yang sangat ia benci.


"Selama kau belum hamil aku akan tetap memperlakukanmu seperti ini. Kau mengganggu rumah tangga Tuan Raka hanya karena menyayangi Zika, sementara kita sendiri bisa mempunyai anak lebih lucu kalau kau ingin."


Sesil memalingkan wajahnya, ia benar-benar muak dengan Dion. Pria itu terus saja mengungkit kesalahannya sebagai alasan untuk menyudutkan. Perkara hamil Sesil tidak akan mewujudkan keinginan Dion. Sampai kapan pun tidak akan pernah!


Tapi bagaimana caranya supaya ia tidak bisa hamil? Bahkan dengan sial Dion tidak memberi akses sama sekali. Mungkin dengan jalan satu-satunya yaitu memohon dengan memelas.


"Dion, aku sudah meminta maaf atas kesalahanku. Tapi bahkan kau tidak membiarkan aku untuk menemui mereka untuk minta maaf dengan benar."


Dion menyeringai. Mana mungkin ia membiarkan Sesil bertemu dengan Raka dan Zia. Jika semua itu terjadi Sesil akan mendapat maaf, bahkan terbebas darinya begitu saja. Sedangkan ia tidak memiliki alasan lagi untuk tetap menahan dan menghukum untuk tetap bersama. Dion tidak akan membiarkan itu semua terjadi.


"Aku sudah katakan padamu, aku akan membebaskanmu setelah kau hamil anakku. Jika kau belum melaksanakan itu tidak akan kubiarkan kau bahkan melangkah dari pintu ini pun." Ancaman Dion sangat menjengkelkan bagi Sesil.


Kemudahan ia melirik nampan di atas meja. "Apa kau belum makan?" tanyanya.


Sesil diam memalingkan wajahnya.


"Makanlah, karena kau harus banyak mengeluarkan tenaga setelah ini."


"Aku tidak mau!" jawab Sesil ketus.


"Baiklah kalau begitu, aku yang memakan'mu lebih dulu."


Dukungan itu perlu ya, walau author gak minta setidaknya kalian bisa kasih like komen jangan serbu kalau lagi ada konflik aja. Ada orang masih baca tapi gakmau like itu kan keterlaluan 😎 apa lagi Vote makanya author slow update


Jangan Lupa Follow IG : Samar_,Jenny1

__ADS_1


__ADS_2