Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Apartemen


__ADS_3

Ara pun selesai mandi langsung turun ke bawah.


Ara memakai pakaian biasa juga, karena dia rasa dia tidak akan pergi ke mana-mana.


Dia memakai baju kaos dan memakai celana bokser yang besar nya sampai ke lutut kaki.


Dia tidak lupa juga mengikat setengah rambut nya dengan jedai.


Dia pun turun tangga, darga kaget melihat ara.


"Hei!"


"Apa aga?"


"Kenapa kamu memakai pakaian seperti ini?"


"Ya kan ara gak mau pergi ke mana-mana."


"Gak sopan tau pakai celana pendek gitu."


"Gak sopan gimana aga? Kan ini selutut ara,ini juga bokser kok, gak terlalu ketat."


"Di sini ada papa, banyak juga pelayan masa iya kamu mau pakai celana pendek kayak gini."


"Ara kalau di rumah bibi memang suka kayak gini, lagian ara kan gak kemana-mana."


"Itu di rumah bibi mu, kalau di sini gak boleh."


"Ha?"


"Cepat ganti sana."


"Tapi aga?"


"Kalau saya bilang ganti ya ganti."


"Oh."


"Cepat ganti sana, entar keliatan sama papa kamu pakai pakaian kayak gini, aku harus bilang apa."


"Iya aga."


"Hmm,minggu depan kita pindah aja ke apartemen saya."


"Ha?"


"Iya, kalau di sana nanti terserah kamu mau pakek pakaian apa."


"Ha,serius kah aga?"


"Iya."


"Ya udah deh kalau gitu ara ganti dulu." tersenyum ke darga.


"Hmm."


Ara pun berlari menuju tangga, karena takut nanti papa Darga melihat dia lagi memakai pakaian seperti itu, dan di hentikan oleh Darga.


"Hei,hei,hei!"


"Kenapa aga?"


"Sini kamu."


Ara pun turun dan mendekat lagi ke arah Darga.


"Kenapa aga."


"Kenapa kamu gak pakai sendal?" melihat ke ara kaki ara.


"Ara gak suka aga sendal yang di kamar, gak nyaman, ara mau ambil sendal yang ada di rumah bibi aja nanti."


"Kenapa kamu gak suka?"

__ADS_1


"Ara gak tau juga."


"Ya sudah nanti saya suruh dion saja yang mengambil nya ke sana."


"Gak usah aga biarin ara aja, nanti ara kan besok sekolah, nah pas pulang sekolah nya mampir aja dulu ke rumah bibi dan ngambil sendal."


"Gak!."


"Lah?"


"Biarin dion aja yang ngambilnya."


"Ya udah deh kalau gitu."


"Hmm."


"Ya udah kalau gitu ara ke kamar ya aga."


"Hmm."


Ara pun berlari lagi menaiki tangga.


Tanpa darga dan ara sadari bahwa ada 4 mata yang melihat tingkah mereka dari tadi.


"Lihat tu pa, darga bahkan gak ngebiarin istrinya pakai celana pendek."


"Hmm."


"Iya pa, alasannya karena gak sopan, terus apa kabar dengan mantan kekasihnya dulu yang kesini tiap hari dengan memakai baju yang seksi,hahah."


"Sudahlah mama jangan ngomong kayak gitu."


"Iya deh."


"Hmm."


"Ya udah kalau gitu ayo ke meja makan sarapan pagi."


"Ayo ayo."


"Tuan muda, anda dan nona muda di suruh oleh nyonya sarapan pagi di meja makan, mereka sudah menunggu di meja makan."


"Oke baiklah, bilang ke mama kalau saya lagi nunggu si dia ganti baju."


"Dia?" menatap darga bingung


"Nona muda mu."


"Oh oke tuan muda, saya akan sampaikan hal itu ke nyonya."


"Hmm."


"Kalau begitu saya permisi tuan."


"Hmm."


Pelayan tersebut pun meninggalkan darga.


Dan ara pun turun menjenguk Darga.


Dia turun memakai baju yang tadi, dan memakai celana joger nya.


"Aga..kayak gini gak papa kan."


"Hmm."


"Tapi aga janji kan kalau udah di apartemen aga nanti ara gak papa mau makai apa aja."


"Hmm."


"Gitu dong." tersenyum


"Sendal mu mana?"

__ADS_1


"Kan ara udah bilang kalau ara gak suka pakai sendal yang di kamar."


"Pakai sekarang."


"Aga ara kan gak suka."


"Kalau saya bilang pakai ya pakai."


"Aga kan udah bilang kalau aga mau suruh dion ngambilin sendal ara."


"Saya belum sempat menelpon dion, sekarang mau sarapan dengan mama sama papa, kamu yakin gak mau pakai sendal?"


"Iya."


"Pakai!"


"Tapi kan ara capek naik turun dari tadi, aga kira rumah aga ni kayak rumah bibi gitu? Rumah aga kan luas besar ara capek naik turun, mana lagi kamar di ujung."


"Pelayan!"


Salah satu pelayan berlari mendekat ke arah Darga.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?"


"Ambilkan sendal dia di kamar."


"Baiklah tuan."


"Cepat!Lari! Jangan lama-lama!"


"Iya tuan."


Pelayan tersebut pun berlari secepat mungkin.


Ahh aku merasa takut ketika dia bersikap seperti itu.


Dan pelayan itu pun sampai dengan membawa sendal tersebut.


"Ini tuan." napas pelayan tersebut masih belum terkontrol karena berlari.


"Pakaikan ke nona muda mu!"


"Ahh gak usah, biar saya sendiri saja." mencegah pelayan tadi yang sudah membungkuk mau memasangkan sendal.


"Tidak apa apa nona ini sudah tugas saya."


"Ah tidak tidak, sini biar saya pakai sendiri saja."


Ara pun merebut sendal tersebut secepat kilat dari tangan pelayan tersebut.


Karena ara merasa tidak enak, dan juga itu pertama kali nya ara mau di pakaikan sendal oleh seseorang.


Pelayan tersebut pun menunduk terdiam.


Ara langsung meletakan sendal nya ke lantai dan memakai nya sendiri.


"Kamu berani ya membantah perintah saya!"


"Maaf tuan."


"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini!"


"Apaan sih pagi-pagi udah marah marah, ya udah ayo kata kamu tadi mau sarapan sama papa dengan mama, kenapa jadi marah-marah di sini."


Ara pun menarik lengan Darga, dan memaksa nya untuk meninggalkan pelayan tersebut.


Dan akhirnya Darga menurut.


Setelah berjalan meninggalkan pelayan tersebut, ara pun melihat ke belakang melihat ke arah pelayan tadi, dan pas juga pelayan tersebut melihat ke arah mereka, ara tersenyum kepada pelayan tersebut.


Astaga nona tersenyum kepadaku?


Wah nona tersenyum kepadaku?

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2