
6 bulan berlalu sangat lambat bagi Raka..
Raka tampak kacau menatap bekas-berkas di atas meja. Ditemani asisten pribadinya Raka tampak serius tidak menoleh sedikit pun. Selama ini ia tidak mengurus perusahaan dengan benar karena harus bolak balik menjenguk Zia yang masih saja koma hingga sampai saat ini.
Hidup Raka selama ini tampak kacau, bahkan makan tidur pun tampak tidak terurus. Di saat ia baru mulai terlelap tangisan baby Zika selalu gagal untuk membuatnya tidur dengan nyenyak. Ia rela menggendong Zika sepanjang malam untuk membuat bayi kecil yang berwajah sama dengan Zia itu tertidur.
Orang tua tunggal membesarkan seorang anak tanpa kehadiran seorang istri itu sungguh berat. Tapi walau bagaimanapun Raka menjalani dengan ikhlas. Kadang-kadang terlintas dalam pikirannya, apa seperti ini yang dirasakan papa Romi dulu saat ia kecil merawat dan membesarkan anak seorang diri?
Apa dia juga harus menjalani hidup seperti papa Romi?
Tidak, tidak ... Zia pasti segera sembuh dan merawat Zika bersama-sama dengannya.
Setelah beres memeriksa berkas-berkas itu Raka melambai pada Dion asisten untuk mendekat.
“Dion, hari ini urus semua berkas-berkas ini. Setelah siap berikan pada wakil direksi, karena aku akan pergi ke Singapura malam ini kuserahkan urusan ini padanya."
Tanpa bantahan asisten itu menjawab, “Baik Tuan.”
__ADS_1
"Bagus." Raka menatap asistennya. Lelaki itu memang berjasa bagi perusahaan Raka.
"Aku akan ke Singapura. Mungkin akan melimpahkan semua pekerjaan ini padamu dalam beberapa hari ini."
"Biaik Tuan," balas asistent Dion.
Raka ingin segera pulang ke rumah karena selalu tidak tega meninggalkan Zika sendirian. Kasihan bayi malangnya itu sampai saat ini tidak pernah bertemu dan melihat rupa dari sang ibu yang telah melahirkannya.
Setibanya Raka di rumah langsung menuju kamar untuk mengganti pakaian. Setelah selesai ia keluar pergi ke kamar baby Zika melihatnya sedang apa.
Tawa anaknya itu terdengar hingga luar kamar, membuatnya segera ingin melihat wajah polos yang sedang tertawa itu.
“Ci luk ba!” ucapnya mengajak Zika bermain.
Zika tertawa membuat siapa saja yang mendengarnya merasa gemas.
Bibir Raka tertarik membentuk guratan senyum bahagia. Ia tahu selama ini dokter Sesil membuat Zika selalu tersenyum bahkan mama Clarys tidak mampu mendiamkan saat Zika menangis. Justru dokter Sesil dalam segejab membuat diam.
__ADS_1
Raka memandang mereka dari kejauhan, karena tidak ingin mengganggu’ oleh sebab itu ia segera berbalik.
“Raka, kau ada di sini? Sejak kapan? Bahkan aku tidak menyadari kehadiranmu,” tanya dokter Sesil saat menyadari kehadiran Raka.
“Aku baru saja masuk, karena tidak mau mengganggu kalian aku akan putuskan pergi.” Raka menoleh ke arah Sesil.
Sesil tersenyum meninggalkan baby Zika berbaring di ranjang dan ia merangkak beranjak dari tempat tidur mendekat ke arah Raka.
“Bagaimana keadaan Zia, Raka?” tanyanya.
Raka termenung. “Masih belum ada perubahan, dok. Dia tidak menunjukkan tanda-tanda kemajuan,” balasnya.
“Sabar ya Raka, mungkin membutuhkan waktu yang sedikit lama. Yang terpenting kamu selalu memberinya semangat, menceritakan yang bahagia-bahagia. Tentang si kecil mungkin?”
“Aku sudah mencobanya, tapi ... Zia justru menangis. Setiap kali aku menyebut nama Zika air mata selalu mengalir dari matanya.”
Dokter Sesil mendengar curahan hati Raka yang menunggu Zia sadar tetapi tidak kunjung bangun. Perempuan itu sangat sedih melihat derita Raka.
__ADS_1
*Dukungan vote koin atau poin like dan komen ya kak secantik dan sebaik se novelton, untuk mendukung author supaya terus berkaya🙏*