Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Sakit Hati


__ADS_3

Setelah ara menyiapkan semuanya darga pun pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuh nya.


"Aduh..ngapain ya biar ga gabut,ngebersihin kamar tapi ini udah bersih."


"Dahlah ga tau mau ngapain,main handphone aja."


Ara pun mengambil ponsel nya yang tadi di charger di atas rak.


Ara pun berbaring di kasur sambil memainkan ponselnya.


Saking gabut nya dia ngesearching di google"kenapa seseorang tiba-tiba berubah."Tapi niat dia membaca itu di urungkan,dia malah mencari tentang outfit memakai hoodie.


20 menit kemudian Darga pun selesai mandi,dan dia melihat ara yang berbaring di atas kasur dengan posisi tengkurap dan memainkan ponsel nya.


Darga pun duduk di sofa sambil memainkan ponsel nya sambil menunggu panggilan untuk makan malam.


Mereka berdua sibuk memainkan ponsel masing-masing,ara yang tidak menyadari kalau Darga sudah selesai mandi dan sekarang duduk di sofa.


Darga sekilas melihat ara tetapi ara fokus memainkan ponsel nya.


"Hei."


Ara hanya diam.


"Ga punya telinga ya!" berbicara dengan nada keras.


Ara hanya tetap diam,dia sudah tau kalau Darga memanggil nya,tetapi dia sedang tidak mood untuk berbicara dengan Darga.


"Oke sekarang udah berani ya,ga nyaut kalau di panggil."


"Ihh apaa sih agaa." ara pun bangun dari posisi rebahan nya dan duduk melihat ke arah Darga.


"Ga kebawah?"


"Ngapain ke bawah?"nanya balik.


"Ya bantu mama lah!kan hari ini mama yang masak,bukan nya ngebantu malah enak santai-santai di sini."

__ADS_1


"Dih kebiasaan main tuduh aja,nanya dulu kek atau apa."nunjuk nunjuk Darga.


Darga menaikan Alis nya sebelah melihat ke arah ara.


"Mama ga nyuruh aku ngebantuin,dia cuma mau di bantu sama siapa tu yang di bawah,ga tau siapa nama nya lupa,temen kamu."


"Cerina?"


"Hmm."menjawab dengan malas.


Tok.tok.tok


Bunyi ketukan pintu.


Ara pun dengan sigap berdiri dan langsung ingin membuka pintu tanpa memakai sendal.


Tapi di hentikan oleh Darga.


"Hei,hei,hei."


"Apa aga?"


"Sendal mu mana."


"Kan udah di bilangin aga ara tu ga mau pakek sendal yang itu ga nyaman,kata aga aga mau nyuruh dion ngambilin ke rumah bibi,tapi sampek sekarang tu sendal belum sampek-sampek."


"Lupa."


"Ara mau buka pintu dulu ih."


"Hmm."


Ara pun membuka pintu kamar,dan sosok perempuan masuk begitu saja ketika di buka pintu,dan tidak lupa menyenggol bahu ara sedikit.


"Eh?"ara kaget karena si teman Darga itu main masuk aja ke kamar mereka.


Cerina langsung mendekati Darga yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Darga..."duduk di samping Darga.


Anjimm


Ara menaikan alis nya sebelah karena merasa heran dengan sikap cerina.


"Hmm."sambil memainkan ponsel.


"Makan yok ke bawah,aku di suruh tante manggil kamu."


"Oh."darga pun langsung mematikan ponsel nya,dan berdiri.


Darga melihat ke arah ara yang tadi masih berdiri di dekat pintu dengan posisi termenung melihat ke arah Darga dan cerina.


"Ayokk ga."cerina menarik tangan Darga dan mengajak nya keluar.


Darga dan cerina hanya melewati ara yang tadi berdiri di dekat pintu.


Seketika air mata menetes di mata ara.


"Aduh kenapa sakit yaa..."memegang arah jantungnya sambil menetes kan air mata.


"Ga ada niatan gitu mau nyapa atau ngajak ke bawah?di tinggal gitu aja?"ara tersenyum sambil menahan air mata nya yang mau keluar lagi.


Ara menarik napas nya,dan dia mengambil sendal di dekat tempat tidur,dia harus memakai sendal itu ketika ke bawah.


Dia pun keluar dari kamar dan menutup pintu kamar, turun ke bawah sendiri,berjalan sendiri sambil menahan tangis nya,yang merasa agak sedikit sakit hati ketika Darga melewati nya saja saat bersama dengan wanita lain,ya walaupun itu teman kecil Darga,tapi ara sakit hati.


Darga



Ara



BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2