Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Sedih


__ADS_3

Setelah beberapa menit mereka membuat keributan di rumah bibi nya ara, akhirnya mereka masuk juga.


"Tante, bisakah kami langsung ke kamar ara saja."


"Hahaha iya gak papa, langsung saja ke kamar ara, kayak nya kalian bener-bener udah gak sabar lagi ketemu ara ya."


"Iya tante."


"Tapi kan tante, tante belum kasih tau kamar ara nya yang mana."


"Di atas kamar ara, jalan aja lurus nanti pas di atas, terus belok kiri, nanti ada ruangan yang di depan pintunya ada hiasan gantung ada nama ara, itu kamar ara."


"Ohh oke kalau gitu kami ke atas ya tan."


"Iya, nanti tante buatin kalian minuman,kalian mau minum apa."


"Eh gak usah te, ngerepotin tante aja."


"Gak papa, gak ngerepotin tante kok, tante serius."


"Terserah tante aja deh mau buatin kami minum apa, kami mah apa aja yang di buat tante pasti di minum."


Ya ampun lian....


"Eh tante belum tau nama kalian."


"Ehh iya ya tante, nama saya putri te, kalau yang ini yang ribut sama anak tante tadi nama nya angel, terus yang bar-bar dan banyak tingkah dari tadi nama nya brilian tante."


"Hahaha kamu mah gitu amat ngenalin teman kamu."


"Ya emang kenyataannya kayak gitu tante."


"Haha ya udah ya udah, tante buat minuman dulu buat kalian, kalian ke kamar ara aja."


"Okee tante." tersenyum lalu naik tangga menuju ke atas bersama-sama.


Mereka pun berjalan sesuai dengan arah yang tadi di berikan oleh bibi nya ara, dan menemukan kamar ara.


Tok, tok, tok..


"Ara.., ini kami..,bisakah ara buka pintunya?"


Ha?mereka udah sampai, kan udah di bilangin tunggu di bawah, kenapa mereka ke sini.


"Iya tunggu bentar."


3 menit kemudian

__ADS_1


Membuka pintu.


"Ayo masuk."


"Gila lo, lama bener buka pintu aja."


"Maaf njel, ara tadi ngerapihin dulu kamar, masa iya kalian masuk, kamar ara berantakan."


"Ya pasti berantakan lah ra, kamu kan lagi beres-beres."


"Ya udah ayo, mau masuk atau nggak?"


"Ya mau masuk lah."


"Ya udah ayo."


Masuk ke kamar.


Mereka duduk di atas tempat tidur ara, dan menatap ara yang sedang berdiri di hadapan mereka.


"Ara."


"Iya, kenapa?"


"Kenapa mata ara kayak abis nangis gitu, terus kata bibi ara, ara beres-beres, kenapa koper ara masih kosong?"


Hanya diam tidak menjawab.


Ara langsung memeluk mereka bertiga, sepertinya dia sudah sudah berusaha menahan, tetapi ketika temannya nanya apakah ara nangis, dia gak bisa lagi nahan tangis nya.


"Ya ampun...ara kenapa..?"


Mereka membalas pelukan ara ketika ara menangis saat memeluk mereka.


"Ara kenapa..ara cerita..?"


Tambah nangis, dan tambah memeluk erat teman nya tersebut.


"Ara tenang in diri dulu, baru cerita ke kita."


Mereka melepas pelukan tersebut, dan menyuruh ara duduk di kasur, dan mereka turun dari kasur, jongkok, melihat ara, sambil memegang bahu ara.


"Ara udah tenang belom, sekarang ara cerita ke kita, ara gak boleh mendem sendiri."


"Ara.., ara sedih.." menetes air mata.


"Ara sedih kenapa, coba cerita ke kita."

__ADS_1


"Iya ra, bener kata putri, ara cerita, jangan nangis sendiri, mendem sendiri.."


"Ada yang nyakitin ara kah, sampai sampai membuat ara nangis."


"Ara ngomong dong, jangan diem aja, liat tu air mata nya netes terus dari tadi."


"Ara..,ara rindu sama ayah dan ibu ara.."


"Ya ampun..ara, maaf ya kami datang telat, dan gak bisa nemenin kamu di saat acara pernikahan kamu tadi."


Putri memegang bahu ara.


Angel mengelus kepala ara.


Dan brilian memegang tangan ara.


"Ara...sedih..ara ke ingat mereka, ara gak tau mau cerita ke siapa.., ara gak mau nangis di depan bibi dan ngebuat bibi ikutan sedih...


Ara sangat merindukan mereka, ara rindu di saat ibu ara menggendong ara, ara rindu di saat ayah ara membeli kan ara mainan dan membuat ara senang, ara rindu di saat mereka tertawa karena ara...ara sangat merindukan mereka."


Semuanya menenangkan ara, dan menghibur ara, agar ara tidak sedih lagi, dan tidak ada yang tau bahwa ada seseorang yang juga ikutan menangis mendengar perkataan ara di dalam kamar. Bibi ara menangis, dan tidak sengaja mendengar kata kata ara, di saat dia ingin mengantarkan minuman.


Dia sedih, anak yang selama ini dia kira kuat, ceria, bisa menangis juga hari ini karena dia merindukan orang tua nya, dan lebih membuat bibi nya menangis di saat ara bilang dia tidak mau bercerita ke bibi nya takut bibi nya ikutan sedih.


Setelah beberapa menit menunggu di luar, akhirnya bibi ara mengetuk pintu, dan masuk mengantarkan minum seperti tidak ada yang terjadi. Dia harus bersikap kalau dia tidak tau apa-apa.


Tok,tok,tok.


"Nakk, ini minuman kalian.."


Semua nya kaget saat mendengar suara bibi ara, bagaimana kalau dia mendengar apa yang di bilang ara tadi, padahal ara tidak mau bibi nya tau dan ikutan sedih.


"Sebentar bi, biar lian yang buka pintu."


Bibi nya pun masuk.


Meletakan minuman di atas meja belajar ara, dan tersenyum melihat tingkah mereka, ara yang sibuk memasukan baju di dalam koper dan membelakanginya, bibi nya tau kalau ara tidak mau memperlihatkan wajahnya yang sedang menangis, angel yang merapikan kasur ara,padahal kasur ara rapi tidak berantakan, dan putri yang sibuk membantu ara.


Bibi nya tersenyum karena merasa, mereka bersikap seperti itu agar bibi nya tidak tau masalah tentang ara, dan tidak ikutan sedih seperti mereka.


"Ini minumannya, di minum ya."


"I,ya bi, makasih ya bi." menjawab dengan gugup.


"Iya kalau gitu bibi ke bawah lagi ya."


"Iya bi."

__ADS_1


Tersenyum, lalu keluar dan menutup pintu kamar ara.


BERSAMBUNG...


__ADS_2