
Setelah pak mun dan ara makan, ara pun mau membersihkan meja makan yang tadi baru saja dia pakai makan bersama dengan pak mun, tapi pak mun langsung mencegah nya.
"Eh nona mau ngapain?"
"Ya mau bersihin lah pak."
"Gak usah nona, biar saya saja nona."
"Tapi saya sudah terbiasa pak kalau sudah makan di meja makan langsung membersihkan."
"Tapi nona bagaimana nanti kalau tuan muda tau kalau nona muda membersihkan meja makan, saya sebagai kepala pelayan di dapur bisa terkena masalah nona."
"Ah pak mun tenang saja, lagian kan saya sendiri yang mau membersihkan."
"Tolong jangan nona, mengertilah.."
"Sudah lah pak mun tidak apa-apa, pak mun tidak perlu khawatir."
Ara pun mengambil semua piring kotor yang tadi ada di meja makan dan langsung membawa nya dan mencuci nya.
"Ah tolong nona biarkan saya saja, ini merupakan tugas saya."
"Sudah saya bilang pak tidak apa-apa, sekarang kalau pak mun mau pergi istirahat pergilah, karena ini sudah malam, lagian semua nya juga sudah tidur berarti pak mun gak ada tugas lagi."
"Tapi nona belum tidur?"
"Saya setelah mencuci piring dan membersihkan dapur nanti saya akan langsung pergi tidur."
"Tapi bisakah nona membiarkan saja yang menyelesaikan ini."
"Tidak usah pak, biarkan saya saja, pak mun boleh pergi sekarang."
"Tapi..nona."
"Sudah lah pak mun jangan banyak membantah, bagaimana kalau tuan darga tau kalau pak mun tidak menuruti perintah saya."
"Ya sudah lah kalau begitu, saya permisi nona."
__ADS_1
"Iya pak mun." tersenyum.
Nona muda berbeda dengan kekasih tuan darga yang dulu...
Pak mun pun pergi meninggalkan dapur dan ara.
Setelah pak mun pergi, ara mencuci piring dan membersihkan dapur, dan setelah itu dia langsung ke kamar.
Membuka pintu kamar.
Ahh apakah dia sudah tidur, tetapi kenapa dia tidak mematikan lampu?
Ara pun mendekat ke tempat tidur, dan berdiri di samping darga, ara pun menyentuh lengan darga dengan jari telunjuk nya memastikan kalau darga sudah tidur atau belum.
"Aga..aga udah tidur ya?"
Darga tidak menjawab.
"Aga..aga kenapa gak matiin lampu?"
Tidak menjawab lagi.
Tidak menjawab lagi.
"Ya sudah kalau gitu ara matiin lampu sekarang ya?"
Tidak menjawab.
Ya sudahlah kalau begitu saya tidur saja.
Tapi saya tidur di mana?
Masa iya saya tidur bersama dengan dia di tempat tidur?
Atau saya tidur di sofa saja?
Ah gak papa lah tidur di tempat tidur yang sama dengan dia.
__ADS_1
Lagian kan kata bibi dia kan suami ara, ara gak perlu takut.
Tapi gimana kalau dia ngapa-ngapain ara pas ara tidur?
Ahh tidak mungkin, jangan kan mau nyentuh, dia di sentuh aja udah marah marah kayak apaan.
Dia gak bakalan ngelakuin hal itu ke ara.
Dari pada dia besok nanya ke ara kenapa ara tidur di sofa, terus ara mau jawab apa?
Masa iya jawab karena gak mau tidur bersama dengan dia di atas tempat tidur yang sama.
kan terlalu bar-bar.
Ara pun memutuskan untuk tidur di samping darga.
Dia pun naik ke atas tempat tidur, dan mematikan lampu.
Tapi sebelum dia memejamkan mata dia malah mendekat ke ara darga.
"Aga..aga udah beneran tidur kan?" melambaikan tangan nya di depan mata darga yang terpejam.
Darga tidak menjawab.
"Ah syukurlah sepertinya memang udah beneran tidur."
Ara pun tidur membelakangi darga, dan memejamkan matanya.
Astaga wanita ini benar-benar berani tidur di dekat saya.
Benar-benar gak tau malu.
Kalau saya tadi tidak menyuruhnya tidur di dekat saya dan marah marah dengannya nanti dia ngadu lagi sama bibi nya, terus bibi nya bilang ke mama, terus mama bilang ke papa, dan papa tau pasti marah ke saya.
Biarkan saja dia tidur bersama dengan saya di tempat tidur yang sama, tapi jangan pernah dia sedikit pun berpikir kalau saya akan menyentuhnya dan tergoda olehnya, karena itu tidak akan terjadi.
Setelah bergumam darga pun tertidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG...