
Malam pukul 19:30
Tok,tok,tok.
Bibi ara mengetuk pintu kamar ara 3x
"Araa, buka nak, mereka sudah datang, ara sudah siap belum, gak enak jika mereka nunggu lama, ara pakai baju yang di siapkan oleh bibi kan."
Ga ada jawaban, dan gak ada sautan dari ara.
"Araa, ara di dalam kan, araaa?"
Tetap sama saja, tidak ada sautan.
Dinda pun pergi menuju ke kamar ara juga, karena mama nya lama sekali belum turun turun bersama ara.
"Astaga mama, mama ngapain disini, ara nya mana, lama banget, gak enak orang nunggu, ara gimana sih."
"Ga tau din, mama udah manggil ara dari tadi ara gak ngejawab-jawab."
"Ahh?"
Gak mungkin kan dia kabur? Ahh gak mungkin gak mungkin ara gak bakal berani kayak gitu.
"Mama minggir biar dinda aja yang manggil."
Mama nya pun minggir ke tepi, dan membiarkan dinda yang memanggil ara.
Dorr!dorr!dorr!
Dinda mengetuk dengan sangat kuat, tapi keluarga pak wijaya gak akan denger karena kamar ara agak jauh dari tempat makan,atau tempat dimana keluarga wijaya lagi menunggu.
"Ara!!"
Araa kaget di dalam kamar, dan langsung terduduk, dan mengusap-usap matanya.
Dan suara dinda terdengar lagi dari luar kamar.
"Ara!ara di dalam kan, ara ngapain sih di dalam, ara jangan lama-lama, keluarga pak wijaya udah nunggu araa di bawah!, kalau ara mau nangis, nangis aja, tapi jangan sekarang ara, jangan malu-maluin."
Terdengar suara sautan dari dalam.
__ADS_1
"Maaf din, ara ketiduran, bentar lagi ara turun ke bawah kok."
Ahh syukurlah ternyata dia nggak kabur.
"Araa, ara gak apa-apa kan nak di dalam."
"Iya bi, ara nggak apa-apa, bibi ke bawah aja dulu, bentar lagi ara turun kok."
"Iya."
"Ara cepetan jangan lama-lama 10 menit udah di bawah."
"Iya din."
Astaga ara kenapa kamu bisa tertidur di saat-saat seperti ini, dandan? Ahh aku tidak bisa dandan? Bagaimana ini, waktunya mepet juga, baju yang di siapkan bibi di letakan di mana, ahh sudahlah pakai apa adanya aja, nanti aja mikirin masalah di marah paman, yang penting turun dulu, dari pada ngebuat orang nunggu. Ara ada-ada aja sih kenapa bisa ketiduran.
10 menit kemudian.
Ara turun, dan bibi nya kaget melihat ara, dan selain bibinya semuanya juga heran kenapa ara seperti itu.
Ara hanya memakai baju kaos putih yang ada tulisan Love Myself, dan memakai celana tidur, kayaknya dia hanya berusap, memakai bedak, dan liptint, dan mengikat rambut setengah bagian karena rambut nya hanya sebahu.
Ara bingung, apakah ada yang salah padanya. Jika ada, dia pun tidak tau salah nya dimana.
Mama nya Darga hanya tersenyum setelah bereaksi bingung, dia merasa Darga tidak salah pilih.
"Dinda?dinda kenapa tertawa, apakah ada yang salah atau lucu sehingga membuat dinda tertawa?"
"Hahahah" tertawa lagi.
Bodoh! Gumam darga.
"Ara, kenapa ara gak pakai baju yang bibi siapkan."
"Ara ga tau bibi meletakkan nya dimana, dari pada membuat tambah lama menunggu, jadi ara pakai baju yang sering ara pakai aja."
"Araa polos banget ya, darga gak salah pilih."
Membalas dengan senyuman.
"Ya udah, ara sekarang duduk."
__ADS_1
Duduk tepat di depan Darga.
Dan menaikan alis sebelah memandang Darga, dia memang dari tadi belum sempat melihat wajah Darga, karena di bingung kan oleh tertawa nya dinda, yang dia tidak tau di sebabkan oleh apa.
Ehh kayak pernah lihat, tapi di mana ya, muka nya gak asing gituu, iya ara pernah lihat, tapi di mana ara lupa, coba ara ingat ingat lagi.
Ohhhh iyaa, ini kan om-om yang marah marah waktu itu.
Mama darga tersenyum melihat tingkah laku ara, yang melihat Darga seperti itu, dia merasa ara terpesona karena Darga tampan.
Darga yang di perhatikan oleh ara dengan reaksi seperti itu, hanya diam, karena dia tau pasti ara akan kaget dan bingung juga sama seperti reaksinya waktu itu.
"Ara kenapa?terpesona ya, karena cukup tampan?"
"Bukan kayak gitu tante, ara kayak pernah ketemu sama dia." menjawab dengan polos
"Ohh,benarkah darga?"
"Gak"
"Ohh iya tante ara ingat, dia om-om yang marah marah sama ara waktu gak sengaja terjadi kecelakaan kecil."
Semuanya tertawa kecuali papa Darga dan darga
"Araa, darga tu pengusaha muda lo, umurnya baru 25 tahun."
"Iya kah tante?"
"Iya ara." tersenyum.
Kan beda 8 tahun sama ara? Salah ya ara kalau manggil nya om? Hmm ya udah deh kalau salah, kata bibi gak boleh di ulangi lagi. Terus ara manggil nya apa?
"Ya udah karena kami sudah melihat calon menantu kami, dan ternyata sangat polos, kita bicarakan tentang masalah pernikahan setelah makan, bagaimana pak anton apakah setuju?"
Ahh,apakah pak wijaya lapar??
"Iya pak, mari semuanya makan saja dulu, nanti baru kita bicarakan lagi."
Semuanya makan, dengan tenang tidak ada yang berbicara sambil makan.
BERSAMBUNG...
__ADS_1