
Otot-otot tangan Raka terpampang jelas, rahangnya mengeras dan sorot matanya tajam tidak seperti biasanya yang meneduhkan. Sedangkan tangan sebelahnya mencengkeram erat leher jenjang seorang perempuan di dalam kamar sehingga gadis itu memekik.
"Uhuk! Uhuk!"
Hampir-hampir saja perempuan yang memiliki tubuh langsing jenjang tinggi berkulit putih itu kehabisan napas, ia membungkuk menstabilkan oksigen yang masuk ke dalam rongga paru-parunya.
"Kau sudah gila rupanya," ucapnya melirik Raka yang berdiri di belakang mengusap wajah tanpa memakai pakaian hanya memakai celana panjang dengan ekor matanya melirik tajam.
“Bahkan aku bisa berbuat lebih gila lagi lebih dari ini,” ucap Raka. Meraih kemeja yang tergeletak di lantai memasang kancing satu per satu.
Semalam Raka tiba di rumah pemilik Exen Crop bersama Dion, mereka membicarakan tentang kerja sama yang akan disepakati dalam beberapa tahun ke depan. Ponsel Dion secara bersamaan berdenting burulang kali lelaki berusia 27 tahun itu mencoba mengabaikannya. Hingga cukup menarik perhatian Raka memberi isyarat untuk mengangat dengan cara mengangguk.
Dion menyingkir dari kerumbunan karena saat ini Sesil pasti berulah.
Raka melanjutkan pembicaraan tentang bisnisnya karena berada di kawasan yang tepat. Jovan pemilik perusaan Exen sangat baik dan ramah padanya, ia tahu perayaan pesta ulang tahun ini hanya sebagai acara pertemuan dengan para pembisnis bahkan seorang yang berulang tahun dari tadi tidak tampak sama sekali.
Banyak tamu berdatangan dan sebagian mereka membawa pasangan masing-masing ada yang bersama dengan istrinya, ada juga mungkin bersama simpanan karena pria tua menganggendeng seorang gadis berusia 20 tahunan, tidak mungkin jika putri bermesraan di tempat umum.
Hal seperti itu memang sudah biasa di kalangan pembisnis, tapi melihat semua itu membuat Raka muak andai saja itu bagian dari keluarganya pasti ia sudah meludahi wajahnya di depan umum saat ini juga.
“Tuan Raka, minumlah ini. Dari tadi saya perhatikan Anda belum meminum apa pun,” ujar Jovan membawa gelas kaca bening berisikan wine berwarna merah.
“He um, terima kasih. Seharusnya Anda tidak perlu repot-repot sepeti ini karena saya bisa mengambilnya sendiri,” ucap Raka mengambil gelas dari tangan Jovan kemudian menyesapnya.
“Tidak sama sekali, usia kita berbeda bukan berati kita harus terlalu formal, bukan?” balas Jovan terkekeh kemudian.
Dan mereka melanjutkan dengan candaan candaan kecil, Raka menceritakan anak dan istrinya sedangkan Jovan juga demikian.
__ADS_1
Tapi bicara-bicara tentang anak Jovan di mana dia saat ini?
Bukankah seorang yang berulang tahun harus berdiri dan menyambut tamu yang berdatangan? Mata Raka mengitari setiap sudut memerhatikan satu per satu tamu yang sedang sibuk berbincang-bincang.
Hingga suara hentakan langkah kaki mengenakan heels hak tinggi menggema saat menuruni tangga. Perempuan dengan rambut tergerai dipilin-pilin berwana pirang itu tampak begitu cantik dan seksi.
Tatapannya seketika terarah pada Raka yang sedang berdiri mematung karena terkejut melihat sesosoknya.
Raka meremas gelas di tangannya kuat-kuat jika saja itu tidak berbahan tebal mungkin sudah pecah mengenai tangannya.
Rasa kebenciannya kian bertambah saat perempuan itu sudah ada di hadapannya. Ia benar-benar muak dengan ini, selama beberapa waktu ini perempuan itu begitu mengusik kehidupannya.
"Selamat malam, sayang?"
Neona Genovi model berusia 27 tahun yang baru saja tiba dari New York. Hidupnya selalu terobsesi dengan Raka, sesosok lelaki idola dalam hatinya selama ini, namun cintanya tidak pernah terbalaskan.
Dengan nada sensual Neona mendekat sehingga aroma parfum yang dikenakan Raka menyeruak dalam Indra penciumannya. Neona suka ini, karena semenjak ia tahu Raka selalu membeli parfum ini, ia juga turut memakainya.
"Apa kabar, Sayang? Bagaimana makanan yang kemarin siang aku buatkan untukmu' apakah kau menyukainya?" Neona mendekat menarik jas bagian depan Raka dan menempelkan tubuhnya mencium aroma tubuh Raka dalam-dalam dengan jarak begitu dekat.
Hingga tangan Raka maju ke depan mendorongnya ke belakang. "Jangan melewati batasanmu, ya!" Tangannya maju mengacungkan telunjuk memberi peringatan pada Neona, setelah kemudian mengibas jas yang terkana tangan Neona dengan rasa jijik.
Bukanya menyingkir dan merasa malu, Neona justru tersenyum. Dia menganggap Raka berbuat seperti itu karena menyukainya.
"Ternyata kalian sudah saling kenal?"
Suara itu terdengar saat Raka hendak melangkah pergi. Ia pun menoleh, tampak Jovan sedang tersenyum padanya.
__ADS_1
Jadi Jovan dan Neona adalah ayah dan anak?
Raka tertegun mencerna niat mereka berdua kepalanya terasa pening, matanya terasa berat. Hingga rasa kantuk tidak bisa ditahan lagi.
***
"Kau mau ke mana, Raka?" Neona berusaha mengejar Raka saat pergi dari kamarnya.
Gadis itu berulang kali meremas rambutnya sendiri karena telah gagal menghabiskan malam ini dengan Raka. Ia telah memasukkan obat tidur ke dalam minumannya, tapi sangat disayangkan efek obat itu tidak bertahan lama. Raka bangun disaat ia baru saja melucuti pakaiannya sendiri.
Dia tidak menyangka selain kuat dalam bidang bisnis, ternyata Raka juga kuat dalam menghadapi obat-obatan yang masuk dalam tubuhnya. Merasa gagal membuat kepala Neona pening memijat pelipisnya sendiri.
Ia membalik badan berjalan kembali ke kamar. Gadis berusia 27 tahun itu tidak habis pikir dengan Raka. Kenapa lelaki itu selalu menolak bahkan semenjak masa kuliah bersama.
Dengan tubuh karena emosi gadis itu melangkah mencari keberadaan ponselnya karena ia menyimpan sesuatu berharga di sana. Neona mengobrak-abrik barang di atas nakas hingga ponsel yang dicari ketemu di atas ranjang.
Neona memeriksa foto-foto yang baru saja ia ambil saat Raka tertidur tadi. Akhirnya ia menarik napas lega saat foto-foto itu masih lengkap. Kini saatnya ia memberi peringatan pada Raka.
Neona mengirim foto-foto pada Raka dengan caption.
"Terima kasih untuk segalanya malam ini, aku akan mengenangnya dalam hidupku."
Pesan itu diterima saat Raka akan memasuki rumahnya. "Oh brengsek!" ucapnya geram menggertakkan gigi. Setelah menghapus pesan pesan tidak berguna itu Raka memasukan lagi ponselnya ke dalam jas, detik berikutnya ia membuka pintu dengan kunci yang ia bawa.
Sesekali Raka memijat pangkal hidungnya. Ini semua pasti gara-gara efek obat yang diberikan oleh Neona masih bereaksi.
Dengan langkah gontai Raka menaiki anak tangga menuju kamar. Rumahnya sudah sunyi karena tengah malam menjelang. Perlahan-lahan ia membuka pintu kamar takut jika Zia terbangun jika mendengar suara gesekan pintu.
__ADS_1