
Setelah semuanya menyantap makanan yang tadi dihidangkan di atas meja.
Ara yang sudah selesai makan juga tidak sengaja melihat ke arah paman nya.
Aduh ara, ara kenapa ngeliat ke arah sana coba? Maaf paman ara gak sengaja, ara juga kenapa bisa lupa coba, ara terlalu senang bisa ketemu sama tante yang sama baik dan seru nya kayak bibi, sampai-sampai lupa kalo ara gak boleh ngeliat paman kayak tadi, jangan nyalahin ara yaa paman, yang ngeliat paman bukan ara, tapi mata ara.
Setelah bergumam di dalam hati, ara pun mulai menundukkan kepala nya, dan tidak berbicara sepatah kata pun, karena tidak berani, nanti paman nya marah, dan ngusir ara setelah makan malam hari ini bagaimana, itulah yang ada di pikiran ara.
"Baik, saya langsung ke intinya saja ya, saya gak mau banyak basa-basi, bagaimana kalau acara pernikahannya minggu depan apakah kalian setuju?"
Ha?secepat itukah?ara kan masih sekolah?apa gak bisa nunggu ara selesain dulu sekolah? Kan jadinya ribet, mau ngurusin keluarga, ngurusin sekolah juga.
"Kenapa diam semua?apakah kalian tidak setuju?"
"Em...ara.." Terhenti karena paman nya bicara memotong.
"Tentu saja kami setuju pak."
Pak anton tau bahwa pak wijaya gak suka dengan yang namanya penolakan, jadinya setuju atau tidak setuju mereka harus tetap setuju.
Paman?kenapa paman kayak gitu? Ara kan...
Ahh sudahlah turuti saja, ara kan mau membalas kebaikan, ara gak boleh nolak.
"Bagaimana dengan ara, apa keberatan nak?"
"Ara ngikut aja apa kata paman om, menurut ara apa yang dilakukan oleh paman ara, pasti yang terbaik untuk ara." bicara sambil nunduk
Halah, bilang aja kalau seneng bisa nikah sama saya, bilang aja kalau kamu suka harta saya, jadinya gak mau nolak.
"Darga?kalau kamu gimana?apa keberatan kalau acara pernikahan kalian minggu depan?"
"Terserah papa aja."
Kenapa dia ngejawab kayak gitu?apakah dia tidak senang dengan perjodohan ini, kalau tidak senang kenapa dia mau? Dia kan bisa nolak, kalau dia nolak kan perjodohannya gak bakalan terjadi? Apakah dia juga mau membalas kebaikan juga sama seperti aku? Iya kah? Ahh tidak mungkin.
"Ya sudah kalau mereka berdua sudah setuju semua, maka deal kalau pernikahannya minggu depan, calon menantu kamu gak perlu terlalu sibuk, cukup kami saja yang mempersiapkan pernikahannya, nanti pas hari H kalian hanya bisa terima bersih saja.
"Baiklah kalau pak wijaya sudah bilang kayak gitu, kami besan ngikut aja, pasti pak wijaya akan mempersiapkan yang terbaik."
"Oh tentu saja pak."
"Kalau begitu kami pamit pulang dulu ya pak, buk, ara, nanti kita ketemu lagi pas hari H ya."
"Iya tante." bicara sambil nunduk dan tersenyum.
Anak ini kenapa tiba-tiba jadi pendiam kayak gini, dan dari selesai makan saya perhatiin nunduk terus, gak kayak pertama kali dia turun tadi, ceria dan polos.
"Ara, ara kenapa nunduk terus dari tadi, ara gak enak badan ya?"
__ADS_1
Paman nya kaget.
Bagaimana kalau ara memberitahu semua nya, bisa-bisa pak wijaya kecewa saya tidak mendidik dengan benar, malah menyiksa nya, bisa terkena masalah saya, mana lagi pak wijaya gak suka di bohongin.
"Iya tante, tiba-tiba gak enak badan."
Dih, perasaan tadi baik-baik aja kenapa sekarang sok-sok an sakit, drama aja terus, lihat aja nanti sampai mana kamu bisa bertahan setelah menikah denganku.
"Ohh ya sudah kalau gitu ara istirahat aja sekarang, lagian tante, om, sama darga udah mau pulang juga."
"Iya tante." nunduk lalu masuk ke dalam, sesuai perintah tadi, dia ke kamar, bibinya juga mengerti kalau ara sedang berbohong dan tidak mau membuat masalah untuk paman nya, jadi bibinya membiarkan ara kembali ke kamar, begitu juga paman nya, dia gak nyangka kalau ara akan berbohong.
Anak ini kenapa ya?kok aku ngerasa ada yang gak beres, tiba-tiba diem, nunduk.
Tapi ya sudahlah, saya gak boleh suudzon
"Ya sudah kalau gitu kami pamit pulang juga ya."
"Iyaa, makasih sudah mau datang ke rumah kami."
Tersenyum, dan langsung masuk ke mobil.
Setelah keluarga pak wijaya pulang, mereka pun masuk ke dalam rumah, dan kembali ke kamar masing-masing, dinda yang gak banyak tanya, paman nya yang gak marah marah, bibi nya yang diam, begitu pun ardi yang dari awal hanya menyimak dan diam saja, dia malas bicara.
Begitupun ara yang sudah terlelap di kamar nya, yang sama sekali tidak merasa stress dengan masalah pernikahannya.
Di mobil.
"Hmm."
"Ah papa, mama nanya serius kenapa malah cuek kayak gitu."
"Iya, papa juga ngerasa."
"Terus papa penasaran juga nggak kenapa ara, tiba-tiba kayak gitu."
"Nggak."
"Lah kok nggak, tapi mama penasaran, kayak ada sesuatu gitu."
"Ya papa nggak penasaran, ujung-ujungnya nanti kita tau juga sendiri kenapa dia kayak gitu, mungkin aja memang sikap nya suka berubah-rubah."
"Tapi mama gak ngerasa kayak gitu pa, kayaknya ada sesuatu deh."
"Hmm."
"Ahh gak seru ah ngomong sama papa, nanya sama Darga aja."
"Ga, kamu ngerasa gak kenapa ara tiba-tiba berubah jadi diam terus nunduk terus."
__ADS_1
"Hmm." sambil menyetir mobil.
"Terus, darga penasaran gak kenapa dia berubah kayak gitu."
"Nggak."
"Kenapa nggak ga?"
"Mungkin aja dia lagi drama pura-pura sakit minta perhatian sama kita."
"Kayak nya nggak kayak gitu deh, mungkin ada sesuatu yang dia sembunyi kan."
"Hmm."
Astaga gini amat ya punya suami sama anak yang dingin kayak batu es, jawab nya hmm hmm hmm terus, dah lah mending diam juga, entar kalau mereka nanya jawab aja hmm juga.
Beberapa menit kemudian.
"Ma, mau langsung pulang atau mampir dulu beli sesuatu."
"Hmm."
"Maa?"
"Hmm."
"Darga nanya, mama mau langsung pulang atau mampir beli sesuatu dlu."
"Hmm."
"Mama kenapa jawab hmm terus dari tadi, darga jadi bingung."
"Hmm."
"Udahlah ga, langsung pulang aja."
"Papa ini apaan sih, ke alfamart dlu aja darga, darga kan udah tau kalau mama sering beli sesuatu dulu, tapi masih aja nanya."
"Dah lah ga, langsung pulang aja, papa udah pusing denger mama kamu nyinyir dari tadi."
"Iya pa."
"Ehh dargaa, darga udah berani ya gak nurut sama mama."
"Hmm."
"Ahhh sudahlah langsung pulang saja, mama juga udah pusing lama lama di mobil sama kalian."
"Hmm." kompak.
__ADS_1
BERSAMBUNG...