Dingin Tapi Bucin

Dingin Tapi Bucin
Panggil Mama


__ADS_3

Ara yang di suruh Darga masuk duluan, dia tidak masuk, malahan masih berdiri di depan Darga.


"Hei, kamu nunggu apa lagi, saya sudah nyuruh kamu masuk."


"Maaf, tapi ara gak mau masuk sendirian, ini kan pertama kali nya ara ke sini."


"Kamu sudah berani melanggar perintah."


"Bukan kayak gitu, ara mau bareng Darga aja masuk, ara gak mau masuk sendirian."


"Saya masih ada kerjaan di sini."


"Ya sudah kalau gitu saya masuk nunggu kamu gak ada kerjaan lagi di sini, jadi kan bisa barengan."


Astaga cewek ini benar-benar mancing emosi.


"Kamu tu ya kalau di perintah masuk ya masuk, kenapa malah melanggar perintah, terus ngejawab terus."


"Kan ara udah bilang, ara gak mau masuk sendirian."


Sudahlah aku sangat malas berdebat.


"Ya sudah terserah kamu saja."


Menunggu darga.


Berdiri di depan darga.


"Eh, kamu bisa nggak jangan berdiri terus di depan saya."


"Jadi ara harus berdiri di mana."


"Terserah pokoknya jangan di depan saya."


Pindah posisi berdiri di samping darga.


"Eh darga kok tinggi banget, lihat tubuh ara sebahu Darga lo."


"Hmm."


"Darga kenapa bisa tinggi kayak gini, darga olahraga setiap hari ya."


"Hmm."


"Ara nanya, kenapa di jawab hmm terus?"


"Hmm."


"Katanya ada kerjaan, tetapi kenapa dari tadi berdiri terus di sini?"


"Kamu tu ya kalau gak bisa diam, mending masuk duluan saja, saya pusing denger kamu bicara terus dari tadi."


"Berarti ara harus diam ya? Biar darga gak pusing lagi?"


"Mending kamu masuk aja duluan, kalau kamu masuk gak pusing lagi saya di sini."


"Tapi kan ara udah bilang kalau ara mau masuk bareng sama Darga."


Astaga kenapa saya harus menikah dengan cewek kayak gini.


Darga diam tidak menjawab lagi.


Dih gak di jawab, ya udah kalau gitu ara diam, ara kan ngomong sendiri dari tadi biar gak sunyi di sini.


Beberapa menit kemudian, dion pun datang, dan mengeluarkan barang yang tadi dia bawa dari rumah bibi ara.


"Halo tuan muda, halo nona muda."


"Hmm."


"Halo juga dion." menyapa melambaikan tangan dan tersenyum.


Saya pertama kali nya di sapa oleh seseorang dengan gaya seperti itu.


"Ini nona, koper nona muda dan barang lainnya."


Menyerahkan koper ke ara.


Ara mau mengambilnya tapi terhenti karena Darga sudah mengambilnya terlebih dahulu.


Ha,kenapa dia mengambilnya.


"Sini biar ara aja yang bawa nya, itu kan punya ara."


"Apa kata orang tua saya nanti jika mereka melihat istri saya masuk ke dalam membawa koper, dan saya membiarkannya."


"Ya sudah kalau gitu kamu aja yang bawa."


Diam tidak menjawab.


"Ya sudah tuan, apakah ada perintah lagi yang harus saya kerjakan hari ini."


"Kamu periksa apakah besok saya ada rapat, kalau ada segera hubungi saya rapat nya jam berapa, sudah itu saja."


"Baiklah tuan, kalau gitu saya permisi ya tuan,nona."


"Hmm."


"Iyaa, hati-hati ya dion di jalan." melambaikan tangan lagi dan tersenyum.


"Iya nona."


Astaga aku merasa risih jika nona seperti itu.


"Ayo masuk."

__ADS_1


Memegang lengan Darga, karena ingin menghentikan langkah Darga yang mau masuk ke dalam.


Darga kaget dengan ara yang berani sekali memegang nya.


"Kamu kenapa meggang saya, lepaskan!"


"Eh maaf, ara gak sengaja." melepaskan


"Lain kali jangan pernah berani menyentuh saya, kau hanya boleh berpura-pura saat di depan mama dan papa."


"Kenapa ara nggak boleh nyentuh darga."


"Karena saya gak suka di sentuh sama kamu."


"Ohh baiklah kalau gitu."


Kenapa gak suka di sentuh ara? Ara kan cuma nyentuh gak gigit kok.


"Ya sudah ayo masuk."


"Ehh tunggu dulu."


"Apa lagi sih!."


"Kan katanya tadi Darga ada kerjaan di sini?"


"Sudah tidak ada lagi, cepetan masuk."


Sudah tidak ada lagi? Apakah pekerjaan yang dia maksud adalah berdiri di depan pintu selama beberapa menit?


"Kenapa malah bengong, ya sudah saya masuk duluan!"


"Eh eh tunggu ara." menyusul darga yang tadi berjalan meninggalkannya.


Mama dan papa nya Darga sudah menunggu di ruang tamu.


"Wah mewah sekali."


Darga tersenyum karena tidak sengaja mendengar ucapan ara tadi.


Sudah ku duga pasti dia mau menikah denganku hanya karena harta ku.


Aku rasa sekarang tidak akan ada wanita yang tulus pada ku, jadi tidak salah jika aku banyak bermain-main dengan wanita.


Mama dan papa Darga yang dari tadi nunggu ara, menyambut ara dengan senyuman.


"Ehh ara udah datang ya." memegang tangan ara.


"Iya tante." senyum.


"Ara kok masih panggil tante, kan udah jadi mantu?"


"Jadi ara harus panggil apa?"


"Ya panggil mama juga gak papa."


"Nah gitu dong." mengelus kepala ara.


"Eh darga sekarang bawa ara ke kamar kalian, mungkin dia mau istirahat."


"Iya ma."


"Dah sekarang ara istirahat aja, kalau ara mau melihat-lihat isi rumah besok aja, ara kan pasti capek sekarang."


"Iya tan..eh maksud nya iya ma."


"Hahah ya udah ara sekarang istirahat aja."


"Iya ma."


"Ya udah kalau gitu Darga sama dia ke kamar ma."


"Iya nak."


"Ara ke kamar dulu ya ma, om..eh paa."


"hmm."


Berjalan menaiki tangga.


"Darga, ara mau nanya."


"Hmm."


"Apakah kita sekamar?"


"Ya iyalah, apa kata mama sama papa kalau tau kita gak sekamar."


"Darga nggak keberatan kan kalau ara sekamar sama darga?"


"Hmm."


"Oke deh kalau gitu."


Sampai di kamar.


Darga membuka pintu kamar tersebut. Dan ara terkejut karena kamar nya sangat luas, berbeda dengan kamar nya saat di rumah bibi nya.


"Astaga kamar nya bagus banget."


Darga hanya diam.


"Ah ara mau panggil Darga aga aja deh boleh nggak."


"Gak boleh."

__ADS_1


"Kenapa gak boleh?"


"Saya gak suka."


"Ya nggak papa aga nggak suka, tapi ara kan suka."


"Terserah kamu."


"Aga, ara mau nanya?"


"Hmm?"


"Itu ruangan apa?" nunjuk ruangan yang yang tertutup oleh pintu kaca."


"Itu ruang pakaian."


"Ha? Serius?"


"Hmm"


"Ara mau liat ara mau liat." berlari menuju ke ruangan tersebut.


"Aga buka pintu nya kayak gimana, ara gak ngerti?" melihat ke ara Darga.


"Geser aja."


Ara pun menggeser pintu tersebut.


Dan terbuka.


"Wah bagus banget."


Ruangan tersebut tersusun rapi, ada jas dan baju Darga yang rapi, sepatu, dasi, dan juga jam.


Dan ada sisi ruang yang lemari nya kosong, dan rak nya kosong.


"Aga, kenapa yang di sini kosong?"


"Itu tempat pakaian mu."


"Wah, kalau gitu mana koper ara mana? Ara mau langsung ngerapihin nya."


Darga pun memberikan koper yang dia pegang tadi ke ara.


"Aga mau bantuin gak?"


"Gak." pergi meninggalkan ara dan berbaring di tempat tidur, sambil memainkan handphone nya.


Dih kalau gak mau bantu ya udah, ara kan cuma nanya, siapa tau aja kan dia mau bantu.


Ara pun merapikan pakaian nya di dalam ruangan tersebut. Dan ara merasa heran kenapa seperti ada yang aneh.


Ahh pantesan ara ngerasa kayak ada yang aneh, ternyata pakaian ara kan gak sebagus pakaian aga, yang mahal mahal, liat pakaian aga bersih-bersih rapi, jas nya juga licin, kalau di bandingkan dengan pakaian ara, berbulu, kusam, warna nya pudar, ahh sudahlah walaupun kusam warna pudar tapi ara kan suka pakai nya.


Hari pun mulai gelap, dan ara memutuskan untuk mandi, setelah ara merapikan pakaian nya ara pun keluar dari ruangan tersebut, melihat darga yang berbaring di kasur sambil bermain handphone ara agak merasa terpesona.


Aga tu tampan, tapi sayang nya dingin, galak, dikit-dikit marah.


"Aga.."


"Hmm."


"Aga gak mau mandi? Langit udah mau gelap lo?"


"Nanti bentar lagi."


"Ya udah kalau gitu ara yang mandi duluan ya."


"Hmm." menjawab sambil memainkan handphone.


20 menit kemudian.


Ahhhh kenapa ara bisa lupa bawa handuk sama baju ganti, masa iya ara harus minta di ambilin aga, kan malu.


"Eh kamu di dalam kamar mandi tu mandi atau ngapain, lama bener, saya juga mau mandi."


Diam tidak ada yang menjawab


Kenapa tiba-tiba dia gak ngejawab seperti biasanya, kenapa dia diam.


"Eh kamu denger gak saya ngomong."


Tidak ada yang menjawab lagi.


Dan darga mendekatkan telinga nya ke pintu agar Darga bisa mendengar suara air, apakah ara masih mandi dan ara gak bisaa dengar kalau Darga bicara sama dia dari tadi.


"Eh kenapa kamu kayak nangis di dalam."


"Itu.."


"Itu apaan? Ngomong tu yang bener jangan buat saya marah."


"Aga.." bicara dengan nada lembut.


"Apa?"


"Aga..ara mau minta tolong, tapi malu."


"Minta tolong apa?"


"Aga bisa nggak ambilin baju ganti ara sama handuk, ara lupa bawa nya tadi."


Astaga kirain kenapa tu cewek nangis, ternyata hanya karena malu minta di ambilin baju ganti nya.


"Iya tunggu bentar."

__ADS_1


Darga pun berjalan ke ruang pakaian untuk mengambil baju ganti ara.


BERSAMBUNG...


__ADS_2