Dijodohkan Lagi

Dijodohkan Lagi
S2 Episode 31


__ADS_3

Raka membanting setir saat tiba di halaman parkir pusat perbelanjaan itu, dadanya bergemuruh rasa kawatir menjalar ke seluruh tubuhnya, otot-ototnya ikut menegang tak kala menghawatirkan Zika. Lelaki yang berpakaian mengenakan kemeja berwarna navi digulung sampai sapai ke siku dan celana berwarna abu-abu menggenggam ponselnya di tangan itu berjalan cepat.


Raka mengayunkan langkah lebar saat memasuki mall tersebut. Pikiran buruk sudah menjalar ke mana-mana memikirkan tentang Zika, jantungnya berdetak tak karuan. Ia salah menitipkan keluarganya pada Dion, nyatanya sekretaris yang ia berikan kepercayaan justru lalai sehingga membuat putrinya hilang.


Saat masuk ke dalam pusat perbelanjaan secara bertepatan Raka bertemu dengan Dion yang sedang mondar-mandir mencari keberadaan Zika sambil memegangi ponselnya.


“Tuan,” sapanya saat bertemu dengan Raka di depan pintu masuk. Ia menunduk merasa bersalah pada tuanya itu, karena tidak bisa menjaga Zika. Padahal sebelumnya Raka mengatakan untuk tidak meninggalkan keluarganya bagaimana pun alasannya.


“Di mana Zika? Apa dia sudah ditemukan?” tanya Raka menggertakkan gigi geram sedangkan tangannya mengepal kuat siap melayangkan pukulan siapa saja yang ada di hadapannya.


“Belum, Tuan,” jawab Dion menunduk merasa bersalah. Ia benar-benar merasa tidak enak hati, napasnya tiba-tiba sesak saat melihat kemarahan dari wajah Raka.


“Kamu sangat mengecewakan!” satu pukulan ke wajah Dion. Seketika membuat Dion meringis memegangi bibirnya yang mengalirkan darah segar. Ia menerimanya dengan lapang hati, karena dia pantas untuk mendapatkan pukulan itu.


“Kakak, kenapa memukul Dion? Apa pun masalahnya kau tidak boleh seperti ini. Kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah,” ucap Vita yang baru muncul dari arah belakang melerai Raka.


Dengan napas terengah-engah mata Raka memerah mencoba menstabilkan emosi yang meluap-luap. “Di mana Zia sekarang?”


“Dia sedang mencari Zika di semua ruangan.”


“Kenapa kalian membiarkannya!” bentakan Raka menggema membuat Vita dan Dion ter jingkat. Setelah berteriak Raka berjalan meninggalkan mereka berdua yang tengah menunduk.


Raka mencari keberadaan Zia, ia takut jika istrinya khawatir dan berdampak pada jantungnya masih belum sepenuhnya pulih. Raka menaiki eskalator mencari keberadaan istrinya bola matanya menyusuri setiap sudut pusat perbelanjaan itu.


Melihat lorong menuju toilet ia berinisiatif untuk memeriksanya. Raka berjalan cepat menuju sana. Samar-samar ia mendengar suara seseorang perempuan sedang bicara di depan pintu toilet. Raka mendekat menyusui sumber suara tersebut.


Di sudut ruangan yang sepi suara tersebut tampak suara anak kecil sedang menangis. Saat Raka tiba di sana ternyata ia melihat Zika sedang berdiri menangis sibuk mengusap air matanya sedangkan di hadapannya seorang perempuan yang tidak bisa dilihat wajahnya oleh Raka.


Saat melihat papanya Zika berlari menghampiri Raka memeluk betis sang papa.


Di tempat lain Zia sedang menyusuri setap sudut ruang. Berbagai toko ia masuki namun tidak menemukan keberadaan Zika. Saat keluar dari satu toko yang baru ia masuki Zia bertemu mama Clarys, tidak kalah khawatirnya wanita paruh baya itu terlihat sangat cemas.


“Bagaimana, Zi?” tanyanya. Zia menggeleng tidak menghasilkan apa pun. Saat akan membuka bibirnya untuk menjawab tiba-tiba ia melihat Raka datang membawa Zika di gendongan.

__ADS_1


Bibir Zia tertarik ke atas semburat senyum bahagia terukir di wajahnya. Zika kembali dalam keadaan baik-baik saja dalam dekapan suaminya. Saat anaknya tiba di hadapannya ia merebut dari tangan Raka, memindahkan ke dekapannya. Ciuman bertubi-tubi ia daratkan kening anaknya matanya menelisik ke seluruh anggota tubuh Zika memastikan Kalau tidak ada yang terluka sedikit pun.


“Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Maafkan Mommy ya.” Ia tenggelamkan Zika ke dadanya, sedangkan Zika hanya diam menurut.


“Di mana kamu menemukan dia? Kenapa dia bersamamu?”


“Tidak penting aku menemukan Zika di mana, yang terpenting dia sudah kembali dan baik-baik saja. Sekarang ayo kita pulang.” Raka menggandeng Zia membimbingnya untuk berjalan ke depan.


Walau masih banyak menyimpan pertanyaan Zia memilih diam berjalan. Tapi mungkin lain kali ia masih butuh penjelasan dari Raka. Mereka bertiga bergandengan menuruni tangga eskalator sedangkan mama Clarys berjalan mengikuti di belakang.


Saat tiba di lantai bawah mereka disambut Vita dan Dion, dengan napas terengah-engah menghampiri mereka.


“Zika, kamu baik-baik saja?” tanya Vita menyentuh punggung keponakannya itu. Ia merasa bahagia karena Zika dalam keadaan baik-baik saja, menghilangkan kekhawatiran yang ada.


Mata saya tertuju pada Dion yang sedang memegangi pipinya. Ada luka memar kebiru-biruan di sana. “Dion, kamu kenapa?” matanya menelisik wajah sekretaris kepercayaan suaminya itu. Dion hanya menunduk tidak berani menjawab.


“Dia dipukul oleh kak Raka,” jawab Vita cepat. Zia memutar bola matanya mengarah ke Raka.


Tanpa menjawab Raka berjalan lebih dulu tanpa memedulikan mereka semua. Lalu menghentikan langkahnya sejenak dan melirik ke belakang dengan ekor matanya.


“Aku tunggu di mobil. Kalau kamu masih berdiri di sana sampai sore aku bisa meninggalkanmu.” Setelah berujar lantas Raka melanjutkan berjalan tanpa menoleh lagi.


“Pergilah Nyonya, aku tidak apa-apa. Aku memang pantas mendapatkan ini.” Dion memegangi wajahnya yang masih terasa ngilu.


Zia tidak terima ini, hilangnya Zika bukan kesalahan dari Dion, melainkan dia sendiri. Ialah yang ceroboh melepas tangan Zika hingga keluar dari tempat itu. Tapi ... bagaimana putrinya itu tiba-tiba bisa bersama Raka?


“Dion, apa kamu yang menemukan Zika tadi?” matanya menatap Dion penuh tanda tanya.


“Tidak Nyonya.” Dion juga merasa bingung dengan pertanyaan Zia. Ia mengira justru sebaliknya.


“Sudah, tidak perlu dipermasalahkan lagi, yang terpenting sekarang Zika sudah kembali dengan selamat. Sekarang kamu pulang dulu saja, Zia. Raka sudah menunggumu, jangan sampai dia marah karena terlalu lama.”


“Baik, Ma.” Zia menggendong Zika membawanya pergi dari meninggalkan mereka.

__ADS_1


Saat Zia tak terlihat lagi Mama Clarys, Vita dan juga Dion saling menatap. Mereka juga bingung dari mana Zika sehingga tiba-tiba datang bersama Raka.


“Mari, biar saya antar kalian pulang, Non—Nyonya.” Tangan Dion mempersilahkan untuk Mama Clarys dan Vita untuk berjalan lebih dulu.


Sungguh di luar dugaan, jalan-jalan yang bertujuan untuk bersenang-senang justru berubah menjadi dramatisi. Di antar oleh Dion mama Clarys dan Vita pulang ke rumah.


Sesampainya di rumah Raka melepas melepaskan jam tangannya melempar ke meja serampangan. Zia yang berada di belakangnya mendesah menarik napas panjang. Masih banyak pertanyaan yang menghinggapi pikirannya.


Zia pun melangkah duduk di tepi ranjang menatap suaminya yang sedang duduk bersandar di sofa.


“Mau mandi? Biar aku siapkan air.” Suara Zia memecah keheningan di kamar itu.


“Tidak usah, aku akan mandi nanti saja.” Raka memutar bola matanya ke arah berkas yang tergeletak di atas meja. Ia mencarinya di kantor ternyata ada di sini. Raka mengambil map itu lalu membukanya.


“Sayang,” panggil Zia dan Raka menaikkan pandangan menatapnya. “Hemm,” jawabannya singkat sambil sibuk membaca berkas di tangannya.


“Apa kamu marah padaku?” tanya Zia.


“Sialan!” Raka menggeram membanting berkas di tangannya ke meja. Secara tidak sadar membuat Zia tersentak kaget dan mengunci mulut rapat-rapat. Saat Raka sadar melihat ekspresi wajah sang istri kemudian berdehem.


“Maaf, Zia, aku hanya tertawa emosi.” Lantas ia berdiri dari posisinya menghampiri Zia. Membenamkan wajah Zia ke dalam dada bidangnya. .


“Aku tidak marah padamu, mana bisa aku marah dengan istri kecil yang menggemaskan ini.” Raka mencubit hidung Zia gemas.


Meskipun Zia tersenyum dia masih ragu, merasa ada hal lain yang ditutupi. Tidak tahu apakah dia yang terlalu peka, atau dia terlalu menerka seperti netizen belum tahu kelanjutannya sudah menyimpulkan persepsi sendiri.


”Lain kali tidak usah pergi, kalau tidak sama aku, oke?” Zia mengangguk.


”Sudah makan?" tanya Raka menangkup kedua pipi Zia. istrinya itu menggelengkan cepat disusul suara gemuruh dari perutnya. Membuat senyum tipis terukir dari bibir lelaki itu.


”Aku mau mandi dulu.”


Pesan Jenny: Kalian boleh beranggapan dan menerka tapi jangan kelewatan oke😉

__ADS_1


__ADS_2