
Zia mendekap putrinya dengan erat mengcup kepala berulang-ulang. Sedangkan dari arah luar suara pintu terdengar dilempari dengan beberapa barang hingga suara pecahan kaca terdengar nyaring. Membuat Zia semakin takut saat Neona berteriak memanggil namanya.
“Zia! Keluar kau!” teriakan itu semakin membuat Zia memeluk Zika erat. Putri kecilnya itu tidak kalah takutnya dengannya.
“Mom, Zika takut,” ucapnya mendongakkan kepala menatap sang mama.
“Tidak usah takut, sayang, ada momi di sini. Dan sebentar lagi papi juga akan datang menolong kita.” Zia mencoba menenagkan walau dalam hatinya sendiri begitu takut. Demi sang buah hati ia harus terlihat berani dan bisa melindungi.
Tubuh Zia yang bergetar sambil menggendong Zika mencari keberadaan ponsel, sangat sial ia bahkan lupa meletakkan di mana. Ia meletakkan Zika di tepi ranjang dan ia melanjutkan mencari ponsel. Hanya benda itulah satu-satunya penyelamat untuk menolong mereka berdua.
Zia membuka setiap laci mencari keberadaan ponsel itu, tapi tidak kunjung ketemu. Ia mulai putus asa mengusap pelipisnya yang mulai mengalirkan keringat. Sedangkan suara benda-benda entah apa begitu riuh akibat Neona memparkannya.
Beruntung Raka membuat disain pintu sebegitu aman dan kuat sehingga tidak mudah untuk siapa saja untuk mendobraknya. “Zia, buka pintunya! Aku akan pastikan kalian baik-baik saja jika mau menyerahkan Raka padaku!”
Walau pun Zia harus kehilangan nyawa pun tidak akan terima jika suaminya yaitu Raka Sanjaya menjadi milik wanita seperti Neona berhati iblis. Zia tidak mau berhenti begitu saja, ia mencari lagi keberadaan ponsel karena yakin pasti berada di dalam kamar.
Hingga pandangannya terarah pada Zika yang duduk menunduk, ia yakin pasti putrinya itu pasti tahu di mana ponselnya berada. Ia berjongkok di bawah Zika memegangi pundak putri kecilnya itu untuk bertanya.
“Zika, apa kamu tahu di mana ponsel mommi?” tanyanya dengan sangat lembut bak ibu peri.
Zika mengangguk membuat Zia tersenyum bagai melihat cahaya di dalam kegelapan. “Di mana kau melihatnya, sayang? Bisakah kau mengambilnya untuk momi?” pintanya. Sedangkan suara benturan sebuah benda mengenai pintu terdengar begitu kuat. Dengan tangan mungil gadis kecil itu memasukkan tangan kanan untuk merogoh dari dalam sana.
“Ini momi.” Zika memberikan ponsel tipis berwarna putih itu pada sang mama.
Zia tersenyum setelah kemudian mengambil ponsel dari tangan Zika. Ia segera menghubungi Raka diiringi rasa panik saat suara lemparan benda mengenai pintu. Jantungnya berdegup kencang hingga dadanya merasa sesak.
Cukup lama ia mencoba menghubungi suaminya, akan tetapi sepertinya sedang sibuk. Zia mencoba berulang-ulang hingga akhirnya telepon tersambung dengan suara lelaki yang sangat ia harapkan untuk menjadi penolongnya itu.
"Ada apa Zia? Maaf aku sedang sibuk." Karena memang benar adanya. Raka saat ini sedang duduk di antara para orang-orang penting yang bekerja di perusahaanya melakukan meeting penting perihal kenaikan gaji para karyawan.
Ia mengerjapkan mata saat mendengar deru napas Zia yang lain dari biasanya. "Zia, kau kenapa? Apa kau sakit?" Tubuhnya seketika memegang takut jika istrinya mengalami sakit jantung dengan tiba-tiba.
"Tolong cepatlah pulang, Raka. Neona--" suara itu terputus saat terdengar suara benturan keras dan jeritan tangis Zika.
Saat Raka ingin bertanya sambungan teleponnya putus. Ia pun mulai panik berdiri dari tempat duduknya. Kemudian Dion mendekat berdiri di sampingnya.
__ADS_1
"Apa Anda membutuhkan sesuatu, Tuan?"
"Batalkan meeting ini, Dion. Dan kau ikutlah denganku." Raka berjalan lebih dulu melewati Dion.
Mengetahui tuanya sedang panik Dion sudah menyimpulkan kalau sedang ada masalah entah Zia atau Zika. Dion berjalan cepat mengejar hingga langkahnya lebih dulu tiba di mobil. Ia membukakan mempersilakan Raka masuk.
"Sebenarnya ada apa, Tuan? Kenapa Anda panik seperti ini?"
Raka tidak menjawab. Bahkan terus saja memandangi arah jendela luar begitu panik. "Cepat lajukan mobil dengan kecepatan maksimal!" perintahnya.
Sedangkan tangan sebelah kiri Raka memegangi ponsel untuk terus menghubungi istrinya karena untuk saat ini pikirannya sedang kacau takut kalau terjadi sesuatu pada Zia.
"Kenapa ponselnya mati!" gerutunya. Dion melirik tuanya itu yang sedang meremas ponsel di tangannya.
"Percepatlah, Dion! Kita harus cepat sampai ke rumah, karena nyawa Zia sedang bahaya!"
"Baik, Tuan." Dion menambah kecepatan hingga mobil melesat membelah pusat kota. Tapi disayangkan kalau kondisi jalanan kali ini begitu padat sehingga harus membuat Dion mengurangi kecepatan.
Raka mendesah, memijat pangkal hidungnya. Tadi terakhir kali Zia menghubungi nama Neona.
"Kenapa kau memperlambat jalannya mobil ini, Dion! Nyawa Zia sedang dalam bahaya dan juga putriku." Kepanikan Raka semakin bertambah saat melihat Dion berhenti karena melintasi kawasan lampu merah.
"Bersabarlah, Tuan, kita tunggu lampu menyala jadi hijau baru kita jalan."
"Cepat jalan, Dion! Untuk saat ini tidak ada yang lebih penting dari pada apa pun dibandingkan anak dan istriku."
"Tapi sedang lampu merah, Tuan."
"Terobos saja! Masa hal seperti itu saja kau tidak bisa!"
"Tapi Tuan."
"Kau ini terlalu banyak bicara!" Raka mendorong pintu sampingnya ia keluar kemudian membuka pintu kemudi menyuruh Dion untuk turun.
"Kau turunlah! Biar aku yang menyetir. Cepat duduk di sana!" tunjuknya ke arah kursi depan sebelah Dion duduk.
__ADS_1
"Ba-baik, Tuan."
Kini posisi mereka sudah berbanding terbalik dengan sebelumnya. Raka mengemudikan mobil seolah jalanan hanyalah miliknya sendiri. Ia bahkan menerobos lampu merah dan menyebabkan beberapa mobil hampir bertabrakan.
Sebuah pluitan dari aparat yang berwenang yang sedang berjaga kondisi lalu lintas tidak diindahkan oleh Raka. Hanya satu kini yang ia pikirkan saat ini. Yaitu Zika dan Zia.
Mobil melesat dengan kecepatan maksimal. Sedangkan mata Raka fokus ke depan seolah ingin menerobos apa saja di hadapannya untuk ia tabrak.
Suara klakson dari luaran sana terdengar saling bersautan. Mendadak suasana lalu lintas menjadi kacau.
Hingga beberapa saat kemudian, setelah melewati rintangan di tengah jalan mobil yang dikendarai Raka tiba di depan rumah. Dalam keadaan tidak mematikan mesin lelaki itu mendorong pintu mobil kemudian berlari memasuki rumah.
Saat ia mendorong pintu ternyata di kunci. "Zia, Zia, Zia, buka pintunya. Apa kau di dalam?"
Prang!!!
Suara pecahan kaca terdengar hingga luaran rumah. Membuat Dion dan juga Raka panik.
"Lebih baik kita dobrak saja, tuan, pintunya."
"Kau benar, Dion."
Dion dan Raka bergilir mendobrak pintu dengan kaki jenjangnya. Setelah beberapa saat kemudian pintu terbuka. Raka langsung berlari ke arah kamar. Saat menaiki tangga ia melihat rumah lantai atas begitu berantakan.
Banyak pecahan di mana-mana. Matanya memindai setiap barang kemudian terhenti pada Neona yang duduk di depan kamar bersandar di pintu sambil memegang pisau.
Raka mengepal melangkah maju akan menyingkirkan Neona dari sana. "Kau."
Tangannya hendak memegang pergelangan tangan Neona. Akan tetapi ia urungkan di saat melihat banyak sayatan di sana. Perempuan ini benar-benar sudah gila.
...***...
Insyaallah kalau gak anu nanti aku up lagi. tergantung kalian vote atau enggak yang belum tau apa itu vote kan kebangetan. Sebenarnya aku punya alasan kenapa up di sini tidak setiap hari. Kalian pasti tau kan trending banyak author pada pindah lapak. Tapi aku akan konsisten bakal tamatin karena aku sayang kalian. Tapi sayangnya kalian nggak wkkwkww
__ADS_1
Yang udah update tampilan bawah kolom pasti kayak gitu. Silakan di pencet satu🙏