
Hari H.
"Ara, ara udah siap belom."
"Iya bi."
"Kalau gitu kita keluar ya, darga nya udah nunggu."
"Iya bi."
Ara pun duduk di samping darga.
Acara pernikahan mereka berjalan dengan lancar, di saat antar keluarga mau mengucapkan selamat, ara hanya nunduk, mungkin ara merasa gugup, darga menanyainya apakah dia sakit, tapi ara hanya diam.
"Hei, kamu kenapa dari tadi nunduk, tundukan kepala mu kepada ku saja, kalau di depan orang lain tegakkan kepala mu."
Hanya diam tidak merespon.
Darga pun menunduk memeriksa keadaan ara, kenapa dia seperti itu.
"Kenapa kamu nangis?"
Diam tidak menjawab lagi.
"Saya nanya ke kamu, kamu udah berani ya nggak jawab."
"Maaf."
"Maaf untuk apa, saya nanya kenapa kamu nangis."
Ara menangis karena dia tiba-tiba teringat kepada ayah dan ibunya, dia menikah hari ini, walaupun dia di jodohkan, dia merasa tidak lengkap tidak ada ayah di samping nya, dan tidak ada ibu yang mendampingi nya, memberi nya arahan agar menjadi istri yang baik, ibu yang dapat membuat nya tersenyum, ara sedih karena itu.
"Saya nanya sekali lagi, kamu kenapa menangis, apakah ada orang yang menindas mu atau menyakitimu."
Sial, gadis ini pertama kali nya jadi orang yang membuat saya mengulang-ulang pertanyaan.
"Bisakah ara bercerita nanti saja, ara tidak bisa cerita sekarang."
"Ya sudah kalau gitu nangis nya nanti aja juga, kan ini acara pernikahan, apa kata keluarga nanti kalau kamu menangis di hari pernikahan."
"Iya maaf." menghapus air matanya.
"Ya sudah."
Setelah acara selesai.
"Syukurlah acara pernikahannya berjalan dengan lancar."
__ADS_1
"Hahaha iya pak."
"Ya sudah, kalau gitu kami pamit duluan ya, biar darga saja yang membawa ara pulang."
"Iya pak, mari saya antar."
Darga dan ara lagi ganti baju, darga tidak tau kalau orang tua nya sudah pamit duluan tidak menunggu ara dengan dirinya terlebih dahulu.
Setelah ganti baju Darga menanyakan orang tua nya ada di mana.
"Di mana papa dan mamaku?"
"Dia sudah pulang duluan nak."
"Oh, kenapa mereka tidak menunggu saya dan dia terlebih dahulu."
"Bibi juga tidak tau nak, tapi mereka tadi bilang kalau ara nanti pulang denganmu."
"Tentu saja, kalau tidak denganku dengan siapa lagi."
Ara juga sudah selesai ganti baju, dan menghampiri bibi nya yang tadi sibuk bicara dengan Darga, tidak tau apa yang di bicarakan.
"Bii?"
"Ehh ara, udah selesai nak ganti baju nya, kamu pasti kelelahan ya, nanti istirahat aja dulu di rumah suami mu ya."
Dia benar-benar menyebut namaku?
"Darga tadi nanya ke bibi di mana mama sama papa nya, mangkan nya bibi bilang ke darga kalau papa sama mama nya udah pulang duluan"
"Ohhh."
"Iya nak, kata mama sama papa Darga tadi kamu pulang bareng darga aja."
Ha?pulang sama dia, pasti naik mobil kan, ahh tidak bisa ara harus cari alasan.
Eh iya brilian, angel ,sama putri kan mau dateng ke acara pernikahan ara tapi agak telat, mangkannya mereka belum dateng sekarang, mungkin itu aja alasannya.
"Ga bisa bi, ara nanti nyusul aja, biarin darga pulang duluan, nanti ara minta alamat aja sama Darga, biar ara nyusul nanti."
"Gak bisa, kamu harus pulang dengan saya."
"Tapi ara.."
"Gak bisa, pokoknya pulang dengan saya, kamu ini kenapa sih, aneh di ajak pulang sama sama, malah mau nyusul."
"Nanti ada temen ara yang mau dateng, nah mereka datang nya agak telat hari ini, masa iya ara ikut pulang ke rumah sekarang, kan gak enak nanti teman ara ke sini, ara udah pergi."
__ADS_1
"Ketemu nya kan bisa nanti di sekolah."
"Kan hari ini hari pernikahannya, masa iya mereka ngucapinnya pas di sekolah nanti, mereka nya mau dateng hari ini."
"Ya udah suruh ke rumah aja kalau gitu."
"Kan gak enak sama mama kamu nanti, masa iya ara baru aja dateng ke sana, udah berani bawa teman ke rumah, ara gak enak."
"Gak enak aja terus, terserah pokoknya harus pulang dengan saya."
"Darga mau nunggu?"
"Ya nggak lah, saya gak suka ya yang namanya nunggu."
"Ya udah kalau gitu Darga pulang aja dulu, nanti ara kan nyusul, darga tinggal kasih tau aja alamat rumah Darga, nanti ara pulang sendiri ke sana, ara mau ketemu dulu hari ini, di sini, sama teman ara, ara gak bohong kok, mereka beneran mau dateng."
"Ya sudah."
"Iyaa, makasih."
Pergi, lalu langsung meninggalkan ara dan bibinya tanpa pamit.
Apakah dia marah?
"Ara kenapa kayak gitu, di ajak pulang malah gak mau."
"Ara bukannya gak mau bibi, kan nanti ada teman ara yang mau dateng, ini kan pertama kalinya juga teman ara dateng ke sini, nah kalau ara ngajak mereka ke sana, ara nanti gak enakan sama mama nya Darga."
"Ehh iya ya."
"Iyaa bi." tersenyum.
Pesan masuk dari no.tidak di kenal :
Ini saya dion nona, saya di perintahkan oleh tuan untuk mengirim alamat rumah tuan ke nona.
Alamat :
Jln. xxx
Astaga, dapat no.ku dari mana coba?
Membalas pesan :
Oke, makasih.
BERSAMBUNG...
__ADS_1