Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Kedinginan


__ADS_3

Setelah darga keluar kamar ara menyusul nya dari belakang, dan di saat mereka mau menuruni tangga ternyata di ruang santai tempat mama dan papa nya duduk menonton tv atau membaca koran Darga melihat mama dan papanya sekarang sedang ada di sana.


Darga menggenggam tangan ara.


Ara pun awalnya kaget kenapa darga menggenggam tangannya padahal Darga sendiri bilang kalau dia tidak mau di sentuh ara.


"Aga..kenapa aga megang tangan ara."


Darga hanya diam dan melihat ke arah ruang santai tersebut, ara pun mengerti maksud dari Darga.


Darga menggengam tangan kanan ara, dan ara pun membalas memegang lengan Darga dengan tangan kiri nya.


Ara tau bahwa Darga ingin menunjukkan ke mama dan papa nya bahwa mereka sudah saling suka, walaupun itu cuma pura-pura, ara memahami Darga.


Darga pun kaget karena ara memegang lengan nya.


Dan ara membalas dengan senyuman mengisyaratkan kalau dia mengerti maksud darga.


Mereka pun turun.


"Ma..pa."


"Ehh ara sama Darga, kalian mau kemana?"


"Itu ma,ma" darga menjawab dengan gugup.


"Kami mau keluar sebentar ma, mau nyari angin, ara bosan di kamar."


"Ohh apa benar Darga?" melihat darga dengan senyuman penuh makna.


"Ehh iya ma bener."


Gadis ini sangat pintar dalam mencari alasan.


"Ya sudah kalau gitu hati-hati di jalan ya."


"Iya ma." ara menjawab dengan senyuman.


"Kalau gitu kami pamit ya ma..pa.."


"Hmm."


Mereka pun pergi meninggalkan papa dan mama nya.


"Eh pa..papa liat nggak sepertinya mereka udah akur ya."


"Hmm."


"Liat aja tadi si ara megang tangannya Darga, darga juga gitu."


"Hmm."


Astaga, untung suami, kalau bukan aja sudah saya jambak jambak rambutnya.


Di luar rumah.


Mereka pun berjalan menuju garasi.


Ehh ini bukannya jalan menuju garasi mobil ya?


Ahh saya lupa pasti pergi nya naik mobil.


"Hei, kamu bisa nggak sekarang lepasin tangan kamu yang dari tadi meluk lenganku."


"Eh, maaf aga ara lupa." melepas tangannya yang dari tadi sangat nyaman meluk lengan Darga.


"Hmm."


"Aga..kita pergi nya naik mobil ya?"

__ADS_1


"Ya iyalah masa iya jalan kaki, kalau jalan kaki mending ga usah keluar."


"Aga..enakan naik motor lo."


"Apaan sih."


"Ara serius aga, enakan naik motor kalau keluar malam-malam, angin malam nya kerasa banget lo."


"Gak,gak,gak."


"Ayolah aga, sekali ini aja keluar nya pake motor, aga bisa kan bawa motor."


"Hmm."


"Ya udah naik motor aja aga..yaa.."


"Tapi di sini ga ada motor."


"Pinjam motor pelayan di sini aja aga.."


"Hmm."


"Ya udah ara aja yang minjem nya, aga tunggu di sini ya."


Beberapa menit kemudian mendorong motor.


"Motornya kenapa kamu dorong."


"Aga..ara tu gak bisa naik motor."


"Jadi dari belakang tadi kamu dorong motor."


"Iya."


"Bodoh!"


"Iya aga iya."


"Ini aga motor nya."


Memberikan motor tersebut ke Darga, dan darga pun langsung menaiki nya.


"Ayo cepetan naik."


"Iya aga."


Ara pun naik ke motor yang di bonceng oleh Darga, mereka pun pergi ke tempat yang mau di kunjungi oleh Darga, darga pun setelah sekian lama gak naik motor, sekarang naik motor bersama dengan ara.


Di perjalanan.


"Aga kita mau kemana sih sebenarnya."


"Mau ke bar."


"Ha! Ke bar? Aga serius."


"Ya iyalah serius."


"Aga kenapa mau ke sana."


"Ada teman yang ngajak kumpul."


"Aga gak malu ke sana naik motor?"


"Ya nggak lah, kenapa emangnya kamu ya yang malu?"


Halah sudah ku duga ni cewek cuma suka harta doang.


"Nggak kok aga ara cuma nanya aja, takut nanti aga malu ke sana naik motor."

__ADS_1


"Hmm."


"Aga, aga gak malu ngajak ara ke sana kumpul sama temen aga, mana lagi pakaian ara pakaian biasa kayak gini."


"Gak."


Apakah benar dia tidak merasa malu.


Ahh aku belum pernah ke bar, rasa nya tidak mau ikut, tapi harus ikut, gimana kalo aga di goda sama cewek di sana? ara harus ikut.


"Aga..tapi ara belum pernah ke bar?"


"Terus apa urusannya sama saya?"


"Nanti ara ngebuat masalah di sana, nanti aga marah ke ara."


"Cukup diam gak usah banyak bicara."


"Oke deh aga."


Ara merasa kedinginan.


Dia pun bertanya ke darga.


"Aga..."


"Apa lagi sih! Kamu gak capek ya dari tadi ngomong terus."


"Itu.."


"Itu apaan."


"Ara boleh nggak peluk aga, ara kedinginan."


Astaga berani juga ya dia nanya hal itu ke saya.


"Gak."


"Tapi ara kedinginan."


"Kalau kamu nyusahin kayak gini, mendingan tadi kamu gak usah ikutan, mau naik motor udah di iyain, sekarang mau peluk juga dengan alasan kedinginan."


"Tapi ara kan beneran kedinginan, gak bohong."


"Gak, kamu gak boleh nyentuh saya."


Tadi pas di rumah meggang tangan ara langsung nyosor aja gak pakek izin, sekarang ara mau peluk bentar aja gak boleh, ara kan kedinginan masa iya gak kasian sama ara.


Terus bilang kalau ara dari tadi ngomong terus, ya udah sekarang ara diam.


Ara pun setelah bergumam di dalam hati tidak berbicara lagi.


kenapa dia tidak banyak bicara lagi?


Darga pun melihat ara yang di belakang dengan melihat ke arah spion, darga melihat ara yang murung dan menunduk diam dari tadi.


"Ya udah kalau beneran kedinginan peluk aja, tapi ingat saya mau di peluk hanya karena kasian sama kamu."


ara pun kaget mendengar ucapan darga tadi


ha serius??


"Aga..ara beneran boleh peluk aga."


"Hmm."


Ara pun memeluk darga dengan erat dan dengan wajah senang, karena dia merasa agak tidak kedinginan lagi, darga yang di peluk oleh ara hanya diam saja.


*Entah kenapa saya bisa begitu saja membiarkannya menyentuh saya.

__ADS_1


BERSAMBUNG*...


__ADS_2