Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Sudah Berani Nyentuh


__ADS_3

Matahari pun sudah mulai terbit, dan ara terbangun, karena ara memang sudah terbiasa bangun pagi.


Dan ara terkejut, karena posisi tidur dia semalam berbeda dengan saat dia bangun sekarang.


Sekarang posisi tangan nya sedang memeluk tubuh darga.


Ara pun langsung teriak, sehingga membuat darga terbangun.


"Kamu ini apaan sih teriak teriak gak jelas."


"Ah?"


"Kenapa kamu teriak-teriak, kamu ngeganggu tidur saya."


"Eh,eh itu...ara tadi kaget karena ara ngeliat kecoa."


"Kecoa?"


"Iya aga."


"Selama saya tinggal di sini saya tidak pernah melihat ada kecoa di rumah saya."


Masa iya ara harus bilang kalau ara kaget karena saat bangun posisi ara lagi meluk dia, nanti dia marah ke ara dan ara malu juga mau bilang kayak gitu.


"Hei, kenapa muka mu memerah, jangan-jangan kau berpikiran mesum ya."


"Nggak kok aga."


"Terus kenapa kamu bisa tidur di sini? Siapa yang nyuruh kamu tidur di tempat tidur saya."


"Tidak di suruh siapa siapa kok, ara sendiri yang mau tidur di samping aga."


"Kamu sudah berani ya sekarang!"


Saya harus pura-pura marah dan pura-pura baru tau kalau dia tidur di samping saya.


"Ya kan aga suami ara, masa iya gak boleh tidur di samping aga."


Darga hanya diam tidak menjawab.


"Aga gak kerja hari ini?"tanya ara


"Gak."


"Kenapa?"


Darga diam tidak menjawab.


Kenapa aga gak kerja hari ini?


Oh iya ya, ini kan hari minggu.


Darga pun berdiri dari tempat tidur, dan duduk di sofa.


"Aga gak mau lanjut tidur? Ini kan masih pagi, lagian aga kan gak kerja."


"Gak."


"Kenapa?"


"Saya gak bisa tidur tenang jika ada kamu!"

__ADS_1


"Kenapa gitu?"


Darga diam tidak menjawab.


Ara pun langsung turun dari tempat tidur dan berjalan menuju ke arah sofa yang darga sedang duduki.


Ara pun membuka tirai yang menutupi dinding kaca yang sedang ada di depan sofa tersebut.


"Hei! Apa apaan sih kamu, saya aja gak pernah buka tirai kenapa kamu berani buka."


Ara bingung menatap darga.


Ha? Masa iya sih?


"Kenapa aga gak pernah buka tirai ini?"


"Ya karena saya tidak suka, saya sudah pernah bilang ke mama kalau kamar saya tidak mau ada dinding kaca, tapi mama tetap aja ngotot, katanya enak bisa lihat taman di belakang rumah kalau di buka."


"Yang di katakan mama emang benar lo aga."


Diam tidak menjawab


"Coba sini aga liat, tuh kan bagus, bisa liat langit, terus bisa liat taman yang ada di belakang rumah aga, kalau malam pasti lebih bagus."


Darga hanya diam tidak menjawab.


Dan tidak melihat ke arah tirai yang tadi telah di buka oleh ara.


Ara pun langsung berjalan menuju Darga dan menyeret tangan nya memaksa melihat pemandangan tersebut.


"Kamu apa apaan sih, sudah berani menyentuh saya."


"Lepaskan!"nada keras.


"Iya deh ara lepasin." melepaskan tangannya yang tadi memegang tangan darga.


"Tuh coba aga liat bagus kan pemandangan nya."nunjuk ke luar.


"Hmm."


Kenapa aku begitu bodoh baru tau kalau di sini bagus pemandangan nya.


Ara pun tersenyum melihat wajah Darga yang tadi memandang keluar dinding kaca tersebut.


Kenapa aku merasa senang ya saat berada di dekat nya?


Darga pun yang sudah merasa puas melihat pemandangan, dia langsung duduk kembali di sofa.


Ara pun mengikuti nya, tapi tidak duduk di samping Darga, malahan berdiri di belakang sofa yang Darga duduki.


"Kenapa kamu berdiri di belakang ku?" melihat ke arah ara yang ada di belakang nya.


"Coba aga liat aja pemandangannya sambil duduk."


Darga pun melihat ke arah yang ara bilang tadi.


"Hei apa yang kamu lakukan."


"Gak apa-apa aga, ara cuma mau memijat kepala aga aja." berbicara sambil memijat kepala Darga.


Dan darga pun tidak menolak, ataupun memarahi ara karena menyentuhnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu memijat kepala saya?"


"Ara juga gak tau, tangan ara gerak sendiri mau memijat kepala aga."


"Kamu sekarang sudah berani menyentuh saya, padahal saya sudah bilang tidak boleh menyentuh saya."


Ara tidak tau kenapa saat ara bisa menyentuh aga, ara merasa nyaman dan senang.


"Kamu dengar gak saya bicara!"


"Ah, maaf aga, aga tadi ngomong apa?"tanya ara yang kebingungan


Ara pun kaget karena Darga berbicara dengan sangat keras, dan langsung menundukkan kepala nya di samping kepala Darga, karena dia tidak mendengar ucapan Darga tadi.


Darga merasa kaget saat ara mendekatkan wajah nya.


Ara pun berpaling melihat ke arah Darga, kenapa darga gak ngomong dan terdiam.


Tanpa ara sadari, kalau dia berpaling maka wajah dia dan wajah Darga bisa berdekatan.


Dan hal itu pun terjadi.


Wajah ara dan Darga saling berdekatan, dan juga saling tatap.


Astaga, kenapa jantung ara berdetak sangat kencang.


Kenapa seperti ini.


Darga pun langsung melihat ke arah lain.


"Kamu,..ka,kamu kenapa mendekatkan wajahmu?"


"Maaf aga, ara gak mendengar apa yang aga bilang tadi."


"Lain kali jangan kayak gitu."


"Iya aga, maafin ara."


"Hmm."


Ara pun meletakan salah satu tangannya ke arah dadanya, dan merasakan detak jantungnya sangat berdetak dengan cepat.


Astaga kenapa jantung ara berdetak dengan kencang.


Dan ara pun mau melanjutkan memijat kepala darga, tapi di hentikan oleh Darga.


"Sudah, gak usah di lanjutin."


"Kenapa aga?"


"Saya mau mandi."


"Ya sudah kalau begitu ara siapin dulu ya."


"Hmm."


Ara pun langsung menuju kamar mandi.


Ahh kenapa saya jadi gugup saat di dekatnya sekarang.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2