
Di rumah pak anton.
"Maa, panggil semuanya ke ruang tamu, mama kan sudah papa bilang, kalau papa mau kasih tau sesuatu."
"Memangnya mau ngasih tau apa sih pa, mama dari siang tadi penasarann"
"Panggil saja dulu mereka."
Setelah di panggil satu-satu
Sekarang sudah kumpul semua di ruang tamu.
"Pa...kita mau di apain sama papa, pakek acara kumpul kayak gini, dinda males banget serius."
"Ada yang ingin papa sampaikan sangat penting, yaitu tentang perjodohan."
"Haaa??
Semua langsung kaget menatap pak anton, kecuali ara yang hanya nunduk diam dari tadi, karena takut sama pak anton. Ara takut dari dulu sama pak anton, karena pernah di ancam pak anton kalau ara berani menatap dirinya maka ara akan di usir dari rumah ini, dari situlah ara mulai menundukkan kepalanya ke pak anton, karena hal itu sudah dari kecil ara lakukan ara sudah terbiasa menunduk sampai sebesar ini, ara takut akan di usir, ara tidak mau hal itu terjadi, karena dia sangat sayang kepada bibinya dia gak mau ninggalin bibinya apalagi gara gara di usir,bukan karena kehendak sendiri. Terserah seluruh dunia mau membencinya asal sisa kan satu,yaitu bibinya ara rasa itu sudah lebih dari cukup karena dia sangat menyayangi bibinya seperti ibu kandung nya, begitu juga bibinya menyayangi ara layaknya anak kandung sendiri.
"Paa, papa serius mau ngomongin tentang perjodohan, emangnya siapa yang mau di jodohin pa, pokoknya dinda gak mau ya."
"Dinda diem dulu, papa juga belum selesai ngomong."
"Iyaa ma."
Astagaa semoga bukan aku yang mau di jodohkan, amit-amit yaa ampun jangan sampai, semoga aja si ara, bukan aku.
"Bukan kamu din, tapi tiara yang akan di jodohkan sama anak teman saya, besok malam mereka akan kesini untuk membicarakan hal ini dan ingin melihat langsung si tiara."
Ara gadis polos ini hanya tetap nunduk, diam, tidak berkata apa-apa, tidak berani menegakan kepala.
"Apa-apaan papa main jodoh-jodoh aja, gak bilang dulu, mama gak setuju pokoknya."
"Maa, kalau papa nolak gak enak. Pak wijaya selama ini ngebantu perusahaan kita saat mau bangkrut, masa iya papa membalasnya dengan penolakan."
__ADS_1
"Terserah pokoknya mama gak setuju!"
Baru kali ini bibi si ara benar-benar marah padahal dia adalah orang yang memiliki sifat lembut, jarang marah, kalaupun marah nada bicaranya tetap lembut.
"Mama apa-apaan sih, bukannya ngedukung papa, malah marah marah sama papa, masa iya mama ngebiarin papa ngerasa gak enak sama temannya karena nolak."
Aduhh, untung bukan aku yang mau di jodohin.
Inilah yang membuat paman si ara sangat menyayangi putrinya tersebut, dia merasa putrinya paling mengerti padanya. Ardi putranya sangat dia sayangi juga, tetapi ardi orangnya dingin, bodoh amat dengan segala hal yang gak penting, terserah apa yang papanya lakuin dia akan setuju. Papa nya dan mamanya pun merasa bingung entah ardi dapat sikap seperti itu dari siapa, mama dan papanya tidak memiliki sifat dingin dan cuek.
Tetapi pada malam ini semuanya kaget beserta ara kaget, tetapi tetap tertunduk di saat mendengar ardi untuk pertama kalinya menjawab perkataan ayahnya tentang perjodohan ara.
"Maaf sebelumnya pa, sebelum papa mengiyakan perjodohan tersebut setidaknya papa harus menanyakan dulu ke tiara dia nya setuju atau nggak."
"Bener, tu kata ardi"
"Mama sama kak ardi apa-apaan sih, yah wajarlah kalau papa langsung setuju, ara kan gak juga bakalan nolak, dia kan numpang selama ini sama kita, udah saatnya si ara membalas kebaikan kita selama ini, ya nggak ra?"
Hanya diam dan tertunduk, bibinya mengerti apa yang ara rasakan pasti dia saat ini sedang tertekan, binggung harus bilang apa, tidak bisa nolak dan kalau pun nolak dia tidak tau harus beri alasan apa.
"Kak ardi sekarang udah berani ya gak setuju sama keputusan papa?"
Ardi terdiam, bukan berarti dia takut dengan ancaman tersebut, dia hanya malas berdebat dengan si dinda.
"Tiara kamu harus mau, kamu harus balas kebaikan saya selama ini sama kamu."
"Iya paman." Tersenyum sambil nunduk.
"Raa, kenapa kamu setuju nak, jangan kayak gitu, perjodohan ini dapat mempengaruhi kehidupan kamu kedepannya. Bagaimana kalau calon suamimu nanti orangnya mudah marah, terus gak peduli sama kamu, terus nyiksa kamu, bibi gak rela ara di gituinn, kamu jangan mudah mengiyakan maunya paman mu."
"Ehh pa, kalau dinda boleh tau ara mau di jodohin sama siapa?"
"Darga wijaya anak nya pak wijaya,pengusaha muda yang terkenal dingin."
"Ohhh denger-denger sih darga wijaya sama kayak pak wijaya orang yang dingin, terus gak suka penolakan, gak suka di bohongin. Untung bukan dinda yang di jodohin kalau nggak pasti ribet deh ngurusin nya."
__ADS_1
Ara kaget mendengar ucapan si dinda tapi tidak terlihat oleh bibinya karena posisi ara sedang nunduk.
"Gak apa-apa kok, demi membalas kebaikan kalian selama ini sama ara, apapun masalahnya nanti ara hadapin semampu ara dan sekuat ara, tapii bi jika ara udah gak kuat lagi ara boleh kan balik ke sini lagi." ucap ara dengan polos, saat menanya kepada bibinya.
"Tentu saja nak, pintu rumah selalu terbuka kalau kamu mau kembali."
Brakk! Suara pukulan di meja
"Enak saja, kalau kamu sampai membuat masalah dengan keluarga itu, keluarga saya juga akan terancam, entah itu perusahaan akan bangkrut atau hal lainnya. Kamu jangan sampai membuat masalah saat di sana, bersikap lah dengan baik jangan sampai darga menceraikan mu itu suatu hal yang dapat memalukan keluarga ini, kalau sampai kamu di ceraikan, kamu gak akan di terima di rumah ini, terserah mau jadi apa kamu nanti."
"Papa apa-apaan sih, kalau papa gak mau terima ara lagi nanti, mama bakal ninggalin papa dan ikut sama ara."
Bibinya ara yakin pasti suami nya tidak akan membiarkan ara pergi kalau dia ikutan pergi dengan ara.
"Terserah!"
Duarr!!Ada yang retak tapi bukan kaca.
Hati bibinya ara merasa sedikit sakit, kenapa suaminya tega seperti itu, padahal 14 tahun yang lalu istrinya mengancam seperti itu berhasil membuat suaminya mau menerima ara di rumahnya.
Ara ikutan kaget mendengar ucapan pamannya.
"Pamann, paman jangan seperti itu sama bibi, ini untuk pertama kali nya ara lancang menjawab paman, ara nggak akan membuat masalah di sana paman, ara akan usahain agar ara nanti tidak di ceraikan, tolong jangan ngomong yang nggak-nggak lagi sama bibi, ara mohon."
Paman nya tersenyum, dia pasti sudah tau ara tidak akan rela kalau bibinya di perlakukan seperti itu dan usaha nya mengancam ara dengan membiarkan bibinya pergi bersamanya nanti, berhasil membuat ara tertekan.
"Bagus, kalau kamu tau diri, saya jaga ya ucapan kamu, jangan buat masalah di sana ingat."
"Iya paman."
Ehh tunggu, kenapa udah bahas masalah perceraian aku kan juga belum nikah. Ya udah nggak apa-apa lah.
"Ya udah kalau gitu, masuk ke kamar masing-masing sudah malam. Ingat malam besok mereka mau datang."
BERSAMBUNG...
__ADS_1